Agama dalam “Ancaman” Sains

Di masa depan, “ancaman” utama terhadap agama bukanlah isme-isme hasil penalaran spekulatif filsafat, tapi sains. Proposisi dasar dalam pertentangan agama versus sains masih sama dan simpel: agama dan sains bekerja dalam epistemologi yang berbeda. Epistemologi agama adalah wahyu Tuhan (revelatif-fideis), sedangkan epistemologi sains adalah bukti empiris (empirical evidence).

Problem mendasarnya: temuan-temuan sains modern kini semakin menyerang diktum-postulat-aksioma agama. Kian kemari, sains makin menyerobot wilayah-wilayah yang dulu merupakan monopoli agama. Semakin banyak kawasan yang “diserang” itu sehingga nanti tidak ada, atau setidaknya nyaris tiada, yang tersisa untuk agama.

Saya bukan orang yang mempelajari sains modern secara mendalam. Wawasan saya tentang sains terbatas pada beberapa artikel dan buku yang pernah saya baca. Tapi marilah kita ambil beberapa contoh “penyerobotan” sains terhadap kawasan agama berikut ini untuk mendapat gambaran mula-mula.

Contoh pertama ialah persoalan yang mungkin dirasa klise, tapi ini tetap penting dan relevan untuk tema ini: teori evolusi versus kisah Adam. Semua agama teistik, sekurang-kurangnya yang berada dalam keluarga Abrahamic Religions, meyakini Adam adalah manusia pertama. Karena itu, susah sekali bagi penganut Yahudi-Kristen-Islam, setidaknya mereka yang meyakini diktum kitab suci secara harfiah, untuk membenarkan teori evolusi.

Teori evolusi, berdasar bukti-bukti arkeologis dan genetis yang melimpah, menyatakan bahwa manusia (homo sapiens) pertama ada di Afrika pada 300 ribu tahun lalu. Sedangkan Adam—katakanlah dengan perkiraan berdasar sumber-sumber riwayat agama teistik—hidup tak lebih dari 10 ribu tahun lalu. (Dalam rentang waktu 290 ribu itu adakah agama [samawi]?)

Agamawan biasanya menolak teori evolusi ini. Mereka mengajukan teori kreasionisme, atau yang sering disebut juga dengan “desain cerdas” (intelligent design). Kadang-kadang, secara emosional agamawan menolak teori evolusi ini hanya karena tak terima kalau manusia dikatakan kok nenek moyangnya kera. (Note: Sebenarnya homo sapiens bukan hasil evolusi simpanse, tapi simpanse dan homo sapiens memang berasal dari satu dahan yang sama, yakni dari pohon evolusi primata-mamalia, yang bercabang menjadi simpanse, bonobo, gorila, dan Homo)

Saya tak hendak membeberkan bukti kebenaran teori evolusi di tulisan ini. Cukup satu hal saja yang penting diutarakan: Sains evolusi kini dikukuhkan dengan banyak bukti yang kian kemari kian melimpah. Charles Darwin tak lagi sendirian, tapi bersama banyak saintis modern lainnya. Sains evolusi bahkan bercabang dan “diadopsi” oleh cabang sains lainnya: biologi evolusioner, psikologi evolusioner, biokimia, antropologi, sosiologi, geologi, paleontologi, bahkan sejarah agama itu sendiri bisa dijelaskan dengan perspektif evolusi.

Tidak percaya? Yah, silakan saja ajukan teori kreasionisme, atau teori Adam-Hawa itu, ke universitas-universitas besar dunia. Semoga anda tidak ditertawakan. Kenyataan yang mestinya diakui ialah, sains evolusi kini diterima nyaris sebagai aksioma. Sayangnya, di negeri ini buku-buku “sains” Adnan Oktar (Harun Yahya) mendominasi, sedang buku-buku sains yang menjelaskan kebenaran evolusi kurang banyak terdistribusi dan membumi (begitulah, orang-orang Islam negeri ini begitu religiusnya sehingga buku “sains” yang dianggap keren adalah yang bertaburan ayat suci).

