Nasib Ikhwan Mesir

Pemerintahan sementara Mesir yang didukung militer menatapkan kelompok Al-Ikhwan al-Muslimun sebagai organisasi teroris. Langkah ini menyusul insiden sehari sebelumnya: bom bunuh diri di Mansoura yang menewaskan sedikitnya 16 orang dan melukai tak kurang dari 140 orang.

Padahal, kelompok Anshar Bayt al-Maqdis (yang berafiliasi dengan Al-Qaeda) mengaku bertanggungjawab atas insiden bom itu. Anehnya, yang dilabeli teroris adalah Ikhwan. Pemerintah Mesir sudah sejak lama hendak memberikan label teroris itu ke Ikhwan. Bisa dipahami, insiden itu adalah coincidence yang kemudian menjadi justifikasi bagi pemerintah untuk memberi cap teroris itu.

Dua bulan lalu, Ikhwan sudah diputuskan sebagai organisasi terlarang oleh Pengadilan Kairo. Usulan pembubaran Ikhwan itu bermula dari partai sosialis-Nasseris yang selama ini jadi seteru politik Ikhwan, Partai Tajammu’. PM Mesir Hazem al-Beblawi pun mengajukan usul serupa.

Di antara dakwaannya: Ikhwan bertanggungjawab atas provokasi demo massif berhari-hari. Demo pro-“legitimasi” dan anti-kudeta itu menyebabkan krisis politik dan ekonomi tak bisa segera diatasi dan peta jalan transisi tak bisa segera dilakukan.

Jadi, label kepada Ikhwan sudah double: organisasi terlarang & teroris sekaligs. Seluruh aset Ikhwan akan dibekukan. Pihak-pihak yang terbukti memberi bantuan kepada Ikhwan akan dikenai hukuman.

Ikhwan sendiri tampaknya tak kaget menanggapi keputusan itu. Ikhwan memperingatkan militer bahwa apa yang dilakukan militer pada mereka adalah melanjutkan “tradisi para pendahulu” militer.

Klaim Ikhwan itu tak bisa diabaikan. Ikhwan memang sudah biasa ditekan oleh rezim yang berkuasa. Sudah 85 tahun sejak Ikhwan berdiri, dan penangkapan, pemenjaraan, serta pembubaran adalah hal yang “lumrah” terjadi pada Ikhwan.

Sdah beberapa dekade berlalu, sedang Ikhwan sudah makan asam garam represi rezim. Represi rezim militer Mesir itu justru membawa “berkah” bagi Ikhwan sendiri. Ikhwan mampu membangun kekuatan yang cukup mengakar di lapisan bawah masyarakat Mesir. Inilah faktor utama yang turut memudahkan politik Ikhwan menang dalam pemilu pascatumbangnya Mubarak.

Ironi Pembubaran

Pembubaran dan pelabelan Ikhwan sebagai gerakan teroris itu menyisakan ironi. Pertama, dengan pembubaran Ikhwan, kaum militer mengkhinati prinsip demokrasi. Kaum liberal Mesir mengkhianati prinsip liberalisme itu sendiri: yakni bersedia mengakui eksistensi faksi politik yang berbeda.

Kedua, dampak negatif dari pembubaran adalah ia justru rawan menyebabkan Ikhwan menjadi makin ekstrem dan radikal. Ketika kanal politik tak lagi bisa menjadi jalur aspirasi, apalagi sudah menang dalam pemilu demokratis pun tetap diusir dan dicurigai, tiada pilihan lain kecuali lewat “parlemen jalanan”.

Rivalitas politik dalam demokrasi pun tak lagi sehat. Sebagaimana yang sudah-sudah, bila pembubaran itu diresmikan, Ikhwan akan menjadi gerakan bawah tanah. Tidak bisa dilupakan, bahwa kekuatan politik Ikhwan cukup besar—untuk tak dikatakan dominan di level akar rumput. Kemenangan di pemilu legislatif dan besarnya massa demo anti-kudeta adalah salah satu buktinya.

Pun demikian, radikalisasi Ikhwan bukanlah pilihan nasib yang diharapkan. Seandainya pun pembubaran itu tak bisa dielakkan, Ikhwan diharap tetap melakukan moderasi. Pilihan ini memang tak mudah dilakukan Ikhwan, apalagi Ikhwan sudah terlanjur masuk daftar hitam. Pilihan ini secara perlahan akan menimbulkan friksi di tubuh Ikhwan sendiri, tapi bisa jadi akan membuat seteru politiknya mau membuka diri pada Ikhwan.

Fakta yang tak bisa diabaikan Ikhwan adalah kekuatan politik seterunya kini kian besar dan sudah mengambil pelajaran dan pengalaman dari pemerintahan Mursi. Apalagi, legitimasi keislaman Ikhwan dihadang wibawa Al-Azhar. Di samping itu, Ikhwan bahkan tak punya sekutu dekat yang benar-benar setia, sampai-sampai faksi Salafi pun mendurhakainya di masa-masa krisis.

Namun Ikhwan masih bisa menatap optimisme. Yakni, dengan bercermin pada kasus Partai Refah di Turki yang, setelah dilarang pada 1990-an, sebagian kadernya melakukan pergerakan yang sedikit banyak berbeda, lalu bermetamorfosis menjadi Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa lebih dari satu dekade. Kasus pembubaran faksi politik Islamis di Mesir dan Turki ini mirip, dan sama-sama diperangi oleh kaum militer di negerinya masing-masing.

~ Artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat (06/01/2014)

Tagged: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s