Argumen Golput

Ada sekurang-kurangnya tiga argumen kontra-golput (saya memaknai golput [golongan putih] di sini dalam makna awam-simpel saja: tidak ikut nyoblos—pemilih pemula kini tak banyak tahu soal sejarah istilah golput).

Pertama, golput setelah tumbangnya Orde Baru tidak lagi relevan dan kontekstual. Dulu relevan karena golput, yang dikenalkan oleh Arief Budiman, ialah bentuk “suara protes” terhadap pemilu “rekayasa” ala Orde Baru. Sekarang, setelah terbuka-lebarnya kran demokrasi, golput, menurut kaum kontra-golput, tak lebih merupakan apatisme belaka. Golput di masa kini, menurut mereka, adalah cermin ketaksadaran politik.

Menurut saya, klaim itu oversimplifikatif. Orang memilih golput dengan berbagai alasan, tapi kebanyakan darinya bersebab pada dua latar belakang: (1) tahu betul kondisi politik kini dan setelah menimbang-nimbang memutuskan bahwa golput adalah satu-satunya sikap yang mewakili aspirasi politiknya atau (2) tahu bahwa dia nyoblos atau tidak, tentu dengan kadar pengetahuannya, negara tetaplah sama adanya; tak memengaruhi kesejahteraan hidupnya.

Yang pertma, alasan dari yang melek politik. Yang kedua, alasan dari yang “agak” melek politik. Argumen dari yang kedua ini: politik, sebagai salah satu modus bernegara, mestinya bisa mencapai tujuan negara: menyejahterakan rakyat. Kalau sudah reformasi tapi tetap “repotnasi”, apa gunanya nyoblos? Pertanyaan satir hanya olok-olokan memang, tapi begitulah datangnya dari mereka yang “agak” melek politik.

Dan kedua alasan itu tak bisa dikatakan apatis. Mereka berpikir, mempertimbangkan, berangkat dari pengetahuan (dengan wawasan masing-masing), dan karena itu masih peduli. Mereka peduli dengan cara lain: diam tentu tak bisa serta merta diartikan pengabaian.

Kedua, yang kontra-golput biasanya bilang begini: “Kalau sampai pemerintahan nanti mengecewakan, jangan protes, sebab kamu tidak ikut memilihnya!” Kalau anda jalan-jalan di pasar, kata yang kontra-golput itu, anda tak bisa memarahi pedagang yang dagangannya tak kamu beli.

Jadi pertanyaanya: bolehkah saya marah sama pedagang di pasar itu? Menurut saya, ya! Karena, saya ikut berinvestasi di pasar itu. Saya punya saham di dalamnya. Pasar itu negara saya. Saya membayar pajak. Saya punya hak politik, hak asasi, hak memprotes juga. Naif kiranya yang boleh memprotes suatu parpol hanya yang memilihnya. Apa kalau begitu yang boleh memprotes partai penguasa saat ini hanya mereka yang dulu memilihnya? Tentu tidak.

Golput kini masih jadi alternatif “sikap protes” dan karena itu juga sikap politis. “Apatisme” publik pada pemilu bukan karena publik tak sadar politik, tapi juga karena politisi yang belum berhasil membuat publik tertarik merayakan pemilu. Bagaimana tak aras-arasen nyoblos kalau caleg-caleg “cabe-cabean” masih juga diusung sebagian parpol hanya demi meraup suara?

Politisi mesti sadar bahwa yang membuat para pejalan di pasar tidak mau beli bukan karena mereka abai, tapi karena dagangannya tidak menarik, atau bahkan tidak berguna. Golput adalah suara protes agar dagangan partai (supply side) mengundang ketertarikan publik (demand side).

Ketiga, kaum kontra-golput sering bilang: bobroknya negara bukan karena banyaknya penjahat, tapi diamnya orang-orang baik. Statemen ini seolah-olah heroik tapi pondasi argumennya memiliki asumsi lemah: seolah-olah publik tak bisa lagi bergerak di luar pemilu. Kaum golput tetap punya fungsi kontrol terhadap pemerintah yang sama dengan mereka yang nanti, dengan segala pertimbangan dan baik sangkanya, mau nyoblos pemilu. Jangan dilupakan, bagi beberapa orang, menjadi golput telah melalui serangkaian “ijtihad” politik. Dan itu, sekali lagi, bukanlah apatisme.

~ Artikel ini telah dimuat di Koran Tempo, 27/03/2014

Tagged: ,

One thought on “Argumen Golput

  1. khoirul 29/03/2014 pukul 16:42 Reply

    ijin share sam…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s