ISIS dan Kebrutalannya

Masyarakat dunia menyaksikan tindakan-tindakan brutal yang dilakukan ad-Dawlah al-Islamiyyah fi al-‘Iraq wa al-Syam (ISIS) dalam memperlakukan para tawanannya: mulai dari wanita yang dijadikan budak (lalu dijual di pasar budak), penyembelihan, potong tangan, hukuman dijatuhkan dari atas gedung tinggi (untuk para homoseks), penembakan massal, membakar hidup-hidup seorang pilot Yordania, hingga yang mutakhir menyembelih 21 Kristen Koptik.

ISIS tak merasa bersalah dengan hukuman brutal itu. ISIS justru bangga melakukannya: Sebagian brutalisme itu dilakukan di depan mata publik, didokumentasikan, dirilis resmi lewat majalah dan video, bahkan diberi justifikasi keagamaan. Pertanyaannya kemudian: bagaimana kita membaca tindakan brutalisme itu (kalau memang ISIS perlu dipahami, bukan direspon dengan apologi)?

Reciprocity

Brutalisme yang dilakukan ISIS bukan hal yang baru sama sekali. Sebagian besar dari cara barbar ISIS dalam menghukum tawanannya punya preseden dalam sejarah. Contoh yang mirip dengan ISIS, yakni hukuman “brutal” (dalam standar sekarang) yang disokong dengan justifikasi keagamaan, adalah Inkuisisi oleh Gereja Katolik. Keduanya memiliki tingkat kebrutalan yang kurang lebih setara. Bedanya: Inkuisisi terjadi di Abad Pertengahan dan zaman itu belum ada video, sementara ISIS di abad 21, abad yang kini rmedia sosial. Kebrutalan yang sama juga terjadi dalam konflik antarnegara, dalam sejarah Perang Dunia misalnya, hanya bedanya tak begitu dikait-kaitan atau diberi pembenaran keagamaan.

Sebagian besar cara penghukuman yang dilakukan ISIS pun sudah pernah dilakukan oleh saudara tuanya: Taliban, al-Qaeda, dan sejenisnya. Dalam beberapa bagian, penghukuman “brutal” itu juga dilakukan Arab Saudi (beberapa video yang belakangan diekspos di jejaring dunia maya mempertontonkan hukuman potong tangan dan pancung yang terjadi di Saudi). Bedanya: ISIS dengan bangga terang-terangan mempertontonkan brutalismenya ke hadapan masyarakat dunia.

Tampak tidak ada standar brutal dalam kamus ISIS. Bagi ISIS, hukuman mati, dengan cara apapun, adalah sama: akhirnya tetap mati. Dibakar hidup-hidup, ditembak, diroket, dibom, dan sebagainya, bagi ISIS, tidaklah beda; persetan dengan bahwa itu dipandang barbar menurut standar abad 21 yang civilized ini.

Kenyataan itu terlihat dari justifikasi ISIS: membakar hidup-hidup pilot Yordania itu, misalnya, dilakukan atas dasar pembalasan setimpal terhadap Yordania yang, menurut ISIS, telah berkoalisi dengan Amerika dalam menerjunkan bom-bom ke wilayah yang kini dikuasai ISIS. Dalam “fatwa” resmi yang disebar ISIS untuk memberi justifikasi keagamaan terhadap hukuman bakar itu, ISIS bahkan mengutip pandangan klasik mazhab-mazhab Sunni yang intinya menyimpulkan bahwa pada dasarnya hukuman bakar tidak diperbolehkan menurut hukum Islam, tapi bisa menjadi boleh bila didasarkan pada asas pembalasan setimpal, reciprocity (atau dalam bahasa fatwa itu: mumatsalah).

Deterrence

Jadi, ISIS melakukan tindakan brutal itu memang dengan sengaja. Barbarisme adalah bagian dari strategi politiknya. ISIS menyebarkannya secara sadar sembari menyampaikan pesan tertentu. ISIS menjadikan brutalisme sebagai branding-nya. Barbarisme bahkan adalah adalah bagian dari ideologi ISIS sendiri.