Adapun kisah Adam dari Taman Eden (Arab: Jannatu ‘Adn) itu, menurut para saintis yang meyakini kebenaran sains evolusi, adalah kisah fiksi belaka—paling tidak dengan dasar bahwa bukti empiris dari kisah itu tidak ada. Menurut para kritikus kitab suci (Bible dan tentu saja juga Al-Quran), kisah Taman Eden di Tanakh (Kitab Kejadian) baru ditulis oleh seorang Yahwis yang bekerja di istana Daud-Sulaiman sekitar 10 SM. Penulisan kisah itu ialah post factum: ditulis jauh sesudah peristiwanya terjadi. Kita tahu, penulis sejarah di zaman itu tak memiliki kritik historis sebagai pisau analisis sejarah dan cara pandang yang mendasari zaman itu ialah worldview mitologis.

Kritik sains terhadap kisah Adam ini sekedar contoh, dan bisa dirembetkan ke kisah-kisah ajaib nabi-nabi lainnya. Poinnya di sini: sains menyerang diktum kitab suci!

Contoh kedua, ialah tentang hakikat jagat raya. Keberadaan Allah digugat oleh astrofisika dan kosmologi modern. Menurut penganut agama teistik, kita tahu, jagat raya diciptakan oleh Allah dari ketiadaan. Allah adalah causa prima (penyebab yang ada tanpa sebab). Istilahnya dalam kosmologi Thomas Aquinas (tokoh yang kerap dipadankan dengan al-Ghazali di Islam): Allah adalah uncaused cause dan unmoved prime mover. Kosmologi ini khas dalam agama-agama teistik dan cukup menyiratkan perdebatan teologis abad pertengahan—mungkin saja itu penjelasan tercanggih yang baru bisa dicapai di zaman itu. Tapi jelasnya, kosmologi ini tetaplah kosmologi hasil penalaran belaka, bukan berdasar empirisme. Itu kosmologi imaniah saja, bukan kosmologi saintifik.

Sementara kosmologi modern menyatakan, jagat raya tercipta sendiri “dari ketiadaan”, from nothing, karena bekerjanya gaya supersimetri, prinsip relativitas, dan terjadinya fluktuasi quantum dalam suatu titik ruang-waktu yang kosong (vakum) dan acak, yang tak memungkinkan adanya ruang vakum apapun yang tak berisi energi. Fluktuasi quantum ini bermuara pada suatu inflasi atau ekspansi besar: big bang.

Lebih jauh, di kosmologi modern bahkan berkembang teori “dawai”: kita memiliki multiverse jagat raya. Diduga kuat nun jauh di sana, di luar jagat raya yang kita huni ini, ada jagat raya lain, dan mungkin dengan makhluk-makhluk hidup lain. (Intermezo: Mungkin saja jauh di luar sana ada semacam Planet Namec seperti di film Sun Goku, adaptasi dari kisah Sun Gokong yang lahir dan berevolusi dari batu dan bapak-ibunya adalah langit dan bumi; atau mungkin saja ada Planet Kripton, tempat asal Mas Kal El, si Superman yang kini celana dalamnya sudah tak lagi di luar itu. Hehe)

Kosmologi modern ini menyerang pondasi teologi umat beragama. Anda pun bisa menambahkan contoh kritik dari sisi lain, misalnya tentang prediksi kehancuran bumi akibat menggembungnya matahari nanti yang memaksa banyak saintis kini untuk menjadikan tetangga planet kita, Mars sebagai tempat hunian di masa depan. Yang terakhir ini menggugat teologi kiamat, eskatologi apokalipsis, yang berkembang di semua agama teistik.

Jelasnya, kosmologi modern itu kini diusung oleh banyak ilmuwan astrofisika modern kini dan ia menyerang eksistensi Tuhan!

Contoh ketiga, pengalaman-pengalaman spiritual kini ditemukan penjelasan empirisnya melalui neurosains, atau persisnya neuroteologi. Aksioma mendasar dari neuroteologi ialah: pikiran itu di otak, dan saat otak mati maka pikiran lenyap. Apa yang kita rasakan, baik pengalaman spiritual atau mencintai perempuan, menurut neurosains, adalah hasil aktivitas neurologis di otak belaka.

