Islam Perdana Diuntungkan Tribalisme

Tidak semua tata nilai sosial atau norma kesukuan Arab pra-Islam, yang sering diistilahkan sebagai masa “Jahiliyah”, itu negatif.

Ya, memang di sana ada fanatisme tribal (‘ashabiyyah qabaliyyah); yang lahir karena konteks kehidupan padang pasir yang begitu liar. Suku-suku bisa saling bermusuhan, berperang dalam jangka waktu yang lama, membentuk pakta-pakta, demi berebuat oase, misalnya, atau berebut sumber ekonomi yang dibalut paganisme (seperti rivalitas antara Mekkah [dengan berhala Hubal-nya] dan Thaif [dengan berhala Lata-nya], misalnya).

Dalam kehidupan yang demikian, harapan terkuat untuk mempertahankan eksistensi ialah dengan mengukuhkan solidaritas kesukuan—dan agaknya ini memang menjadi tata nilai umum di masyarakat primitif di manapun yang hidup di alam liar.

Begitu kuatnya solidaritas itu sehingga lex talionis (balas dendam: mata balas mata; nyawa balas nyawa) menjadi prinsip yang mereka ikuti. Oleh karena kerasnya kehidupan dan mudahnya peperangan tersulut, pada umumnya suku-suku lemah akan membentuk aliansi dengan suku-suku kuat; bisa dengan cara kontrak (tahâluf), menjadi tetangganya (jiwâr), menjadi klien (mawlâ), atau dengan jaminan perlindungan (dzimmah). Ini untuk mendapatkan dekengan bila suatu saat hukum lex talionis itu menimpa mereka, suku-suku yang lemah.

Hukum lex talionis tribalisme-Arab itu berlaku, misalnya, jika ada anggota dari suku A membunuh satu anggota suku B, maka pembalasan dendam dari suku B bisa dikenakan tidak harus kepada si pembunuh, tapi seorang, siapa saja, dari suku A. Dalam penuntutan darah ini, pertimbangan moral sering tak diperhatikan. Prinsipnya: unshur akhâka zhâliman aw mazhlûman (Tolong saudaramu, baik ia yang menganiaya maupun ia yang dianiaya)—adagium ini nantinya dipakai Islam (menjadi hadis Nabi) tapi dengan makna yang lain: menolong yang menganiaya maksudnya ialah dengan mencegahnya dari berbuat aniaya.

Itulah bentuk fanatisme tribal yang kemudian hendak dihapus oleh Islam—dengan dasar, antara lain, ucapan Nabi, “Lâ ‘ashabiyyata fil-Islâm” (Tiada fanatisme dalam Islam). Tapi catatan sejarah menunjukkan, tribalisme itu, dalam derajat tertentu, turut menguntungkan survival benih-benih Islam perdana. Prinsip unshur akhâka zhâliman aw mazhlûman tak selamanya negatif. Ia melahirkan tata nilai yang dikenal sebagai muru’ah (harga diri) yang di antara parameternya ialah keteguhan memegang janji dan menjaga solidaritas kesukuan. (Yang menarik, di Mekkah yang masih kuat tata tribalismenya dan kehidupan umum masyarakatnya ialah berdagang, tersebab masih kuatnya nilai muru’ah dan kesetiaan pada janji, maka kemunafikan hampir tiada. Fenomena munafik baru mulai muncul di Madinah, dengan komponen masyarakat yang majemuk dan kepercayaan yang lebih plural).

Kebajikan dalam memegang janji ini termanifestasi, antara lain, dalam kerelaan seseorang untuk berkorban nyawa tanpa pamrih demi membela sesama anggota suku atau klan, karena secara primordial terikat janji, kehormatan (code of honor), dan muru’ah untuk melakukan hal tersebut. Dalam level yang lebih besar, nilai keteguhan memegang janji ini—dengan mempertimbangkan liarnya kehidupan padang pasir—menjelma dalam pakta antarsuku yang dikenal sebagai “al-asyhur al-hurum” (bulan-bulan haram); yang empat jumlahnya: Rajab, Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah, dan Muharram. Di bulan-bulan haram ini, adalah “dosa besar” bagi suku-suku itu untuk menumpahkan darah. Bulan-bulan itu “diharamkan”, antara lain, demi menghormati para peziarah Kakbah, pergi dan pulang (jadi, konsepsi tentang “bulan-bulan haram” bukan murni berasal dari Islam).

***

Salah satu efek muru’ah dan solidaritas kuat tribalisme itu bekerja dalam mempertahankan survival Islam perdana. Nabi Muhammad dan orang-orang Islam mula-mula (as-sâbiqûn al-awwalûn) memang mendapat intimidasi dan aniaya, tapi tidak bisa segera dibunuh. Dalam konteks tribalisme Arab waktu itu, membunuh anggota sesama suku bisa menurunkan derajat muru’ah suku itu di mata suku lain.

