“Sains Islam” itu Tidak Ada

“Sains Islam”, “Sains Kristen”, “Sains Yahudi”, dan sebagainya, itu tidak ada! Kalaupun frasa itu ada dan digunakan, ia kerap bermakna ideologis dan politis belaka. Pada makna hakikinya, “sains agama” itu tidak ada, sebab watak dasar keduanya memang berbeda.

Menyandingkan kata “sains” dengan agama adalah oxymoron, alias contradictio in terminis. Frasa “sains agama” itu adalah gabungan kata yang kontradiktif di dalam dirinya sendiri. (Note: Oxymoron itu seperti “es cair”, “pakar amatir”, “duka yang membahagiakan”, “kebetulan yang disengaja”, dlsb.)

Sains selalu bekerja berdasar bukti-bukti empiris. Klaim saintifik hanya bisa benar atau absah jika dan hanya jika ada bukti empiris (empirical evidence). Epistemologi sains adalah epistemologi evidensialis. Sains juga tak bisa dianggap absolut, dan mutlak benar melintasi ruang dan waktu. Teori-teori sains selalu terbuka untuk dikaji ulang, dikoreksi, bahkan dianggap batal kalau ditemukan bukti-bukti empiris baru yang tegas menegasikan teori sebelumnya.

Ini berbeda dengan agama yang kebenarannya didasarkan pada klaim kitab suci. Kitab suci adalah wahyu ilahi. Informasi di dalamnya adalah firman Tuhan. Ia benar dengan sendirinya. Kebenarannya sudah dijamin oleh Tuhan. Agama tak perlu bukti empiris. Kebenaran diktum-diktum agama adalah self-evident (terbukti dengan dirinya sendiri). Epistemologi yang bekerja dalam agama adalah epistemologi revelatif-fideis (revelationem: wahyu; fidem: kepercayaan). [Note: Buku terbaik yang pernah saya baca mengenai perbandingan epistemologi sains dan agama, yang berbahasa Indonesia, adalah buku Beragama dalam Era Sains Modern karya Ioanes Rakhmat]

Ambil contoh, kisah Nabi Yunus. Agama memercayai bahwa Nabi Yunus bisa hidup di perut ikan Nun selama 3 hari, menurut Perjanjian Lama, atau 40 hari, menurut riwayat Thabaqat Ibn Sa’d. Kisah ini benar sebab begitulah wahyu menceritakannya. Tapi tidak demikian bagi sains. Teori sains jelas: manusia tak bisa hidup tanpa oksigen, apalagi kok sampai bisa berdoa di dalam perut ikan. Teori sains ini tak bisa terbantah sebelum ada bukti empiris bahwa ada manusia yang bisa hidup tanpa oksigen.

Watak agama juga niscaya absolut dan diabsolutkan. Menggugurkan diktum agama rentan berakibat pada runtuhnya klaim kebenaran agama itu sendiri. Sedangkan sains tidak demikian. Sains kerap bermula dari skeptisisme, tapi skeptisisme yang membangunkan rasa keingintahuan untuk meneliti. Sains terbuka pada bukti baru. Sedangkan agama cenderung khawatir pada bukti-bukti empiris yang membantah ajarannya. Agama bahkan cenderung memberangus rasa ingin tahu dan melarang umatnya mempertanyakan kebenaran absolut itu.

Yang menarik adalah, umat beragama kerap bergembira saat sains mendapatkan penemuan ilmiah yang membenarkan, atau setidaknya bisa dijadikan bahan pendukung, terhadap klaim-klaim teologisnya. Kegembiraan ini, diakui atau tidak, sebenarnya menyiratkan bahwa sempat terbersit di dalam diri umat beragama akan keraguan pada kisah-kisah mukjizat di kitab suci.

Ambil contoh tentang fenomena wahyu. Bagaimana proses wahyu terjadi? Bagaimana pesan Tuhan disampaikan ke pikiran manusia? Sebagian umat beragama mengambil analogi dengan gelombang elektromagnetik yang bisa menyampaikan pesan suara atau teks lewat radio atau handphone. Sebagian umat beragama gembira: “Inilah fenomena yang bisa menjelaskan bagaimana proses terjadinya wahyu!”

Atau, untuk membuktikan bahwa kisah-kisah di kitab suci seperti banjir Nuh misalnya, atau penyeberangan Musa dan bangsa Israel dengan membelah Laut Merah, atau Nabi Muhammad yang membelah bulan, dipakailah penemuan jejak-jejak antropologis dan sejarah untuk mendukung kebenaran kisah itu.