Pengalaman mendapat wahyu, ilham ilahi, visi dari dunia adikodrati, adanya ruh, jiwa, fenomena “keluar dari tubuh” (out of body experience, OBE), dan sebagainya itu, memiliki gejala-gejala neurologis yang sama dengan apa yang disebut dalam neurosains dengan “pengalaman dekat kematian” (near death experience, NDE)—dan dengan inilah kemudian ditemukan cara memperoleh pengalaman spiritual itu via meditasi. Dus, penjelasan neuroteologi itu tegas menyerang fondasi dasar dari agama-agama teistik: eksistensi wahyu!

Ketiga contoh di atas adalah sekian dari beberapa contoh lain yang muncul dari hasil pertentangan sains versus agama. Kawasan-kawasan yang selama ini menjadi monopoli agama (muasal manusia, jagat raya, akhir kehidupan, keberadaan wahyu sebagai pesan Tuhan untuk membimbing manusia) kini digugat sains.

Begitulah, dan menurut saya, keberadaan “Islam liberal” sebenarnya masih lebih halus ketimbang serangan sains terhadap agama. Islam liberal, sekalipun ia dikesankan menyerang pondasi agama, tetaplah ia masih melekatkan kata “Islam”, dan karena itu ia mesti mengakui keabsahan agama. Masalah beda interpretasi dan pendekatan, itu soal lain.

Temuan-temuan sains kian kemari makin mengancam pondasi agama, bahkan nanti akan memporak-porandakannya. Chales Darwin, atau yang mutakhir, Stephen Hawking, Carl Sagan, Richard Dawkins, dan saintis-saintis besar lainnya, telah menjadi “nabi-nabi” baru bagi para ateis kini, dan sedikit banyak menjadi amunisi untuk menyerang legitimasi agama.

Saya sendiri belum menemukan jalan kompromi dalam pertentangan sains dengan agama itu. Beda epistemologi menyebabkan muncul banyak perbenturan konklusi. Bagi agamawan, alternatif sikap yang tersedia sepertinya hanya dua: ikuti temuan-temuan sains itu dan rasakan gejolak batin kepercayaan; atau cuekin saja!

Anda punya jalan kompromi?

‘Ala kulli hal, ada dialog yang sangat menarik di film Life of Pi, film yang dengan sangat baik menggambarkan ihwal pencarian Tuhan. Dalam perbincangan di meja makan itu, ayah Piscine berkata, “Listen, instead of leaping from one religion to the next, why not start with reason? In a few hundred years, science has taken us farther in understanding the universe than religion has in 10.000.”

That is true. Your father is right,” demikian ibu Piscine menanggapi, yang kemudian dengan meletakkan telapak tangannya di dada ia melanjutkan, “Science can teach us more about what is out there, but not what is in here.”

 

——-

~ Tulisan di atas saya buat setelah menamatkan buku Beragama dalam Era Sains Modern (Pustaka Surya Daun, 2013). Buku setebal 500 halaman ini karya Pak Ioanes Rakhmat dan argumen-argumen mendetail tentang contoh-contoh yang saya utarakan di atas bisa dibaca melimpah di buku itu. Baca pula tulisan saya sebelumnya terkait tema ini di blog ini dalam tulisan “Sains Islam itu Tidak Ada”.

Tagged: , , , ,

2 thoughts on “Agama dalam “Ancaman” Sains

  1. K 02/05/2014 pukul 13:26 Reply

    Kukira kita perlu untuk berbincang via media lain🙂

    Suka

  2. nodeton (@nodeton) 05/05/2014 pukul 13:09 Reply

    untuk topik fisika & kosmologi macam ini, saya usul agar berdiskusi serius dengan juara olimpiade fisika, lulusan S1 fisika UI, dan S2 Fisika University of Maryland, College Park: Andy Octavian Latief

    https://www.facebook.com/andylatief

    semoga makin seru🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s