Kitab Suci, Keganjilan, dan Justifikasi

Apakah Islam adalah agama yang damai dan anti kekerasan? Beberapa pihak yang benci Islam, dengan mengacu pada ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi, berusaha membuktikan bahwa Islam pada dasarnya memang suka kekerasan.

Mereka membangun argumen yang, tentu agar otentis, berdasar pada sumber-sumber primer, baik sabda suci maupun catatan sejarah. Di antara argumen itu ialah “ayat-ayat perang” dalam Al-Quran yang, harus diakui, memang mencantumkan vonis-vonis bernada “bunuhlah” atau “perangilah” kepada non-Muslim, atau kafir. Misalnya, QS at-Taubah [9]:29:

“Perangilah orang-orang yang tak beriman kepada Allah dan hari kemudian; mereka tak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan rasul-Nya, dan tidak beragama dengan benar; yaitu orang yang diberi Alkitab, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh seraya tunduk.”

Ini adalah perintah memerangi Ahli Kitab. Tentu saja perintah perang di sini berarti fisik: membunuh. Dan kalau Ahli Kitab tak mau dibunuh, maka mereka mesti masuk Islam, atau kalau tidak, ya membayar jizyah.

Ayat-ayat yang bernada semacam itu tak sedikit. Bukalah Surah at-Taubah bagian awal. Atau carilah di software atau aplikasi Al-Quran anda dengan kata kunci “bunuhlah”, “perangilah”, atau kata-kata yang senada, niscaya kan anda temukan ayat-ayat itu.

Misal lainnya, yang dari hadis, ialah hadis ke-8 di al-Arba’in an-Nawawiyah (kitab yang biasanya jadi buku daras hadis untuk pemula) riwayat Bukhari-Muslim, bahwa Nabi Muhammad bersabda,

“Aku diperintahkan untuk memerangi orang-orang sampai mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, dan membayar zakat. Jika mereka melakukan ini, maka mereka telah menjaga darah dan hartanya, kecuali dengan hak Islam.”

Atau ambillah juga satu sampel dari catatan sejarah. Di masa Tahun Delegasi (‘Am al-Wufud), saat pemerintahan Islam sudah kuat di Madinah, Nabi Muhammad mengirim surat ke banyak pemimpin di sekitar Jazirah Arab. Semua isi surat itu kurang lebih sama: “Aslim taslam” (Islamlah [atau arti lain: menyerahlah], maka kau akan selamat). Dengan dibahasakan secara bebas, pesan inti surat-surat itu tak berbeda: kalau kamu tak masuk Islam, maka kami akan membunuhmu, kecuali kamu bersedia membayar jizyah. Jizyah adalah pajak kepala, sebagai suaka politik Islam kepada non-Muslim yang, di masa kekhilafahan selanjutnya, besarnya bisa sampai 5 kali lipat lebih besar dari pajak warga Muslim.

Data-data ini hampir saja akan melahirkan kesimpulan bahwa Islam memang disebarkan di bawah ancaman pedang, bukan? Agar seorang kafir tak dibunuh, pilihannya hanya dua: masuk Islam atau bayar kompensasi (jizyah) kepada “negara” Islam. Kalau saja ayat-ayat macam ini diterapkan secara harfiah di zaman sekarang, tentu menjadi benarlah dakwaan para pembenci Islam itu. Maka, tak pelak lagi, “keganjilan” di ayat-ayat itu mesti dicarikan alasan pembenarnya.

***

‘Ala kulli hal, ayat dan hadis semacam di atas memang menjadi makanan empuk bagi para pembenci Islam untuk menyerang Islam. Ayat dan hadits macam itulah yang disukai oleh, misalnya, Faithfreedom dan para pendukungnya.

Terhadap ayat-ayat “perang” semacam itu, biasanya Muslim akan mempertahankan benteng keyakinannya dengan mengajukan kontekstualisasi dalil—kalau tak boleh dikatakan apologi. Yakni, bahwa ayat-ayat itu lahir memang di zaman perang, apalagi kondisi Muslim saat itu, terutama Muhajirin, diusir dari kampung halamannya di Mekkah. Hukum Islam yang mengatur “pembalasan” terhadap para pengusir ini memang keras: bunuh! (waqtuluhum haitsu wajadtumuhum)

Konteks lainnya di zaman perang waktu itu, di dalam lanskap sistem sosial tribalisme (dan untuk mengerti hal ini bisa kita analogikan misalnya dengan cara hidup suku-suku primitif pedalaman dalam sengketa rebutan lahan buruan), pilihan yang terjadi memang hanya dua: membunuh atau dibunuh. Konteks lainnya, yang melatari turunya sebagian ayat-ayat “perang” itu, ialah Muslimin di Madinah dikhianati oleh Yahudi di Perang Ahzab.

Pendek kalimat, kontekstualisasi macam itu kemudian menghasilkan konklusi bahwa termaktubnya ayat-ayat perang dalam Al-Quran adalah wajar belaka: masa’ sudah dianiaya, diusir dari kampung halaman, dan dikhianati, kok diam saja? Sudah ditampar pipi kiri, masa’ malah mesti memberikan pipi kanan?

Kontekstualisasi semacam ini jelas merupakan justifikasi, dan memang watak dari semua umat beragama terhadap kitab sucinya agar tetap menjadi benar, adalah berupaya mencarikan pembenar diktum-diktum kitab sucinya. Ini biasa saja, dan bukan khas Islam. Di agama lain, Kristen misalnya, pun demikian.

Yang menjadi masalah adalah, bilamana ayat-ayat “keras” itu dibaca oleh pembaca awam, atau pembaca dari umat agama lain, atau yang tak bergama, terlebih mereka yang memang suka mencari celah-celah “salah” untuk menyerang Al-Quran. Tentu ayat-ayat macam itu jadi amunisi untuk menyerang keyakinan Muslim.