Padahal, watak agama mestinya tak perlu pakai penemuan ilmiah sains. Tanpa penemuan sains pun, umat beragama mesti percaya bahwa proses wahyu dan kisah-kisah mukjizat yang melawan hukum alam itu benar adanya. Bukankah watak iman memang demikian? Gembira dengan penemuan sains ini, sekali lagi, menyiratkan ada sebersit keraguan akan kebenaran mukjizat-mukjizat itu. Jika dikatakan bahwa iman mereka bertambah tersebab ditemukan bukti-bukti saintifik yang mendukung klaim kitab suci, bukankah itu berarti bahwa sebelumnya iman mereka kurang?

Umat beragama kini bekerja keras melakukan penelitian untuk mencari bukti-bukti ilmiah agar klaim kitab sucinya benar. Di tubuh umat Islam sendiri misalnya, ada proyek “Islamisasi sains”—mungkin juga ada “Kristenisasi sains” atau “Yahudisasi sains”; sebuah proyek yang cenderung bermuatan unsur ideologis, ketimbang murni kajian sains.

Proyek-proyek macam itu, diakui atau tidak, sesungguhnya akan berakibat cukup fatal pada agama itu sendiri. Di sana akan terjadi—yang hari ini kerap disebut dengan istilah—“cocokologi”. Cocokologi: mencocok-cocokkan tafsiran agama dengan penemuan sains. Walhasil, yang terjadi ialah agama “dipaksa” agar sesuai dengan hasil kajian sains. Agama bisa berubah, atau diubah, agar mengikuti klaim-klaim saintifik. Bukankah ini akan merubuhkan jati diri agama itu sendiri?

Agamaisasi sains juga sangat rentan bertabrakan dengan postulat-postulat agama itu sendiri. Aksioma agama itu adalah jatidirinya dan membantahnya sama saja dengan menafikan kebenaran agama itu sendiri. Aksioma agama itu, antara lain ialah, bahwa Tuhan itu ada! Sementara, sains dengan amat terbuka menerima klaim bahwa Tuhan tidak ada, atau sekedar mungkin ada. Itu, sekali lagi, sebab sains hanya mendasarkan kebenarannya pada bukti empiris.

Proyek agamaisasi sains sering diarahkan pada muara konklusi bahwa “semua keajaiban alam ini tidak mungkin terjadi tanpa intervensi tangan Tuhan!”—suatu klaim yang sebenarnya bisa juga dirubuhkan oleh kajian-kajian saintifik sendiri.

Biarlah agama bekerja di wilayahnya. Demikian pula dengan sains. Sebab agama dan sains memiliki watak dasar yang berbeda. “Sains agama” adalah frasa yang kontradiktif di dalam dirinya sendiri.

Tagged: , , , , , , , , ,

8 thoughts on ““Sains Islam” itu Tidak Ada

  1. Taimu Mambu CLaaluw 04/01/2014 pukul 17:41 Reply

    Diakui memang lumayan banyak yang terjebak pada pseudo-science macam itu mas. Mereka melakukan rasionalisasi kejadian2 super rasio dari teks agama. Namun bukan berarti pula agama benar2 terpisah dari sains. Contoh anjuran Nabi tentang penggunaan bekam. Meski belum tentu itu murni lahir dari Islam, namun banyak orang sekarang yang mengenalnya dari sejarah/hadits Nabi. Sains Islam itu memang ada, tapi tidak untuk diada-adakan.

    Suka

    • azisanwarfachrudin 04/01/2014 pukul 17:52 Reply

      Memang bekam murni dari hadits ya? Kalaupun iya, itu tetap ndak bisa disebut “sains Islam”. Agar bekam itu jadi pengobatan yg baik, ya tetap butuh dibuktikan scr empiris dulu, kan? Titik persoalannya itu di epistemologinya.

      Suka

  2. Alkhamdulillah 04/01/2014 pukul 19:55 Reply

    saya kira, pada dasarnya ini mengenai istilah yang kurang tepat, apa begitu?

    Suka

  3. Abi Rahman™ (@Abiiiiii_) 05/01/2014 pukul 11:49 Reply

    Sains Islam betul ga ada. Dan betul jg nantinya bakal (atau sudah?) muncul sains Kristen, Buddha, Kejawen, Sedulur-Sikep, dll. Ini bahasa politik kebenaran saja yg biasanya digunakan sebagai klaim bahwa sains scra formal telah sesuai dgn sumber agama, Quran dan Hadits dalam Islam.

