Khutbah Jumat dan Interupsi

Bolehkan menginterupsi khutbah Jumat? Soalan ini cukup ramai dibicarakan belum lama ini di dunia maya, terutama di jejaring maya Twitter, menyusul adanya ‘fatwa’—atau tepatnya hasil Bahtsul Masail (BM)—NU tentang bolehnya menginterupsi khutbah yang ‘ngawur’, yakni yang menebar kebencian atau, dalam bahasa hasil BM itu, “memuji orang yang tak layak untuk dipuji atau mencaci orang yang sebenarnya tidak layak dicaci.” ‘Fatwa’ tentang bolehnya menginterupsi khutbah ini adalah jawaban terhadap penanya yang bertanya perihal khutbah yang sering ia temui, yang “menyampaikan materi yang sangat menyinggung perasaan, misalnya menjelek-jelekkan orang lain dan memusuhi kelompok lain secara terang-terangan.” (Jawaban selengkapnya bisa di-google dan ditilik di laman nu.or.id)

Ihwal bolehnya menginterupsi khutbah Jumat ini sebenarnya bukan bahasan baru. Pembahasan tentang ini tercatat dalam literatur klasik Islam. Pendapat dalam jawaban BM NU itu bersandar pada, sesuai yang diberitakan di laman nu.or.idpendapat dalam Mazhab Maliki, yang direkam dalam Al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah (I/361) karya Abdurrahman al-Juzairi; kitab yang tergolong mu’tabarah (reliable) dan sering dirujuk oleh setiap yang mengkaji fikih perbandingan mazhab (internal Sunni).

Pandangan itu bukan hal baru karena memang pernah ada presedennya dalam sejarah Islam perdana, baik di zaman Nabi maupun zaman Sahabat, dan terekam dalam hadis-hadis sahih. Ada diceritakan dalam Sahih Bukhari (967) dan Muslim (897), misalnya, bahwa saat Nabi sedang berkhutbah, ada seseorang yang menginterupsi seraya meminta Nabi agar berdoa untuk keselamatan kampungnya yang kerontang karena kemarau panjang. Lalu Nabi mengabulkan interupsi itu. Juga diriwayatkan, Nabi memerintahkan orang yang baru datang untuk salat sunnah tahiyyatul-masjid dulu (Bukhari 888 & Muslim 875).

Pada zaman Sahabat, khutbah Umar ibn al-Khattab pernah diinterupsi oleh seorang perempuan yang protes karena mahar pernikahan dimurahkan. Pada zaman Daulah Umawi, beberapa orang menginterupsi khutbah Jenderal al-Hajjaj ibn Yusuf yang mencaci Ali ibn Abi Thalib. Riwayat-riwayat macam ini bukan khas literatur klasik ala NU saja, bahkan ia juga dikutip dalam fatwa dari ulama ‘Salafi’—saya menukil riwayat-riwayat itu dari fatwa di laman resminya Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid.

Begitulah, maka terjadi beda pendapat di antara para pakar fikih tentang isu ini. Yang disepakati ialah: yang tak boleh saat khatib berkhutbah adalah perkataan laghwun, yakni hal yang sia-sia dan tak berkaitan dengan kemaslahatan ibadah Jumat. Yang beda kemudian adalah rincian dari apa yang terkategori laghwun atau bukan. Sebagian pendapat menyatakan, boleh memeringatkan khatib yang bacaan al-Qurannya keliru, bahkan menginterupsi khatib yang bicara ‘ngawur’ seperti pendapat yang dikutip NU itu.

Persoalan ini bisa dimengerti karena memang akhir-akhir ini banyak khotbah yang dipakai untuk menebar benci, kampanye politik, atau fitnah tentang orang atau kelompok tertentu. Ini terjadi terutama khutbah di kota-kota, sebab di desa-desa apa yang dikhutbahkan biasanya sudah dipakemkan, dengan membaca buku/kitab tertentu.

Hanya, problemnya kemudian ialah orang-orang khawatir kalau khutbah kok diinterupsi bisa terjadi kekacauan. Menanggapi jawaban BM NU itu, Muhammadiyah cenderung melarang interupsi, dengan berdasar pada prinsip fikih sadd adz-dzari’ah (menutup potensi yang menimbulkan tindak mudarat). Karena itu, dalam pandangan Muhammadiyah ini, kalau mendapati khutbah yang ‘ngawur’ dan membuat kuping panas sebaiknya seorang jamaah melakukan mufaraqah atau walk-out saja, lalu ganti salat sendiri.

Di atas segalanya, munculnya berbagai pandangan tentang khutbah itu perlu agar umat pelan-pelan menyadari watak fikih: pluralitas pandangan itu niscaya adanya. Dalam kadar tertentu, kemajemukan pendapat itu justru memudahkan umat. Seperti perkataan yang masyhur ternisbat kepada Khalifah Umar ibn Abdil Aziz: “Aku lebih senang bila para ulama berbeda pendapat, sebab dengan itu ada banyak pilihan bagi umat.

Itu juga agar umat belajar untuk tak kagetan, sebab banyak yang terlanjur terbiasa dengan pandangan yang seragam. Juga, biar umat mempelajari kembali bagaimana sebenarnya khutbah zaman Nabi. Misalnya, Nabi itu salat Jumatnya lebih panjang ketimbang khutbahnya. Dalam hadis yang sering dikutip dalam buku daras fikih bab khutbah JUmat disebutkan, “Singkat khutbah dan panjang salat seseorang adalah tanda kedalaman pemahaman atau fikihnya.” Sementara tradisi sekarang, setidaknya di Indonesia, tak jarang lebih panjang khutbahnya ketimbang salatnya. Demikian.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s