Mudik Kultural & Spiritual

Tradisi mudik Lebaran secara massif hanya ada di Indonesia. Fenomena ini menyimpan dua makna.

Pertama, itu tanda bahwa struktur demografi Indonesia yang sedemikian besar dihuni oleh kalangan berumur dan berkemampuan ekonomi menenga—juga dalam taraf tertentu menyiratkan belum meratanya kesejahteraan. Dua, bahwa memang watak sosioantropologis manusia Indonesia yang sangat homo festivus: merayakan besar-besaran setiap budaya, menjunjung etos kolektivitas dan kegotong-royongan, mengenang kembali masa lalu, inward looking.

Konon, leluhur kita adalah bangsa perantau. Nenek moyang kita gemar melaut. Catatan historiografi klasik dari Cina menyebut bangsa yang tinggal di selatan sebagai bangsa Kun Lun (bangsa maritim). Orang Minang juga terkenal dengan budaya merantau untuk berdagang. Setidaknya dulu, ada semacam konsesi antar orang Minang bahwa lelaki yang belum berhasil pantang “balik kampong”. Orang-orang Maluku sudah ada yang sampai Madagaskar. Perdagangan rempah-rempah, menurut satu versi sejarah, bahkan sudah menyeberang sampai ke daratan Timur Tengah.

Namun, sejauh manapun pergi, barangkali juga sudah jadi watak primordial orang Indonesia untuk ingin kembali. Cukup banyak diberitakan, para TKI maupun WNI di luar negeri yang “curhat” untuk menutup masa tuanya di tanah air, Nusantara.  Setinggi-tinggi bangau terbang jatuhnya ke kubangan juga. Tradisi gotong royong ini memang unik. Orang Jawa juga mengenal pepatah mangan ora mangan ngumpul (makan atau tak makan yang penting kumpul).

Tenggang Rasa

Umar Kayam (2002) menyebutkan mudik sudah menjadi tradisi primordial masyarakat petani Jawa bahkan sejak sebelum masa Kerajaan Majapahit. Dulu mudik menjadi peringatan untuk kembali mengenang dan membersihkan makam leluhur, disertai doa kepada dewa-dewa di ka-Hyang-an.

Mudik secara etimologis berarti kembali ke “udik”, kampung halaman di desa. Kosakata ini cenderung berkonotasi negatif. Istilah ndesokerap menjadi bahan olokan. Namun, secara terminologis, semestinya ia juga dimaknai positif: mudik adalah kembali ke kultur mula-mula.

Agaknya modernisme dan globalisme ikut andil dalam mengikis secara perlahan kultur udik. Orang-orang desa yang hijrah ke kota menjadi kaget: urbanisasi berimbas pada cultural-shock. Sayangnya, globalisasi yang lebih mengesankan kemajuan memenangkan gejolak budaya dalam diri orang udik itu. Begitu kembali ke kampung, sebagian dari mereka memamerkan “kesuksesan”-nya.

Gejala inilah yang perlu direnungi lagi. Mudik semestinya juga diniati dengan kembali mengenang dan mengalami akar kultur masing-masing. Sedalam apapun orang menyelami lautan modernisme dan globalisasi, semestinya ia tidak lupa bahwa ia tetap harus kembali ke daratan dimana akar budayanya berada.

Kemegahan materi yang dibawa pulang, kemewahan perayaan Lebaran di kampung halaman, itu memang boleh. Tidak ada larangan untuk itu. ‘Id bermakna “perayaan”. ‘Id al-Fithri (Idul Fitri) bermakna “perayaan berbuka”: bahwa ibadah puasa sebulan sudah usai, zakat sudah ditunaikan, maka itu adalah waktu untuk merayakan. (catatan: pada hemat saya, memaknai Idul Fitri dengan “kembali ke fitrah”, sebagaimana yang umumya dipahami, adalah kurang tepat secara semantik dalam linguistik Arab)

Namun demikian, perayaan itu bukan terus kemudian menafikan rasatepa-selira (tenggang rasa) dengan tetangga. Salah satu hikmah dari kewajiban zakat fitrah adalah agar mereka yang fakir-miskin juga ikut merasa senang dalam perayaan Fitri. Adagium yang populer bagi orang Jawa, mangan ora mangan kumpul, juga menyiratkan makna bahwa kebersamaan lebih penting daripada materi.

Mudik, dengan demikian, juga bisa kita maknai secara spiritual: memperbarui tenggang rasa dengan sesama, bahwa ada banyak di luar sana yang bernasib tidak sebaik kita. Ini tradisi yang dimaknai dengan melihat diri ke dalam, inner journey.

‘Id juga satu derivasi dengan ‘Adah (adat), yakni tradisi yang berulang-ulang, rutin, dan diperbarui. Dinamai dengan demikian, salah satu hikmah atau ibrahnya, agar tenggang rasa itu juga diperbarui, diingatkan kembali.

Perjalanan Sunyi

Dalam tradisi dan perayaan Lebaran itu dianjurkan bertakbir. Takbir adalah manifesto bahwa Allah itu Mahabesar, sementara manusia hanya noktah kecil di alam semesta ini. Di hadapan Tuhan, semua manusia sama kecilnya—yang membedakan adalah kadar takwanya, dan jelas bukan seberapa banyak materi yang ia punya.

Takbir semestinya dihayati dengan renungan, bukan hura-hura, bukan dengan berpesta di jalan-jalan yang kadang tidak relevan sama sekali dengan takbir yang diucapkan. Mudik bisa kita maknai sebagai perjalanan spiritual itu. Selain kembali ke akar kultural, juga kembali ke akar spiritual.

Lebaran juga menjadi media saling bermaafan. Memaafkan adalah bentuk pelepasan dendam dari ruang-ruang hati, dari fakultas-fakultas rohani dalam diri. Menurut uthak-athik-mathuk orang Jawa, Lebaran itu 3L: lebar pasane, lebur dosane, luber ganjarane (usai puasanya, lebur dosanya, jadilah berlipat-lipat pahalanya).

Lebaran di Indonesia penuh dengan tradisi. Di satu sisi tradisi itu menyiratkan gairah besar dari masyarakat pada setiap momen keagamaan—semarak yang mungkin tidak kita jumpai di negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya. Sebagai tradisi, kadang ia terjerat keluar dari esensi spiritualitasnya. Kadang ia tak jauh beda dengan festival layaknya pesta: semata untuk kesenangan dan hiburan. Dengan pemaknaan sebagaimana dipaparkan di atas, mudik sebenarnya adalah perjalanan sunyi.

— Artikel ini telah dimuat di Republika, 25/07/2014

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s