    Menurut sy, yg mendekati-benar adalah sains islami, dalam arti secara moral Islam mendorong “sains dikembangkan untuk kepentingan pengetahuan-ilmiah (science for science) dan sains didayagunakan untuk kepentingan manusia dan alam (science for humand-kind and nature), yg nilai aksiologisnya sesuai dgn pesan2 universal Islam dalam Quran dan Hadits tadi.

    Jadi, yg pertama paradigma formalis, dan yg kedua paradigma subtantif. Ada jg paradigma integral, yg sy kira hanya berupa smcam himbauan paradigmatis, bukan sbg alternatif.

    Dalam wacana filsafat-sains pun terjadi perebutan terma ‘sains’ itu sendiri. Yg satu bilang sains ya hard-science, positif, teramati, terukur, blah blah.. Yang lain bilang, sains tidak boleh direduksi oleh sains-alam/fisik, krn masih ada sains-sosial dan sains-kemanusiaan (humaniora). Jika itu terjadi, maka Habermas menyebutnya sains-dogmatis. Ini spt mengingatkan kita kembali betapa mengerikannya istilah “dogma” dalam sejarah Islam.
    #cmiiw

    Suka

    • azisanwarfachrudin 05/01/2014 pukul 18:01 Reply

      Sip. Maksudku dengan “sains” dalam tulisan di atas itu ya hard science itu. “Sains Islam” itu adanya cuma ada dalam klaim ideologis saja. Kalau sains yang didorong oleh etika/moral Islam (juga agama apapun, saya kira) jelas ada, tapi ndak bisa itu disebut “sains agama.🙂

      Suka

  4. […] ~ Tulisan di atas saya buat setelah menamatkan buku Beragama dalam Era Sains Modern (Pustaka Surya Daun, 2013). Buku setebal 500 halaman ini karya Pak Ioanes Rakhmat dan argumen-argumen mendetail tentang contoh-contoh yang saya utarakan di atas bisa dibaca melimpah di buku itu. Baca pula tulisan saya sebelumnya terkait tema ini di blog ini dalam tulisan “Sains Islam itu Tidak Ada”. […]

    Suka

  5. Muhamad Iqbal 25/03/2016 pukul 14:15 Reply

    Dear Azis, mengenai hal ini saya pengen diskusi mengenai science dan agama, bagaimana hubungannya, karena saya menemukan fakta science yang di dasari ayat Quran, enaknya bisa bia telpon kalau boleh.

    Suka

  6. ziya 03/05/2016 pukul 16:47 Reply

    sains dan agama tak bisa dipisahkan. karena keduanya saling terkait. sains berasal dari agama dan agama adalah induk dari sains. ketika terjadi desakralisasi ilmu, Tuhan bagaikan pembuat jam tangan yang ketika Dia telah selesai membuat jam tangan, Dia akan pensiun. jika ilmu pengetahuan telah terpisah dari agama maka akan muncul gagasan kepensiunan Tuhan. interaksi antara islam dan sains melahirkan tiga pola yaitu islamisasi sains, saintifikasi islam, dan sains islam. islamisasi sains merupakan proyek pengislaman sains, dimana didalamnya kita mencari sebuah kebenaran. islamisasi sains bukanlah mencari suatu fenomena yang bisa dikaitkan dengan Al-qur’an yang bisa membenarkan Al-qur’an karena sesungguhnya Al-qur’an itu benar, islamisasi sains yang sesungguhnya adalah kebalikan dari itu semua. jika kita mencari suatu fenomena yang bisa membenarkan Al-qur’an itu bukanlah islamisasi sains melainkan saintifikasi islam, dan saintifikasi islam ini sangat idak dianjurkan untuk dilakukan karena percuma kita melakukannya, kita bagaikan menggarami air laut jika kita melakukan saintifikasi islam karena apa yang ada dalam Al-qur’an itu sudah benar dan kebenaran itu sudah tak perlu lagi di uji.jika sains dan agama dipisahkan maka akan lahirlah sains modern seperti ini. sains yang berkembang saat ini masih memiliki banyak celah kesalahan. contoh : selama ini kebanyakan orang percaya bahwa materi itu tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan, sedangkan kebanyakan orang disisi lain juga percaya bahwa kiamat itu ada, kiamat adalah hancurnya alam semesta yang salah satu penyusunnya adalah materi. jika banyak orang percaya akan adanya hari kiamat tapi kenapa banyak orang juga percaya bahwa materi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, padahal sudah jelas” salah satu penyusun alam semesta itu materi ? inilah salah satu akibatnya jika sains harus terpisah dari agama.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s