Perang di Gaza dan Kita

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Israel-Gaza perang lagi. Kita ikut ramai lagi. Demo solidaritas di mana-mana. Hashtag #SaveGaza & #GazaUnderAttack populer di jejaring sosial (Israel membuat tandingan: #IsraelUnderFire). Foto-foto korban tewas (yang sebagian hoax, diambil dari konflik negara lain, dan tak sedikit yang sengaja diambil angle yang tampak mengenaskan) riuh di-share di dunia maya.

Dari pengalaman yang sudah-sudah, modus perangnya kurang lebih sama. Israel menganggap rudal Hamas yang ditujukan ke wilayah Israel tak lain adalah provokasi perang. Pertahanan Iron Dome Israel berhasil ditembus roket Fajr-5 Hamas yang merupakan bantuan dari Iran, dimasukkan lewat Suriah atau Hizbullah-Lebanon (jadi, di sini Sunni-Syiah saling bantu).

Tapi Israel membalas rudal Hamas dengan serangan yang lebih kuat (karena amunisinya memang lebih banyak). Dalam hal ini, pendukung kemerdekaan Gaza menyatakan Israel, selain memang dianggap penjajah, telah zalim karena membalas dengan tak setimpal, juga menyasar orang sipil dan anak-anak (meskipun pro-Israel kemudian menyalahkan Hamas karena menjadikan orang sipil, termasuk wanita dan anak-anak, sebagai “tameng”, human shield—Hamas menimbun persenjataan di perumahan sipil dan bangunan publik). Konflik ini semakin tambah ruwet ketika pada kenyataannya di banyak negeri Muslim, termasuk di sini, perang Israel-Gaza dibumbui sentimen keagamaan. Jadilah pusaran konflik rumit diurai.

Begitulah yang berulangkali terjadi. Pada 2008-2009, Israel membalas Hamas dengan Operasi Cast Lead. Pada 2012, dengan Operasi Could Pillar. Kali ini, judulnya Operasi Protective Edge. Perang yang sudah-sudah diakhiri gencatan senjata. Lalu negosiasi. Tapi masih perang lagi. Sampai kini, kalau masing-masing dari “hawkish” Israel dan Hamas masih berideologi politik yang sama (perang habis-habisan, zero sum game), maka tak ada jaminan di tahun-tahun ke depan tak ada perang lagi. Begitu terus. Entah kapan selesai.

Adapun kita di Indonesia, sebelum mengobarkan anti-Yahudi, perlu memerhatikan skala prioritas penyelesaian konflik (kalau memang yang diinginkan adalah perdamaian). Bantuan kemanusiaan, ya, baik, tapi di level politik tak berarti apa-apa kalau tak ada tekanan ke figur-figur kunci.

Pertama, jelas kita tahu, mestinya sesama orang Palestina bisa bersatu. Kenyataannya, antara Otoritas Palestina di Tepi Barat dan Hamas di Gaza tak rukun. Presiden “Negara” Palestina (status “negara pengamat non-anggota” diperoleh Palestina di PBB pada September 2013) Mahmud Abbas dimarahi orang-orang Hamas karena tak banyak berbuat ketika Gaza diserang.

Kedua, kita juga tahu, negara-negara tetangga sesama Arab tak banyak membantu (kecuali Suriah dan Hizbullah-Lebanon). Bantuan militer secara terbuka, bagi mereka, bisa mengundang tekanan politis dari Amerika. Kabar mutakhir bahkan Mesir mengecam Hamas (juga Qatar dan Turki) yang karena merekalah gencatan senjata tak terrealisasi—sebagian analis mengaitkan kecaman ini dengan hubungan buruk antara rezim Mesir saat ini dengan Ikhwan yang notabede “induknya” Hamas. Jadi, kalau ikut alur logika ini, demonstrasi solidaritas untuk Palestina jangan cuma diarahkan ke Amerika tapi juga ke kedubes negara-negara Arab. Kalau mereka yang jadi tetangganya saja begitu, apalagi Indonesia yang jauh dari sana. Maksud utama dari poin ini ialah: diplomasi politik tetaplah menjadi prioritas utama dan itu hanya bisa terlaksana oleh dukungan tegas negara-negara tetangga.

Ketiga, kecenderungan pembelaan pada Palestina di sini ialah perang habis-habisan lawan Israel, dengan bumbu sentimen keagamaan. Tapi jarang dikalkulasi bahwa, justru karena ingin perang tumpas kelor dengan Israel itulah korban tewas di Gaza kian bertambah. Proposisinya sederhana: korban ada karena ada perang. Karena itu, kalau kita menginginkan minimalisasi jumlah korban (jika memang nyawa itu sangat berharga), maka mestinya kita fokus pada usaha mencari perdamaian, bukan menyiram bensin di api perang.

Bagaimana caranya? Saya termasuk yang menyetujui solusi dua negara” (two-state solution) adalah opsi solusi paling realistis dan paling bisa meminimalisasi perang, meski itu tak mudah dijalankan di level antar negara dan hingga kini kurang populer di negeri-negeri Muslim.

Tapi yang menjadi fondasi dasar dari terlaksananya solusi dua negara ialah mesti ada saling percaya (mutual trust) antara Hamas dan Israel. Dan tepat di titik inilah pusat problemnya: Hamas masih dan tampaknya akan terus menganggap Zionis sebagai penjajah dan karena itu mesti diusir dari tanah Palestina; dan “hawkish” Israel masih dan tampaknya akan terus menganggap Hamas sebagai teroris dan ancaman bagi eksistensi Israel.

Pembangunan sikap saling percaya dan bersepakat untuk koeksis antara Hamas-Israel kini semakin susah setelah Israel mutakhir memutuskan melancarkan serangan darat ke Gaza. Israel sepertinya sudah tak sabar untuk menumpas Hamas. Opsi-opsi solusi damai kian jauh terjangkau.

~ Artikel ini telah dimuat di Media Indonesia, 22/07/2014

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s