Nyapres, Bukan Nyantri

Ruang publik kita sedang riuh oleh debat kampanye copras-capres dan, bukannya tawaran kebijakannya yang banyak diperbincangkan, justru isu agama (yang kadang terjerumus parah ke dalam soal SARA) yang dominan dibicarakan—sekurang-kurangnya sebagaimana tampak di media sosial.

Kehidupan keagamaan personal dari masing-masing capres diangkat jadi tema yang seolah penting; mengalahkan isu yang mestinya lebih dan benar-benar penting: penegakan hukum, perlawanan terhadap korupsi, kesejahteraan ekonomi, toleransi umat beragama, dan seterusnya.

Berita-berita, khususnya yang tersebar di dunia maya, mewartakan pernik-pernik tentang kesalehan ritual capres ini dan itu: kedekatannya dengan ulama ini dan itu, sering salat jamaah di sini dan di situ, sudah haji (tentu saja hanya ke Mekkah), dan seterusnya.

Saya mencoba meraba-raba mengapa kampanye model begituan jadi sangat berisik. Tanpa bermaksud mendukung salah satu capres, analisa saya: pertama, itu karena pertarungan hanya dua kandidat capres, two horse race, tak seperti pilpres-pilpres sebelumnya. Lalu, kedua, partai berasas Islam (PPP, PKS, & PBB) merapat ke Prabowo, dan karena itu Jokowi (dengan menghitung PKB sebagai partai berasas kebangsaan) dipersepsikan menjadi “kurang Islam”.

Kemudian, ketiga, mayoritas penduduk negeri ini beragama Islam sehingga isu keislaman efektif memainkan psikologi massa. Karena isu yang mendominasi adalah agama, sedang agama membawa truth claim yang sering dimutlakkan, maka, keempat, pertarungannnya laksana oposisi biner: semacam Islam versus kafir.

Deskripsi di atas bukan simplifikasi. Bahkan kampanye model begituan sempatdisampaikan oleh sejumlah tokoh yang mestinya bersikap intelektual. Amien Rais, menganalogikan pilpres ini dengan Perang Badar; perang terpenting dalam episode sejarah Nabi sebab menentukan survival embrio Islam saat itu. Din Syamsudin salat zuhur di belakang Jokowi, dan sempat tidak khusyuk sebab ketungkul memperhatikan benar-tidaknya salat Jokowi (tapi akhirnya berkesimpulan salatnya Jokowi memang benar dan sah). Hingga Jokowi sendiri, karena ia lebih banyak “dipertanyakan” keislamannya, perlu membuka pidatonya di suatu acara dengan mukaddimah hamdalah dan shalawat (berbahasa Arab, tentunya).

Ruang publik dalam kontestasi pilpres menjadi arena “kontes kesalehan”. Sepertinya perlu direnungkan bahwa di negeri ini saleh memang lebih identik dengan makna taat secara ritual.

Yang lebih sering dipakai untuk mengukur kesalehan ialah rajin salat, baik bacaaan Qurannya, suka puasa, sudah haji beberapa kali, dan semacamnya. Ini persepsi yang melekat dalam benak umum. Citra saleh dalam makna ritual itu kemudian termanifestasi, antara lain, dalam cara berpakaian. Kita jarang melihat ada pendakwah kok tidak pakai peci/kopyah, tak menukil ayat al-Quran, belum haji, dan seterusnya.

Ukuran keislaman dan kesalehan seseorang di negeri ini pertama-tama dimulai dari kriteria itu. Kenyataannya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan saleh dengan “taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah” (ibadah dalam arti ritual, tentunya).

Ukuran kesalehan yang begitu, yang turut dipadu dengan persepsi umum umat Islam negeri ini, kini turut menimpa kampanye pilpres. Kita melihat cukup massif di jejaring sosial, isu apa yang lebih sering diperdebatkan publik soal copras-capres itu: bukannya bagaimana tawaran kebijakan dalam bidang penegakan hukum, kesejahteraan ekonomi, toleransi antarumat beragama, dll, tapi bagaimana taraf keislaman capres X, bagaimana salatnya, dan seterusnya.

Akibat dari hal itu, perbincangan tentang bagaimana kebijakan yang bermanfaat untuk kepentingan publik, bagaimana mengatasi korupsi, menanggulangi persoalan kesejahteraan, jadi terpinggirkan. Padahal, yang terakhir inilah justru yang sesuai dengan makna saleh yang sebenarnya; sesuai makna saleh secara etimologis dari bahasa aslinya (Arab) dan derivasinya.

Saleh (shalih), yang kata dasarnya ialah shalah, dalam Lisan al-‘Arab (kamus klasik Arab terotoritatif), adalah lawan kata dari al-fasad (berbuat kerusakan, perilaku korup). Ishlah memiliki arti reformasi dan rekonsiliasi. Shulh artinya perdamaian. Mashlahah (maslahat) artinya sesuatu yang baik bagi kepentingan publik, lawan kata dari madharrah (mudarat).

Berkali-kali pula dalam al-Quran, kata saleh selalu disebut bergandengan dalam frase “iman dan amal saleh”. Iman ialah sisi internal kepercayaan seorang Muslim yang kemudian mestinya termanifestasi secara eksternal dalam “kesalehan”, sikap anti terhadap perilaku rusak nan korup. Ada kaidah fikih yang masyhur: Tasharruf al-imam ‘ala ar-ra’iyyah manuthun bi al-mashlahah (kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya berpijak pada kemaslahatan). Kesalehan adalah perilaku yang membawa pada kemaslahatan.

Dus, saleh secara etimologis lebih identik dengan sikap sosial, ketimbang ritual. Bagi saya, makna saleh yang semacam inilah yang seharusnya lebih diunggulkan. Dan karena itu, kalau mau memperdebatkan mana capres yang lebih saleh, mestinya yang dibahas adalah bagaimana sikap antikorupsi dari capres yang bersangkutan, bagaimana rekam jejak kepemimpinannya, bagaimana penghargaannya terhadap hak asasi manusia, dan seterusnya; bukan bagaimana salatnya, fasih atau tidak bacaanya Qurannya.

Mungkin sudah begitu jengkel terhadap “kontes kesalehan”yang kian parah, sampai-sampai Mufidah Kalla meriwayatkan bahwa suaminya, Jusuf Kalla, sempat mengusulkan agar diadakan pertandingan baca al-Quran.

Saya nyaris setuju dengan substansi usulan ini, yakni ingin menyudahi perdebatan tak bermutu itu. Sempat terbayang, kalau benar kontes mengaji itu diadakan, maka jadinya seperti saat ujian masuk pesantren: untuk tes penempatan kelas, seorang calon santri mesti diuji dulu kualitas salatnya, bacaan tajwid al-Qurannya, penguasaan bahasa Arabnya, dan seterusnya.

Tapi, di titik saat membayangkan itulah kemudian saya langsung sadar bahwa ini adalah pilpres, momen pertaruhan nasib orang se-Indonesia, bukan mau nyantri! 

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s