Jahiliah Rasisme

Rasisme mulai mewarnai kampanye pilpres, terutama di jejaring sosial. Rasisme itu bukan saja menyoal agama, melainkan juga latar belakang keluarga (nasab). Yang memprihatinkan, sebagian dari kampanye rasis itu muncul dari mereka yang menisbahkan diri pada (organisasi) Islam. Kepada mereka yang demikian, mari menengok kembali beberapa fragmen dalam sejarah Nabi (sirah nabawiyah).

Pertama, risalah Islam lahir sebagai, antara lain, antitesis era pra-Islam yang disebut “Jahiliah”. Di antara ciri-ciri Jahiliah: fanatisme tribal (‘ashabiyyah qabaliyyah). Gengsi suku, nasab, dan saudara-sedarah di atas segala. Di antara ungkapan yang menjadi peribahasa waktu itu: unshur akhaka zhaliman aw mazhluman (tolong saudaramu, baik ia yang berbuat zalim maupun dizalimi). Kebenaran, dalam dunia Jahiliah, bukan didasarkan pada keadilan dan moralitas, tapi suku: “Benar atau salah, yang benar dan aku bela tetaplah anggota sukuku!” (Dalam konteks saat ini, “suku”, dalam taraf tertentu, bisa dianalogikan dengan afiliasi politik)

Sejarah mencatat, terdapat sengketa cukup lama antara, misalnya, suku Quraisy versus suku Khuza’ah (di Mekkah) dan suku Aus versus suku Khazraj (di Madinah). Sengketa itu pelan-pelan dikikis setelah Islam mereka terima. Islam mendasarkan persaudaraan (ukhuwah) pada iman, bahkan lebih luas lagi dalam level “negara” pada kontrak sosial Piagam Madinah, yang mengikat setara kepada segenap warga Madinah (Muslim, Yahudi, dan sedikit penganut kepercayaan lain) untuk saling membela jika musuh dari luar menyerang.

Dalam Islam, kemuliaan bukan lagi diukur dengan nasab, tapi ketakwaan dan moral. Sebagian orang yang masuk Islam mula-mula justru para budak, seperti Bilal dan Shuhaib. Narasi bangsawan musyrik Mekkah lalu menyebut diri mereka kaum elite (mala’) yang tak pantas mengikuti jalan para budak muslim yang—mereka sebut—kaum pandir (sufaha’) itu.

Begitulah “pandangan dunia” Jahiliah. Maka ketika ada muslim yang masih berpandangan bahwa seseorang benar semata karena ia dari ras A, dan seseorang salah semata karena ia dari ras B, hakikatnya muslim itu kembali ke alam Jahiliah.

Kedua, ketika Nabi dan para pengikutnya hijrah ke Madinah, status mereka ialah para imigran (Muhajirin). Tapi kemudian Nabi menjadi pemimpin politik, ‘mengatasi’ mereka yang pribumi.

Sejarah mencatat, perbedaan status ini sering dimanfaatkan kaum munafik di Madinah, pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul. Sebagaimana direkam al-Quran, narasi yang dikampanyekan kaum munafik itu: mestinya orang-orang pribumi-mulia (al-a’azz) tidak dikuasi oleh para imigran-hina (al-adzall). Kampanye itu ingin memecah-belah Madinah yang sebelumnya sudah bersatu (Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan Nabi) dan sedang mempertahankan eksistensi politiknya.

Politik rasis-diskriminatif dengan narasi imigran-pribumi itu ialah manuver kaum munafik Madinah. Mestinya orang-orang Islam tak hendak mengulanginya, termasuk dalam kampanye menjelang pilpres kali ini.

Ketiga, satu dari tiga sikap Jahiliah yang dilarang Nabi, dan ini direkam dalam beberapa riwayat hadis sahih, ialah mencela nasab (at-tha’nu fil-ansab). Saya berharap, para tokoh organisasi Islam yang berpengaruh di negeri ini masih menyadari sabda Nabi itu.

