Bila AS Menyerang IS

Presiden Amerika Serikat (AS) Barrack Obama sudah berencana menyerang the Islamic State of Iraq and al-Syam (ISIS), atau yang sekarang telah berubah menjadi the Islamic State (IS)—Arabnya: Tanzhim ad-Dawlah al-Islamiyyah. Melalui pidatonya yang disampaikan pada 11 September lalu (berbarengan dengan peringatan tragedi 9/11), Obama memaparkan tahapnya mulai dari, antara lain, memimpin koalisi (tahaluf) gabungan  negara-negara Arab.

Di antara justifikasi Obama, selain sebagaimana yang sudah lazim yakni perang melawan terorisme, adalah IS telah menyembelih jurnalis AS, James Foley dan Steven Sotloff. Diduga kuat, beberapa orang AS ada yang ditangkap IS dan kini ada dalam daftar penyembelihan selanjutnya.

Sejauh ini, AS masih tampak berhati-hati. AS belum menerjukan langsung serangan udaranya. AS memberikan pasokan senjata dan melatih pasukan Garda Nasional Irak. Dan kini perdana menteri Irak telah diganti dari Nouri al-Maliki, yang dipandang telah mengalami defisit legitimasi dan memicu sektarianisme, ke Haider al-Abadi yang dipandang relatif bisa mempersatukan loyalitas pasukan militer Irak. Obama masih membatasi pengiriman pasukan udara AS. Tujuan minimalnya adalah untuk menahan laju perluasan wilayah yang dicaplok IS.

Risiko

Rencana AS itu bukannya tak mengandung risiko besar dan mendapat sejumlah tentangan.

Pertama, beberapa analisisis menyatakan kekhawatiran bahwa serangan AS itu akan kembali menambah borok luka lama dalam narasi terorisme dunia: Amerika versus dunia Islam (jihadis). Sejarah mencatat hitam perilaku AS di Irak, terutama di masa Bush. Adapun Obama selama ini relatif terbuka dalam dialog dengan dunia Islam. Juga, Obama telah menarik pasukannya dari Irak pada 2011 sesuai janji kampanyenya dulu—meski penarikan pasukan ini berimbas pada semakin keruhnya perang sektarian di Irak.

Cara pandang yang demikian memang tampak seperti narasi teori konspirasi. Lazimnya, narasi konspiratif ini sampai pada kesimpulan bahwa sebenarnya keberadaan IS tak lain adalah akal-akalan AS belaka dan dijadikan dalih untuk kembali campur tangan dalam urusan Irak dan Suriah.

Namun demikian, narasi yang demikian patut jadi opsi untuk diperhitungkan kebenarannya. Alasanya, karena rentan kembali mencoreng citra AS itulah maka AS tampak pelan-pelan menyerang dan  menggandeng negara-negara Arab agar vonis ‘kesalahan’ tak terlimpah kepada AS semata. Di poin inilah kita melihat dilema yang menghantui AS.

Kedua, tampak sekali IS menggunakan srategi deterrence. Kepercayaan diri IS untuk mempertontonkan aksi penyembelihannya mengesankan pesan bahwa IS menantang AS, juga siapapun, untuk tak menghalangi aksinya. IS tampak sadar bahwa dengan memicu ‘emosi’ AS untuk menyerang, maka opini dunia akan terbelah. Lalu IS bisa jadi mendapat sedikit lebih banyak dukungan.

Yang terakhir ini tampak saat setelah Obama mendeklarasikan rencana penyerangannya, pemimpin al-Qaeda Ayman al-Zawahiri mengumumkan ancaman bahwa, setelah AS benar-benar menyerang, darah orang AS halal bagi al-Qaeda dan para pendukungnya. Ini menunjukkan bahwa rencana AS berpotensi menyatukan kembali IS (yang sebelumnya melepas diri dari al-Qaeda) dengan al-Qaeda pusat.

IS tampak memanfaatkan permusuhan berbagai elemen jihadis terhadap AS untuk balik mendukung IS. Terutama bila rencana serangan AS itu nanti melampaui batas; memakan banyak korban sipil. Bila demikian, narasi permusuhan terhadap AS sekali lagi mendapat bahan bakarnya.

Ketiga, upaya AS untuk menyatukan negara-negara Arab juga bukan hal mudah. Beberapa negara Arab, terutama Qatar dan Arab Saudi, punya kepentingan kuat di Suriah. AS dan kedua negara Arab itu aktif mempersenjatai oposisi—kalau tak boleh disebut “pemberontak”—Suriah.

Kuat diduga bahwa dari beberapa negara Arab itu punya kepentingan tersendiri dalam rencana intervensi militer terhadap Irak dan Suriah. Qatar dan Arab Saudi sebelum ini bahkan tampak tak bersikap aktif mengecam IS sebab, dalam beberapa hal tertentu, keberadaan IS menguntungkan mereka dalam melawan rezim Bashar al-Assad. Sekali lagi di poin inilah tak mudahnya untuk mendapatkan “jalan tengah” bagi koalisi anti-Assad antara melawan Assad dan menumbangkan kelompok jihadis-teroris.

Di atas segalanya, pasokan senjata dan pelatihan pasukan AS itu patut dikhawatirkan akan kembali menjadi blunder. Seperti yang sudah masyhur diketahui, beberapa elemen garis keras adalah ‘mantan’ didikan CIA yakni, antara lain, Taliban dan al-Qaeda, yang kemudian lepas kendali. Bukan tidak mungkin bahwa, bila dikemudian hari AS melepaskan kendali terhadap pasukan militer oposisi di Suriah, mereka berubah menjadi musuh AS. Walhasil, AS sedang menghadapi titik-titik krusial dalam menghadapi IS.

~ artikel ini telah dimuat di Kedaulatan Rakyat (20/09/2014)

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s