Konspirasi: Teori “Pokoknya”

Ada dua jenis konspirasi: sebagai peristiwa dan sebagai khayalan. Yang pertama ialah konspirasi dalam pengertian konvensional: persekongkolan, makar, adu domba, yang faktual ada. Yang kedua ialah konspirasi yang tak ada, tapi dinarasikan seperti terjadi, dengan berdasar fakta-fakta yang di-gathuk-gathuk-kan; alias konspirasi dalam imajinasi belaka; atau delusi.

Narasi konspirasi jenis kedua itulah yang kerap disebut “teori konspirasi”—istilah yang sebenarnya tak benar sepenuhnya sebab ia tak berdasar fakta. “Teori konspirasi” disebut “teori”, semata karena ia menjadi sebentuk cara pandang terhadap fakta; gathuk-isme.

Alur kemunculan narasi ala teori konspirasi biasanya begini: suatu komunitas yang tertekan perlu melawan kekuatan hegemonik. Mereka ingin melawan dengan kekuatan massa. Maka harus ada gerakan sosial yang terpadu. Agar gerakan itu menjadi kesadaran massa, menurut teori gerakan sosial (social movement), harus ada pembingkaian aksi kolektif.

Untuk mewujudkan aksi kolektif, perlu pembingkaian ideologi (ideology framing). Karena penjelasan ilmiah yang datar tak mencukupi untuk mengobarkan psikologi massa, maka diperlukan bingkai ideologi lain. Nah, pembingkaian ideologi yang terefektif untuk jadi bahan agitasi dan propaganda ialah teori konspirasi itu.

Kondisi termutakhir, teori konspirasi itu banyak “diadopsi” oleh sebagian kalangan dari gerakan Islam(is) dengan menargetkan satu musuh: Amerika Serikat dan bala kurawanya, wabil-khusush Zionis-Israel-Yahudi. Tentu saja, musuh yang satu itu perlu ada agar gerakan menyatu. Ini jadi salah satu rukun gerakan sosial yang terpadu.

Yang terjadi kemudian, teori konspirasi itu membangun narasi sedemikian rupa sehingga yang selalu salah ialah si musuh itu. Apapun yang terjadi, pokoknya musuh telah bersekongkol dan menjadi penyebabnya. Teori konspirasi menjadi “teori pokoknya”.

Ambil contoh: kasus Mesir. Kekuatan Islamis kini tertekan oleh rezim “kudeta” yang dipimpin Abdul Fattah as-Sisi. Sebagaimana yang sudah lazim dan kita dengar di negeri ini, narasi yang dipropagandakan ialah ada konspirasi Amerika di balik kudeta terhadap Mursi. Narasi ini berkembang ke belahan lain dunia Islam, sehingga kalau ada kelompok Islam yang menyetujui kudeta akan dianggap antek Amerika dan anti-Islam.

Padahal, sejak rezim kudeta bertahta, Amerika mencabut bantuan rutin tahunan sebesar  ke Mesir. Bahkan saat jadi presiden, Mursi pun perlu berhutang pada IMF untuk mengatasi krisis ekonomi Mesir. As-Sisi bahkan kini mendekat dan membeli persenjataan ke Rusia, lawan ideologis AS. Mutakhir, Ikhwan diberi vonis sebagai organisasi teroris oleh Arab Saudi. Apakah kaum Islamis negeri ini lantas berani berkata bahwa Saudi adalah antek Yahudi dan karena itu anti-Islam?

Contoh lain: kasus Suriah. Politik Islamis ingin menumbang rezim Bashar al-Assad. Proposisi tak tergugat dari teori konspirasi masih sama: dengan berbagai cara peng-gathuk-an fakta tertentu, pokoknya AS-Yahudi dan adalah biang keladi. Padahal, sudah menjadi riwayat dengan derajat mutawatir (dinarasikan banyak orang yang mustahil sepakat berdusta) oleh para analisis dunia: persekutuan Rusia-Cina-Iran-Suriah ialah lawan dari AS-Israel-Saudi. Damaskus ialah poros penghubung aksis Teheran-Hizbullah dalam menentang eksistensi Zionis.

Anehnya, teori konspirasi bungkam ketika berhadapan dengan adanya kemitraan, atau minimal kesepahaman manuver politik, antara Israel dengan Arab Saudi yang bermusuh sama: Iran. Arab Saudi ini kan  mengamalkan pepatah klasik Arab: ‘aduwwu ‘aduwwi shadiqi (musuhnya musuhku ialah temanku).

Begitulah, teori konspirasi dan teori “pokoknya” adalah oversimplifikasi, penyederhanaan masalah yang kelewat batas. Dan disadari atau tidak, teori konspirasi telah mengonfirmasi kehebatan Yahudi yang, berapa sih jumlahnya dibanding umat Islam sedunia? Epistemologi “pokoknya” ala teori konspirasi membagi dunia secara biner, hitam-putih, benar-salah, waton sulaya, dan, yang berbahaya, memunculkan disintegrasi di negara mayoritas Muslim lainnya.

Dan dengan teori “pokoknya” yang berdasarkan gathuk-isme itu, yang kemudian menyeret kemunculan friksi di negara sendiri, saya khawatir, jangan-jangan agitator teori konspirasi itulah yang secara faktual melakukan konspirasi. Sebuah laku muncul sesuai yang dipercaya pelakunya, bukan?

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s