Tantangan Koalisi Parpol Islam

Tinggal hitungan bulan, pemilu legislatif dan eksekutif akan digelar. Bulan-bulan ini kuda-kuda politik sudah dipersiapkan para tokoh yang hendak dijadikan calon presiden. Partai-partai politik menyiapkan diri untuk mengeruk simpati massa. Dan di antara wacana yang mutakhir berkembang adalah koalisi parpol Islam. Wacana itu gencar didukung oleh PPP.

Besarnya massa muslim adalah pertimbangan utama yang melatari munculnya wacana itu. Belum lama ini, Lembaga Survei Negara (LSN) mengadakan jajak pendapat tentang persetujuan terhadap koalisi parpol Islam. Dan hasilnya, sebanyak 45,6 persen menyetujui. Koalisi ini diharapkan dapat menyatukan suara umat Islam yang sebelumnya tersebar di berbagai parpol sekuler.

Pertimbangan lainnya, selain persatuan umat Islam, koalisi ini diinginkan bisa meneguhkan konsolidasi di tubuh umat Islam sendiri akan perlunya “mengaja” agama dari serbuan paham lain. Tampaknya paham “lain” itu diarahkan ke sekularisme—untuk tak dikatakan nasionalisme.

Menengok Sejarah

Catatan sejarah politik Indonesia menuliskan, sudah pernah ada fusi antara faksi-faksi politik Islam. Dan sayangnya, catatan itu lebih menunjukkan ketidakharmonisan hubungan yang terjadi dalam integrasi parpol Islam.

Dulu di tubuh Masyumi bergabung berbagai representasi kelompok Islam. Namun NU kemudian keluar karena aspirasi keislaman tradisionalnya tak tersalurkan lancar. Lalu NU menjadi parpol tersendiri, dan menjadi rival yang signifikan bagi parpol Islam lain.

Di masa Orde Baru, partai-partai Islam kembali berfusi ke dalam PPP. Tapi riak-riak di tubuh PPP bukannya tiada. Pada masa itu, gesekan NU dan Muhammadiyah lumayan panas, khususnya di level akar rumput. Lagipula, fusi ke dalam PPP terjadi akibat pemaksaan Orde Baru terkait penyederhanaan partai politik. Dengan kata lain, fusi itu tidak terjadi dengan “ikhlas”, sehingga tak bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan koalisi.

Di awal era Reformasi, koalisi parpol Islam pernah cukup berhasil dengan digagasnya Poros Tengah. Saat itu, Poros Tengah sukses mengegolkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden, dan Amien Rais sebagai ketua MPR. Namun, kesolidan Poros Tengah tak bertahan lama. Masing-masing parpol Islam, atau parpol berbasis massa umat Islam (muslim-based political parties), lebih tersibukkan oleh agendanya masing-masing.

Apalagi, partai-partai representasi ormas Islam terbesar negeri ini, yakni PPP, PKB, dan PAN, mendapat rivalitas sengit dari PKS—partai yang basisnya bukan ormas, melainkan gerakan tarbiyah. Juga, tak boleh dilupakan, fakta politik belum lama ini: PKNU yang bergabung ke Gerindra. Perpecahan bahkan terjadi di parpol yang basis massa utamanya dari kalangan Nahdliyin. Maka bagaimana mau menyatukan basis massa Islam dengan kalangan yang sedikit atau banyak punya perbedaan tajam?

Catatan ini menunjukkan, kalaupun koalisi parpol Islam jadi dibentuk, ia mesti dikukuhkan dengan konsolidasi yang solid. Ini tentu bukan pekerjaan mudah.

Tantangan

Beberapa tantangan lain akan kuat menghadang agenda koalisi ini. Pertama, sudah masyhur tersepakati, parpol Islam saat ini kekurangan figur. Karena itu, dalam konsolidasi antara parpol Islam harus mengerucutkan capresnya pada satu tokoh yang bisa diterima setiap corak keberagamaan masing-masing parpol Islam.

Kedua, tidak semua parpol (berbasis massa) Islam menyetujui gagasan koalisi ini. PKB dan PKS tampak tidak menyetujuinya. Alasannya, koalisi ini bisa mengurangi peluang masing-masing parpol untuk mengeruk massa mengambang (floating masses), selain juga merebut simpatisan parpol sekuler. Koalisi juga membuat upaya susah payah yang dilakukan masing-masing parpol Islam mesti di-share ke parpol lain. Bisa dibayangkan misalnya, manuver keterbukaan PKS—yang menargetkan masuk tiga besar—harus dibagi hasilnya dengan parpol Islam lainnya.

Ketiga, disadari atau tidak, koalisi parpol Islam kembali meruncingkan dikotomisasi Islam vis a vis nasionalis. Dikotomi semacam ini kerap tidak menyehatkan demokrasi sebab pertarungan politik akan menjadi pertarungan bernuansa sektarian: konstelasi politik menjadi pertarungan oposisi biner. Dikotomisasi ini juga membunuh usaha sebagian parpol Islam yang selama ini berupaya mencairkannya. Parpol Islam berusaha terbuka agar diterima kalangan nasionalis. Di sisi lain, parpol-parpol sekuler membuka sayap untuk menampung suara umat Islam.

Artinya, koalisi parpol Islam adalah pembekuan kembali dikotomi, dan ia justru kontraproduktif, bahkan jadi bumerang: bukannya suara umat Islam bisa disatukan, justru ada lebih banyak suara muslim yang lari ke parpol sekuler. Dan kita tahu, daya tarik beberapa figur dari beberapa parpol sekuler amat kuat.

Harus diakui, tingkat elektabilitas mutakhir parpol Islam menurun—dan karena itu mereka menggagas koalisi. Tapi, persoalaannya ialah bahwa turunnya elektabilitas itu adalah karena terjadi perenggangan politik (political disengagement) dari masing-masing massanya; yang mestinya bisa diharapkan loyalitasnya. Perenggangan politik ini terjadi, misalnya, di pihak Nahdliyin yang terbagi tak hanya ke PPP dan PKB, tapi juga ke parpol sekuler. Kelompok muslim perkotaan secara umum pun demikian: terbagi antara PAN dan PKS.

Perenggangan politik ini menyebabkan muncul banyak muslim yang jadi massa mengambang. Parpol Islam mestinya bisa kembali merebut hari mereka, bukan dengan koalisi tapi membangun sayap yang menampung kalangan sekuler. Jadi mestinya bukan mengeksklusifkan diri dengan koalisi. Sebab, massa mengambang itu rawan tertawan oleh parpol nasionalis-sekuler lainnya yang, selain bisa lebih banyak menampung kalangan dengan berbagai latar belakangnya, juga membuka “rumah khusus” untuk pemilih muslim.

Dikotomisasi Islam-nasionalis itu ke depan juga melahirkan kembali “politik aliran”. “Politik aliran” biasanya tak tumbuh subur dalam demokrasi yang kian terbuka. Sejak era reformasi, bandul politik publik kian bergerak semakin rasional dalam lanskap sekularisme. Rasionalisme pemilih akan cenderung mempertimbangkan para program dan solusi yang ditawarkan, bukan bendera yang dibawa parpol.

Artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat (05/12/2013)

Tagged: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s