~ artikel ini telah dimuat di Koran Tempo, 12/05/2014

Tagged: , ,

3 thoughts on “Jahiliah Rasisme

  1. yasir 14/05/2014 pukul 08:42 Reply

    kacau bro,, data2 di artikel ini banyak ngawurnya, semacam asal comot tanpa memperhatikan penempatannya.

    jangan salah “unshur akhaka zhaliman aw mazhluman” itu BUKAN peribahasa jahiliyah, tapi hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.merupakan wahyu pula. karena wamaa yantiqu ‘anilhawa in huwa illa wahyun yuha.

    makna nya pun bukan se negatif yang sedang anda coba sampaikan.

    hadits tsb, pada masa itupun menuai pertanyaan lalu di perjelas dengan jawaban Beliau sebagai penjelas.

    “Diriwayatkan dari Anas ra, dia berkata: Rasulullah Saw pernah bersabda, “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau dizalimi”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kami memang harus menolong orang yang dizalimi, tetapi BAGAIMANA kami harus menolong orang yang berbuat zalim?” Rasulullah Saw bersabda: “CEGAH DIA dari perbuatan zalim”.
    ——-
    Rasulullah pun merupakan pribumi pula, Beliau seorang arab di negeri arab. jadi sangat sesuai pula, seorang pribumi memimpin negaranya masing2, hal ini bersesuai pula dengan asas proporsionalitas pemimpin.

    sedangkan a’izza, berkaitan dengan KAYA,
    dan adzillah bekaitan dengan MISKIN. bukan ttg pribumi vs imigran.

    lagian Abdullah bin salul mana masuk alqur’an🙂 A’izza dan Adzillah itu ttg penolakan kaum atas naik nya jalut sebagai pemimpin mereka, saat jalut seorang pribumi, miskin, yang memiliki potensi kepemimpinan. sedang mereka2 yang kaya merasa merekalah yang lebih pantas memimpin.

    ——-
    mencela nasab (at-tha’nu fil-ansab), adalah satu perbuatan yang tidak baik. dan dilarang pula dalam agama islam.

    sedang memperhatikan ras seorang pemimpin penting pula untuk mendukung akseptabilitasnya pada rakyat yang terdiri atas ras2 tertentu.

    tidak memperhatikan akseptabilitas itu, akan menuai penolakan.

    Suka

    • azisanwarfachrudin 16/05/2014 pukul 13:30 Reply

      “Unshur akhaka zhaliman aw mazhluman” pada mulanya adalah peribahasa Jahiliah. Ia diadopsi Islam (menjadi hadits Nabi) tapi dengan makna lain: menolong yang menzalimi maksudnya ialah mencegah ia dari berbuat aniaya lebih banyak lagi.

      Ini bukan asal comot. Anda bisa membaca tentang ini di buku “Membaca Sirah Nabi” karya Pak Quraish Shihab.

      —-

      Kalau Anda buka beberapa kitab tafsir, satu pendapat menyebutkan bahwa tentang al-a’azz dan al-‘adzall itu adalah narasi yang dikembangkan munafikin di Madinah. Litukhrijanna al-a’azz minha al-adzall.

      —–

      Di Madinah, status Nabi dan pengikutnya ialah imigran (Muhajirin). Ini jelas. Selain itu, kalau ras seorang pemimpin penting dipertimbangkan untuk jadi pemimpin, mestinya pemimpin Madinah berasal dari satu dari suku-suku di Madinah (Aus atau Khazraj) atau justru melibatkan suku-suku Yahudi (Nadhir, Quraizhah, Qainuqa’).

      Suka

  2. yasir 14/07/2014 pukul 05:50 Reply

    setau saya kalimat itu bukan pepatah.
    tapi bila menurut anda seperti itu, berarti buat anda lebih pantas membawakan pribahasa jahiliah di banding hadits nabi?
    kacau,,,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s