3 Tahun Revolusi Mesir

Tiga tahun sudah sejak Revolusi 25 Januari 2011, dan Mesir masih bergejolak. Mesir belum menemukan bentuk transisi politik yang memuaskan semua pihak.

Sejak kudeta Juli 2013 lalu, Mesir bersimbah darah. Al-Ikhwan al-Muslimun menjadi pesakitan. Pemimpin Ikhwan dipenjara. Ikhwan dibubarkan, dianggap organisasi terlarang, bahkan teroris. Ikhwan tampak mengalami defisit legitimasi di mata rakyat Mesir sendiri. Dan rezim Mesir kini yang secara de facto dikangkangi militer dengan tanpa ampun membabat semua oposan yang mencoba menghalangi road map transisi—tak terkecuali kaum muda tamarod sendiri.

Peringatan 3 tahun revolusi yang diadakan sejak Jumat lalu juga masih memakan korban. Kementerian Kesehatan Mesir menyatakan sedikitnya 49 orang tewas dalam demo itu, sedangkan ratusan lainnya luka-luka. Rezim militer As-Sisi melarang protes antikudeta yang sebagian besar dimotori Ikhwan. Selain Ikhwan, sebenarnya rezim As-Sisi kini juga dilawan kaum muda revolusi-prodemokrasi. Kaum muda penggerak tamarrod tampak dikecewakan oleh militer.

Kiranya tak ragu lagi untuk dikatakan bahwa As-Sisi kini telah menjadi diktator baru—sama dengan Mubarak. Itu artinya, revolusi 25 Januari belum berhasil, hampir tiada pencapaian berarti. Kalaupun ada pencapaian yang diporelah sejak revolusi Mesir 2011, itu hanya sedikit saja; yakni dalam perubahan konstitusi.

Referendum konstitusi yang diadakan pertengahan Januari ini berhasil memperoleh suara setuju (muwafiq) sebanyak 98,1 persen. Sisanya menolak. Partisipasi pemilih sebanyak 38,6 persen; sekitar 20 juta dari 53 juta pemilih terdaftar.

Tingkat partisipasi dalam referendum konstitusi ini lebih banyak daripada referendum konstitusi 2012 yang diadakan di era Mursi. Pada referendum konstitusi 2012, partisipasi pemilih hanya 32 persen. Itupun hanya 63 persen yang menyatakan persetujuan. Walhasil, tingkat persetujuan terhadap konstitusi 2014 hampir dua kali lipat ketimbang persetujuan pada konstitusi 2012.

Bagi pihak-pihak kontra politik Islamis, besarnya jumlah persetujuan terhadap konstitusi 2014 ini berarti legitimasi kaum Islamis sudah benar-benar defisit. Meski rezim sementara kini adalah militer-diktator, itu dipandang masih lebih baik ketimbang masa Mursi—paling tidak, sekali lagi, dengan indikasi besarnya persetujuan terhadap konstitusi yang baru.

Konstitusi yang baru ini relatif lebih demokratis dari konstitusi sebelumnya. Masa jabatan presiden dibatasi maksimal dua periode. Presiden tak bisa membubarkan parlemen. Presiden juga tak bisa memutuskan sebuah referendum kecuali atas persetujuan parlemen. Agama dilarang dijadikan alat untuk meraih kekuasaan oleh partai politik. Republik Mesir dinyatakan sebagai bukan negara teokrasi, melainkan negara madani (sipil)—meski ini agak paradoks juga sebab sekarang militer amat kuasa.

Masa Depan

Ke depan demokrasi Mesir masih menghadapi tantangan berat, bahkan mencemaskan. Pertama, kekhawatiran datang dari munculnya desas-desus bahwa As-Sisi akan mencalonkan diri sebagai presiden. Meski isu ini untuk sementara ditampik oleh As-Sisi, kemungkinan ke arah itu cukup besar.

Apalagi, rezim sementara Mesir kini mengeluarkan putusan bahwa pemilu presiden didahulukan atas pemilu parlemen. Bukan tak mungkin, As-Sisi nanti akan seperti Mubarak: tiba-tiba jadi capres di tikungan akhir menjelang pemilu presiden. Diakui atau tidak, “modal” politik As-Sisi kini cukup besar. As-Sisi punya banyak dukungan politik termasuk, antara lain, dari Al-Azhar.

Itu artinya, Mesir rawan mengalami neo-militerisme. Disebut “neo”, sebab militerisme kali ini—jika As-Sisi benar-benar jadi presiden—adalah hasil “kudeta” yang didukung lembaga agama terhadap pemimpin demokratis yang sah. Mubarakisme masih menjadi ancaman. Tugas kaum prodemokrasi masih berat.

Kedua, rekonsilasi tampaknya belum dan masih sulit tercapai. Ikhwan belum terima. Para pendukung Mursi seolah tak takut melayang nyawanya: terus memprotes pemerintahan hasil kudeta. Friksi tajam terjadi di level horisontal pula: antara Islami-Ikhwani dengan kaum muda prodemokrasi.

Dalam kondisi yang demikian, tampaknya masih butuh waktu panjang bagi Mesir untuk sampai pada rekonsiliasi nasional yang utuh; sampai masih-masing dari ketiga pihak (pendukung Ikhwan, militer, dan kaum muda prodemokrasi) bisa legawa dan duduk bersama.

Persoalan ini genting sekali. Sorotan terutama tertuju pada Ikhwan yang rencananya hingga 18 hari ke depan akan terus berdemo; meniru kala protes penumbangan Mubarak. Demo yang terus-menerus dari Ikhwan menyebabkan road map transisi tak mulus dijalankan, bahkan mundur ke belakang. Ikhwan tampak ingin menjadi negara di dalam negara.

Ketiga, tidak ada opsi lain agar jalan ke demokrasi bisa dipancangkan—bila memang itu yang dikehendaki—kecuali dengan penyatuan tujan perjuangan, antara kaum muda prodemokrasi dengan Islamis. Atau, opsi lainnnya, As-Sisi lah yang mesti tahu diri. As-Sisi boleh saja menjadi capres, tentu dengan syarat ia melepas jabatan militernya, dan jadi capres sebagaimana orang sipil.

Tentu saja rakyat Mesir tak mengharapkan rezim baru yang nanti memerintah Mesir lagi-lagi adalah kaum militer. Apalagi, kaum militer mendapat tambahan modal legitimasi dan privilege yang dikonfirmasi oleh konstitusi yang baru.

Sayangnya, beberapa analis menyebutkan sejumlah pesimisme. Menurut kolumnis As-Sharq al-Awsat, Muhammad Shalah, Mesir seolah sudah tertakdirkan untuk terus diperintah “Firaun-militer”. Sejak masa Gamal Abdul Nasser, bahkan sebelumnya pula, Mesir seakan-akan tak boleh jadi negara sipil-demokratis, melainkan mesti diperintah dengan tangan besi. Militer versus Islamis hampir jadi suratan takdir.

Benarkan pesimisme itu? Sejarah yang akan membuktikan benar-salahnya. Tugas kaum muda Mesir amat berat untuk merubah “suratan takdir” yang sudah menimpa sebagian besar sejarah Mesir modern itu. Untuk jangka waktu singkat ke depan, Mesir tampaknya masih akan diharu-biru pertumpahan darah. Kekhawatirannya ialah, jangan-jangan memang harus ada “tumbal” demokrasi agar demokrasi bisa subuh di Negeri Kinanah itu.

~ Artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, 03/02/2014

Tagged: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s