Mandela dan Islam

Nelson Mandela telah wafat. Dunia berduka. Banyak tokoh dunia turut menghaturkan bela sungkawa. Bahkan para pemimpin negara yang bermusuhan dengan Afrika Selatan, Amerika misalnya, sementara melupakan perbedaan politik; ikut melepasnya ke peristirahatan terakhir.

Kiranya tiada yang memungkiri, sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa Mandela adalah orang baik. Jasanya besar. Perjuangannya melawan politik apartheid sungguh luar biasa. Jangan lupa, ia turut mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Orang seperti dia itu unik; mungkin hanya sedikit orang yang layak dibandingkan dengan dia dari segi isi dan cara memperjuangkan idealismenya: Mahatma Gandhi dan Bunda Theresa, misalnya.

Lalu, apa hubungan kepergian Mandela dengan Islam? Nelson Mandela bukan Muslim. Karena itu, ada sebagian, mungkin tak sedikit, dari kalangan Muslim yang memperdebatkan ihwal kemungkinan Mandela untuk masuk surga. Kita tahu, beberapa ayat menyebutkan bahwa perbuatan baik dari non-Muslim itu bagai debu yang beterbangan; tiada guna.

Sebagian ulama pernah ada yang menghimbau Mandela agar menjadi Muslim. Pada 2010, muballig terkenal dari Saudi, Dr Aidh al-Qarni, pernah menulis surat berisi ajakan kepada Mandela untuk memeluk Islam. Beserta surat itu, Al-Qarni menghadiahinya buku international best seller karyanya: La Tahzan. (Almesryoon, 08/12/2013)

Masih dai dari Saudi, Abdurrahman al-Barak, juga sempat melarang umat Islam mengungkapkan tarahhum (ucapan “semoga Allah merahmatinya”) atas wafatnya Mandela. Dai Saudi itu berpandangan segaris-seharfiah dengan Al-Quran: syirik dan kufur adalah kezaliman besar (inna asy-syirk la zhulm ‘azhim). Sebaik apapun seorang non-Muslim, kebaikannya tak setimpal untuk menambal dosa kufurnya. (arabic.cnn.com, 10/12/2013)

Perdebatan soal kemungkinan non-Muslim yang baik bisakah masuk surga ini memang pelik. Tulisan ini tak hendak memberikan pendapat tentang persoalan itu. Yang lebih penting bagi umat Islam ialah refleksi: apa yang bisa diambil sebagai inspirasi dari sosok Mandela untuk dunia Islam?

Nabi Muhammad pernah bekata, “Al-hikmah dhallah al-mu’min, ainama wajadaha akhadzaha” (Hikmah adalah barang hilang orang beriman; di manapun ia mendapatinya, ia mesti mengambilnya). Kebaikan adalah kebaikan, dari manapun dan dari siapapun.

Meski bukan Muslim, perjuangan anti-apartheid Mandela adalah islami. Tanpa bermaksud apologetik, Islam mengajarkan egalitarianisme: semua manusia, apapun etnis dan warna kulitnya, adalah sederajat dan hanya takwalah ukuran pembeda di hadapan Tuhan. Semua muballig hafal ayat tentang itu: inna akramakum ‘indallahi atqakum. Jadi, diskriminasi itu tidak islami. Mandela adalah ikon perjuangan anti-diskriminasi.

***

Ada banyak hal yang bisa digali dari Mandela. Selepas kepergiaannya, banyak quotes dari Mandela yang menyebar di berbagai jejaring, cetak maupun elektronik. Inspirasi dari jalan kehidupannya sudah diulas di banyak kolom media massa.

Di antara banyak hal itu, warisan penting Mandela, bagi saya, ialah spirit “forgiven but not forgotten”, maaf tanpa melupakan. Mandela ditekan rezim apartheid. Ia dipenjara 27 tahun, dari 1962 hingga 1990. Ini waktu yang jelas tidak singkat dan sedikit yang bisa sesabar itu. Pernah suatu kali pada 1985, Presiden Afsel Pieter Botha hendak membebaskan Mandela, tapi dengan syarat. Mandela menolaknya, sebab kebebasan dan persamaan derajat kulit hitam dan putih masih tak setara. Maka Mandela memilih kembali ke penjara.