Kitab suci agama apapun, tak terkecuali Al-Quran, itu seperti karet. Ia bisu. Ia bisa ditarik ke manapun pembacanya menghendaki maknanya. Kata Sayyidina Ali, “Al-Quran maktub baina ad-daffatain, la yanthiq, wa innama yanthiqu bihi ar-rijal” (Al-Quran itu termaktub di antara dua sampul, ia tak bicara; dan hanya penafsirnyalah yang berbicara atasnya).

Dalam kasus Al-Quran, misalnya, kalau anda ingin mencari ayat-ayat yang keras di dalamnya, anda bisa mendapatkannya. Kalau anda hendak mencari ayat-ayat yang lembut di dalamnya, juga bisa. Ayat yang lembut itu misalnya adalah ayat-ayat yang bernada kasih, rahmat, seperti “rahmatan lil ‘alamin”, atau “fabima rahmatin minallahi linta lahum walaw kunta fazhzhan ghalizh al-qalbi lanfadhdhu min haulik” (Karena rahmat dari Allah kepadamu, Muhammad, kamu bersikap lembut pada mereka, sebab jika kamu bersikap kasar lagi keras hati, maka mereka akan lari darimu).

**

Nah, pertanyaan selanjutnya ialah: bisa tidak orang Islam bersikap sama saat membaca kitab agama lain? Sekali lagi, kita sudah tahu, kalau mau dicari-cari salahnya, kitab dan kepercayaan manapun itu bisa saja kita dapatkan celah-celahnya.

Sebagaimana Faithfreedom bisa memakai rujukan-rujukan primer Islam lalu mencari titik-titik “keras” darinya untuk menyerang Islam, sebagian orang Islam pun ada yang memakai ayat-ayat Alkitab yang rawan jadi amunisi untuk menyerang Kristen. Inilah yang terjadi pada, misalnya, gaya argumentasi Ahmed Deedat dan para pendukungnya. Pola argumentasi Deedat dalam menyerang Kristen kurang lebih sama dengan cara Faithfreedom menyerang Islam.

Buku-buku Deedat banyak berisi argumen-argumen untuk menyerang Kristen. Deedat punya buku saku kecil, Combat Kit, yang isinya adalah puluhan nukilan ayat Alkitab yang berguna untuk menyerang keyakinan Kristen. Caranya ialah: menukil ayat-ayat di Alkitab yang kontradiktif, atau bahkan yang “mesum” (dan perbuatan tak senonoh ini dilakukan oleh figur-figur terhormat yang dalam Islam mereka adalah nabi). Bahkan, juga ada ayat di Alkitab yang mengajarkan kekerasan. Misalnya, Injil Matius 10:34, “Jangan kamu menyangka bahwa aku (Yesus) datang untuk membawa damai di atas bumi; aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang!”

Pada intinya, argumen-argumen itu akan bermuara pada kesimpulan yang hendak dituju: bahwa kitab suci seperti Alkitab ini tidak mungkin bikinan Tuhan.

Saya tidak tahu secara detil bagaimana apologi dan justifikasi yang diajukan pihak Kristen untuk menanggapi argumen-argumen ala Deedat itu. Tapi saya yakin itu ada, sebagaimana Muslim pun mengajukan dalih kontekstualisasi (atau apologi?) terhadap ayat-ayat “perang” dalam Al-Quran.

Watak kaum beragama selalu begitu: agar ajarannya benar, tak bertentangan dengan nalar, dan terus menzaman, maka tafsir-tafsir baru dan kontekstualisasi mesti dilakukan. Tanpa hal ini, niscaya umatnya mulai mempertanyakan diktum agamanya, jadi skeptis, bahkan tak lagi percaya pada agamanya.

***

Poin utama tulisan ini, sebagaimana sudah diutarakan di atas, tak lain adalah pesan bahwa kitab suci itu kini sudah jadi tulisan bisu yang, ibarat karet, bisa ditarik tafsirnya untuk mendukung prasuposisi atau kepentingan pembacanya. Saya kira inipun berlaku di semua kitab suci. Mau cari ayat yang keras, bisa. Mau cari ayat yang lembut, bisa.

Maka yang penting kemudian dalam membaca kitab suci, baik milik sendiri maupun kepunyaan agama lain, pertama-tama adalah niat membacanya: mau simpatik atau mencari-cari kesalahannya. Niat membaca itulah yang menentukan bagaimana hasil tafsirnya.

Usulan saya, bacalah kitab suci, bukan hanya punya sendiri, melainkan juga kitab agama lain, dengan cara yang simpatik! Tanyakan tafsirnya dari tangan pertama atau orang yang memiliki otoritas tafsir di agama itu. Dengan ini, kita bisa lebih rendah hati memandang pemeluk kepercayaan yang berbeda, bahkan bisa mendapat perspektif-perspektif baru yang kadang bisa memperkaya keberagamaan kita.

 

 

Tagged: , , , , ,

3 thoughts on “Kitab Suci, Keganjilan, dan Justifikasi

  1. swastika 20/04/2014 pukul 11:41 Reply

    setelah banyak saya baca postingan di blog anda, saya sedikit merasakan pencerahan, ada saja orang yg beragama islam yang masih bisa berpikir rasional seperti anda saya salut🙂

    Suka

  2. Diding Zainal 14/06/2015 pukul 17:07 Reply

    blog ini menjadi koleksi perpustakaan virtual sy, terima kasih semoga Rahmat Allah selalu tercurahkan terhadap anda sekeluarga.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s