Siapa yang Salah?

Tersebutlah dua orang yang sedang mabuk asmara. Sebut saja namanya Paijo dan Painem. Keduanya tinggal di dua seberang yang berbeda dari suatu sungai besar nan banyak buayanya. Kalau mereka mau malmingan dan pacaran, tiada jalan lain untuk bertemu kecuali melewati jembatan yang menghubungkan dua seberang sungai itu. Suatu ketika, jembatan itu roboh; hilang sudah satu-satunya cara untuk memuaskan dahaga rasa ingin bertemu. Dalam hanyutan kangen, Painem resah.

Hingga datanglah Sinbad Si Pelaut dengan kapalnya melewati sungai itu. Painem mohon bantuan pada Sinbad untuk mengantarnya ke seberang sungai. Tapi hari gene tak ada yang gratis, bukan? Sinbad meminta bayaran. Namun Painem tak punya banyak uang.  Lalu Sinbad memberi tawaran lain: kalau pengen diantar ke seberang, Painem kudu rela menghadiahkan kemolekan tubuhnya pada Sinbad. Dalam gelegak api rindu, Painem gelisah.

Maka Painem minta bantuan pada tetangganya, sebut saja Pairan, yang lumayan berkecukupan. Tapi Pairan memilih bersikap tak peduli. Ia tak mau kasih hutangan. Jadilah Painem, yang kalut cintanya pada Paijo telah menenggelamkan jiwanya, menerima tawaran Sinbad. Terjadilah begituan: keperawanan Painem dimangsa Sinbad.

Tibalah kemudian Painem di seberang sungai, bertemu Paijo, dan menceritakan perkaranya. Paijo kecewa; sangat kecewa pada hilangnya keperawanan yang semestinya akan jadi haknya untuk dinikmati setelah menikah nanti. Paijo marah besar, lalu menampar Painem. Paijo memutuskan bahwa mulai hari itu hubungan keduanya putus. Tentulah Painem sakit hati; sakiiit banget. Painem segera mengganti status relationship di Facebook-nya dengan complicated.

Painem kemudian mendatangi sahabat Paijo, sebut saja namanya Paijan. Sambil mewek, Painem curhat. Pairan yang temperamental itu langsung marah. Segeralah Pairan mendatangi sahabatnya, si Paijo itu, lalu memukulnya habis-habisan sampai pingsan. END.

Soal: Dari kelima tokoh di cerita itu (Sinbad, Painem, Paijo, Pairan, dan Paijan) siapa yang memiliki saham kesalahan terbesar? Coba urutkan dari yang terbesar ke yang terkecil, berikut alasannya.

 

___________________________

Note: Cerita di atas saya dapatkan bahannya dari tulisan Prof. Sarlito, guru besar psikologi UI, yang pernah saya baca agak lama dulu, saat saya masih S1. Saya ceritakan ulang dengan tambahan dramatisasi dan alay-isasi. Tentang Sinbad Si Pelaut, itu adalah cerita yang masuk dalam himpunan kisah 1001 Malam. Figur Sinbad boleh jadi adalah nyata; ia konon hidup di zaman Abbasiyah, di masa Harun ar-Rasyid. Namun boleh jadi pula ia fiksi belaka. Kisah itu, sebagai salah satu episode dalam cerita petualangan Sinbad, tentunya dongeng semata. Yang penting ialah pelajaran dari ceritanya. Begitu.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s