Saat keluar dari penjara pada 1990, Mandela memulai dengan menemui sipir penjara yang dulu pernah mengencinginya. Mandela berkata padanya bahwa ia memaafkan kelakukan sang sipir dan memintanya untuk tak mengulangi perbuatan itu.

Sebakda keluar dari penjara, langkah Mandela sangat spektakuler. Mandela mengerem luapan kegembiraan dari para pendukungnya agar tak sampai jadi ledakan kebebasan yang kebablasan. Mandela menghendaki rekonsiliasi: maafkan! Ungkapan “we forgive, but not forget” jadi jargon yang mendunia.

Syukurlah, slogan itu efektif. Balas dendam kulit hitam terhadap kulit putih tak terjadi. “Kebebasan yang sesungguhnya,” kata Mandela, “adalah saat kita bisa menguasai syahwat kita dan semua orang bisa hidup bersama dengan kesempatan dan hak yang setara.”

Perlawanan terhadap politik apartheid berhasil. Yang luar biasa: perlawanan damai itu mengantarkan para harmoni sosial, dengan tingkat kekerasan yang minim. Perjuangan menuju rekonsiliasi ini hendaklah kita tiru, sebagai refleksi bagi dunia Islam.

***

Sikap “memaafkan tapi tak melupakan” ialah bijak nan dewasa, tapi tak mudah dilakukan. “Tanpa melupakan” berarti mengajak pihak yang zalim agar bersedia dengan kesadarannya sendiri untuk mengakui kesalahannya dan berjanji tak mengulanginya. “Memaafkan” ialah kesediaan untuk membuka lembaran baru, membiarkan yang lewat agar berlalu. “Memaafkan tapi tak melupakan” adalah perlawanan damai. Ia adalah antitesis balas dendam. Pemaafan adalah rukun pertama rekonsiliasi.

Al-Quran menyebut rekonsiliasi damai sebagai opsi terbaik peredam konflik (wash-shulhu khair), sebab pembalasan dendam akan cenderung melahirkan kekerasan baru nan tiada henti. Karena itu, dalam kasus pembunuhan, Al-Quran memang menyebutkan kisas sebagai hukuman, tapi pemaafan dari keluarga korban dipuji sebagai kebajikan. (fa’fu ‘anhum washfah; fashfah as-shafha al-jamil)

Indonesia sebenarnya pernah hendak melakukan spirit pemaafan demi rekonsiliasi itu. Terinspirasi pula dari Mandela, permohonan maaf Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kepada PKI adalah contoh terbaik akan hal itu—meski sebagian kalangan NU dan PKI sampai hari ini sulit menerimanya dengan lapang dada.

Yang jadi refleksi bagi dunia Islam kemudian, bisakah inspirasi dari Mandela ini diberdayakan untuk rekonsiliasi di internal umat Islam? Bisakah misalnya, spirit “pemaafan” ala Mandela ini menjadi inspirasi untuk meredam konflik Ahlussunnah-Syiah, misalnya? Atau antara mayoritas umat Islam dengan Ahmadiyah?

Umat Islam mudah menerima spirit egalitarianisme lintas etnis dan warna kulit. Orang-orang pertama yang mengakui kenabian Muhammad justru adalah para budak termarginalkan: Bilal al-Habsyi (Abbisinia) dan Shuhaib ar-Rumi. Namun, umat Islam hari ini masih kesulitan untuk menerima kesetaraan hak kepada yang berbeda keyakinan.

Sepertinya kita patut malu, sebab perjuangan anti-rasisme di belahan Afrika menggema dari sosok Mandela yang non-Muslim. Apalagi, dari beberapa bacaan yang saya dapati, Mandela, yang suka memakai batik itu, juga mendapat inspirasi dari Syaikh Yusuf al-Makassari, ulama Indonesia yang diasingkan oleh Belanda ke Afrika Selatan itu.

Tagged: , , , ,

One thought on “Mandela dan Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s