Dengan menunjukkan brutalisme pada dunia, ISIS memainkan strategi deterrence (dalam istilah Arabnya: al-‘iqab ar-rad’iy), yakni menunjukkan kebengisan untuk menakut-nakuti lawan (dalam konteks hukuman, deterrence ialah paradigma dalam menghukum yang dilakukan untuk menimbulkan efek jera; agar orang yang tahu hukuman itu takut untuk melakukan tindak kriminal serupa).

Hal itu terlihat dalam manual strategi jihadis yang telah jadi semacam buku ajar dalam kurikulum organisasi ISIS. Judulnya Idarah at-Tawahhusy (Manajemen Brutalisme) yang telah ditulis sejak 2004 oleh orang dengan nama samaran Abu Bakr Naji (sejumlah analis menduga ia adalah Abu Jihad al-Mashri, mantan ideolog Jamaah Islamiyyah Mesir), dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Management of Savagery. Buku ini sebelumnya telah dijadikan pedoman oleh al-Qaeda, dan sudah lama menyebar luas di internet.

Buku itu memetakan bagaimana tahap-tahap gerakan “jihadis” bisa masuk. Fase pertama, yang disebut dengan fase syaukah an-nikayah wal-inhak, ditandai dengan mengobarkan sektarianisme, lalu polarisasi sosial, kemudian hilangnya rasa percaya rakyat pada pemerintahan yang tak berdaya menanggulangi friksi. Di titik inilah, gerbang “jihadi” itu masuk mulai terbuka. Dengan ini, negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim mestilah bisa meredam sektarianisme [Sunni-Syiah] yang pada tahun-tahun mutakhir mulai menggejolak dan dikobar-kobarkan oleh beberapa pihak. Sebab jika tidak, narasi yang dibangun ISIS dan gerakan semacamnya akan menemukan momentumnya.

Fase berikutnya tak lain adalah yang disebut idarah at-tawahhusy (manajemen brutalisme) itu. Dalam runtutan strategi yang dibangunnya disebutkan bahwa kekerasan tak bisa tidak digunakan untuk menggulingkan rezim setempat yang dianggap thaghut. Naasnya, brutalisme itu diberi pembenaran dengan merujuk pada beberapa catatan sejarah awal  Islam: tentang sikap Nabi terhadap Yahudi Bani Quraizhah, misalnya, atau perang melawan kemurtadan yang dilakukan oleh khalifah pertama.

Argumen lain yang ternyatakan di buku itu: kekerasan ialah cara untuk menunjukkan kekuatan “jihad” (tentu jihad dalam pengertian menurut ISIS); dan jihad memiliki misi—dalam istilah yang dipinjam dari al-Quran—untuk “turhibuna bihi ‘aduwwallah” (terjemahan harfiahnya: menakut-nakuti atau meneror musuh Allah). Menunjukkan kekerasan adalah bagian dari deterrence itu, bagian dari strategi untuk menanamkan rasa takut di benak musuh dan menujukkan ketiadaan rasa takut untuk bertempur.

Dengan paradigma macam itu, taraf barbarisme ISIS bisa saja akan lebih brutal dari yang sudah dilakukannya. Sebab, brutalisme dipandang ISIS bukan semata cara, tapi juga tujuan: kebengisan, bagi ISIS, adalah identitas.

Islami?

Yang kemudian menjadi imbas dari perilaku ISIS ke dunia Islam ialah munculnya debat: apakah kebrutalan ISIS itu merepresentasikan Islam? Tak bisa dimungkiri bahwa brutalisme ISIS diberi justifikasi keagamaan, dengan mengacu pada sumber-sumber primer Islam, pandangan-pandangan ulama klasik yang banyak dirujuk umat Islam hingga kini, serta beberapa preseden dalam sejarah awal Islam maupun Islam abad pertengahan.

Itulah di antara yang turut menjadi faktor daya tarik (appeal) ISIS. Mereka yang mudah terhanyut oleh dalil-dalil keagamaan yang dipakai ISIS itu, bisa jadi akan membenarkan ISIS, dan menganggap bahwa ISIS itu islami. Pada titik ini, menjadi tugas para intektual juga para ulama berpengaruh untuk mengemukakan counter-tafsir terhadap dalil-dalil yang menjadi justifikasi ISIS. Kalau tidak demikian, atau para ulama diam saja, lambat laun itu akan menambah kesan bahwa tindakan brutal ISIS itu tidak keliru.

— sebagian isi artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, 12/02/2015

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s