Nabi Muhammad juga mendapat perlindungan kuat dari pamannya, Abu Thalib, sebagai figur terkemuka Quraisy. Puak-puak Quraisy tak bisa segera membunuh Nabi karena wibawa Abu Thalib.

Diceritakan pula, suatu saat ketika Abu Jahal dkk memaki-maki Nabi. Kejadian itu didengar oleh Hamzah ibn Abdul-Mutthalib (paman sekaligus saudara sesusuan Nabi) yang baru pulang dari berburu. Maka Hamzah, yang saat itu belum masuk Islam, segera menuju tempat Abu Jahal dan memukulnya dengan panahnya.

Keuntungan terbesar yang diambil Islam perdana dari tata nilai tribalisme Arab itu ialah saat terjadi pemboikotan dan blokade ekonomi dari tokoh-tokoh Musyrik Mekkah terhadap Nabi Muhammad dan pengikutnya.

Bayangkan kuatnya pemboikotan itu, sebagaimana ditulis tokoh-tokoh Musyrik di piagam yang digantung di dinding Kakbah pada Muharram tahun ketujuh kenabian: “Tidak ada bantu-membantu, tiada jual beli, tiada kawin-mawin, dan tiada damai sampai pengikut Muhammad menyerahkan Muhammad untuk dicegah berdakwah.” Boikot itu terjadi sekurang-kurangnya selama dua tahun (menurut riwayat lain: tiga tahun).

Dalam pemboikotan itu, semua keluarga besar Bani Hasyim dan Bani Mutthalib (kecuali Abu Lahab), yang juga belum semuanya mengimani kerasulan Muhammad, sepakat bersatu senasib-sepenanggungan dengan Nabi Muhammad. Di sini, Islam perdana diuntungkan oleh solidaritas tribalisme: unshur akhaka zhaliman aw mazhluman. Boikot itu sendiri baru mulai diakhiri setelah 5 tokoh Musyrik (Hisyam ibn Amr ibn Rabi’ah, Zuhair ibn Umayyah al-Makhzumi, al-Muthim ibn Uday, Abu al-Bukhturi ibn Hisyam, dan Zam’ah ibn al-Aswad) merasa iba dengan penderitaan Bani Hasyim dan Bani Mutthalib lalu memprotes Abu Jahal untuk menghentikan boikot [Catatan sejarahnya: ternyata piagam yang digantung di Kakbah itu dimakan rayap; tulisannya hilang kecuali kalimat Bismika Allahumma, dan sejak itu piagam pemboikotan tak lagi berlaku].

Nantinya di Perang Badar, Nabi memerintah pasukan Islam untuk tidak membunuh anggota Bani Hasyim dan Bani Mutthalib (terutama al-‘Abbas, paman Nabi) dan Abu al-Bukhturi (yang ikut menginisiasi pembatalan piagam pemboikotan) yang ikut dalam barisan Musyrikin Mekkah, melawan pasukan Muslim.

Selain kekuatan solidaritas, keuntungan lain yang diperoleh umat Islam perdana dari sistem tribalisme Arab ialah terkait pemegangan teguh akan janji. Misalnya, dalam janji jaminan perlindungan (suaka politik). Setelah orang-orang Islam pulang dari hijrah ke Habasyah (menurut satu tafsir, di kisah hijrah ke Habasyah itu terdapat pelajaran bahwa Muslim boleh meminta suaka politik, beraliansi, atau mengangkat pemimpin non-Muslim), mereka kembali dan masuk ke Mekkah dengan meminta suaka politik. Itu terjadi, antara lain, pada Utsman ibn Mazh’un yang mendapat jaminan keamanan dari al-Walid ibn al-Mughirah (padahal, al-Walid ini termasuk tokoh besar Quraisy yang menentang Muhammad)—meskipun lalu diceritakan bahwa Utsman ibn Mazh’un sendiri kemudian mengembalikan jaminan keamanan al-Walid itu.

Contoh lain dari jaminan keamanan yang didapat Nabi ialah setelah Nabi pulang dari berdakwah di Thaif (yang ditolak, bahkan Nabi dilukai); beberapa waktu setelah wafatnya Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah. Nabi masuk ke Mekkah dengan selamat atas jaminan keamanan dari Muth’im ibn ‘Adi yang waktu itu belum masuk Islam. Karena suaka politik dari Muth’im ini, Nabi tak bisa diserang oleh Abu Jahal dan Abu Sufyan. Nantinya, setelah Perang Badar, ketika Nabi menawan banyak orang musyrik Mekkah, Nabi mengingat jasa Muth’im itu dengan berkata, “Andai Muth’im masih hidup dan dia membicarakan nasib para tawanan itu, niscaya akan kuserahkan mereka padanya.”

Begitu.

Tagged: , ,

2 thoughts on “Islam Perdana Diuntungkan Tribalisme

  1. Yeni Setiawan 07/05/2014 pukul 11:54 Reply

    Sangat mencerahkan, tulisan njenengan memberikan cara pandang baru terhadap cerita-cerita soal Kanjeng Nabi yang pernah saya dengar🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s