Khalifatullah

1) Merujuk ke kamus klasik bahasa Arab (misalnya Lisan al-‘Arab), kata ‘khalifah’ artinya “orang yang menjadi pengganti orang sebelumnya dan menduduki kedudukannya” (alladzi yustakhlafu min man qablahu [istakhlafa: ja’ala fulanan makana fulanin]). Bila setia dengan pemaknaan ini, arti yang tepat untuk ‘khalifah’ adalah pengganti atau suksesor. Karena itu, penerjemahan kata ‘khalifatullah’ dengan ‘wakil Tuhan’ adalah kurang akurat, kalau tak boleh dikatakan tidak tepat.

2) Di dalam al-Quran tidak ada frase ‘khalifatullah’ disebut secara eksplisit. Yang ada hanya ‘khalifah’ saja, atau bentuk jamaknya: khulafâ’ dan khalâ’if. Kata ‘khalifah’ dialamatkan dua kali: kepada manusia/Adam (QS 2:30) dan Daud (38:26). Dari beberapa tafsir terhadap ayat-ayat itu, yang saya setujui adalah: kedua orang itu (manusia/Adam dan Daud) menjadi khalifah bukan sebagai ‘wakil Tuhan’, melainkan ‘pengganti’ dari makhluk/raja sebelumnya dalam mengurus makhluk di bumi.

3) Era empat khalifah pertama tak memakai gelar ‘khalifatullah’. Khalifah I, Abu Bakar, tak mau menyandang gelar khalifatullah, melainkan ‘khalifatur-Rasul’ (suksesor Rasul). Khalifah II, Umar ibn al-Khatthab, memakai julukan ‘khalifatu khalifatir-Rasul’ (suksesornya suksesor Rasul) dan/atau ‘amirul-mu’minin’. Bahkan, para raja dinasti Umawi yang sebagian besarnya diktator pun tak memakai gelar khalifatullah. Sejauh yang saya ketahui, kata khalifatullah baru muncul di masa Abbasiyah, ketika Abu Ja’far al-Manshur mendeklarasikan diri, “Ana khalifatullah fil-ardh (Aku khalifah Allah di bumi)”. Pun saat itu khalifatullah sepertinya belum jadi gelar resmi. Khalifatullah baru menjadi gelar resmi, dugaan saya, sejak akhir Abbasiyah, ketika banyak duwailat (daulah-daulah kecil) yang para rajanya memakai gelar yang dinisbatkan pada Allah (misalnya, yang agak kerap terdengar: gelar “zhillullah” [bayangan Allah di muka bumi]). Poin saya: kalau gelar khalifatullah itu merupakan anjuran, tentulah gelar itu sudah dipakai sejak era perdana Islam. Juga, dilihat dari penggunaan kata ‘khalifah’ pada masa dua khalifah pertama, jelas maknanya adalah pengganti atau suksesor. Dengan pemaknaan ini, kita bisa mengatakan bahwa SBY adalah ‘khalifatu-Megawati’; Jokowi adalah ‘khalifatu-SBY’; Sultan HB X adalah ‘khalifatu-Sultan HB IX’; dan seterusnya.

4) Ibn Khaldun dalam “Muqaddimah” (pasal 26) mengetengahkan perbedaan pendapat tentang boleh/tidaknya memakai gelar khalifatullah. Dikatakannya, sebagian ulama membolehkannya, dengan dasar kekhilafahan manusia secara kolektif (khilafah ‘ammah) di muka bumi (Komentar saya: kalau ini yang dipakai, yang jadi khalifatullah mestilah bukan hanya sultan, tapi semua manusia, termasuk saya dan tentunya Anda). Sedangkan mayoritas ulama, sebagaimana direkam Ibn Khaldun, melarang penggunaan gelar khalifatullah. Alasannya, di samping berdasar pada kebijakan dua khalifah pertama, juga bahwa suksesi itu terjadi hanya jika yang disuksesi sudah tak lagi menduduki kedudukannya dan diganti oleh suksesornya (lianna al-istikhlaf innama huwa fi haqqil-gha’ib, waamma al-hadhir fala). Bagaimana bisa seseorang menjadi khalifatullah, suksesor Allah (menyatakan Allah tak lagi menduduki kedudukan-Nya dan diganti oleh seseorang)?

5) Ide tentang raja sebagai manifestasi, jelmaan, atau mendapat mandat langsung dari Tuhan itu hal yang lumrah dimiliki oleh sultan, kaisar, juga raja-raja di banyak tempat di Abad Pertengahan dulu. Dan ini fenomena lintas agama. Kemungkinan besar ini pengaruh budaya yang dominan di masa itu. Tak terkecuali munculnya gelar ‘khalifatullah’ (dengan makna ‘wakil Tuhan’). Dan implikasi dari ide “raja sebagai jelmaan Tuhan” itu besar: menggugat sabda raja bisa berarti menggugat Tuhan. Kasultanan Yogyakarta mengadopsinya; selain untuk menjadi pembeda dari kasunanan Surakarta sejak Perjanjian Giyanti 1755, juga agaknya mengikuti tradisi Utsmaniyyah. Atau, kemungkinan lainnya, itu adaptasi dari konsep raja gung binatara (raja besar laksana dewa) yang sudah dipakai di Nusantara sebelum ada Mataram Islam.

6) Secara substansi, bila yang dimaksud dengan ‘khalifatullah’ ialah yang punya otoritas untuk menangani urusan pemerintahaan sekaligus keagamaan, bukankah itu sudah terwadahi dalam rangkaian gelar revisi yang disabdakan Sultan? Dalam gelar baru itu ada “Langgeng Ing Bawana Langgeng Langgeng Ing Tata Panatagama”. Justru kalau yang hendak ditekankan ialah tradisi Islam-Jawa yang menjadi ciri khas keraton Yogyakarta, tidak perlu memakai bahasa Arab. Kata banyak orang, di antara karakter Islam Nusantara ialah memproritaskan substansi ketimbang bentuk. Jadi, pemerintahan yang Islami mestilah dimanifestasikan bukan sekedar gelar raja, melainkan, yang lebih penting dari itu, wilayah yang damai, kota yang hijau dan tidak macet, keadilan yang ditegakkan, dan semacamnya.

7) Penghapusan gelar khalifatullah sebenarnya tak perlu jadi persoalan genting, setidaknya dari segi substansi. Tapi tentu, bagi yang mengutamakan bentuk, gelar khalifatullah itu sangat krusial, sebab selain menjadi penanda penting paugeran adat yang dipegang kasultanan Yogyakarta sejak awal, juga sudah ‘dikunci’ di dalam UU Keistimewaan. Di titik ini, kita menanti mana yang akan lebih sakti: Sabda Raja (yang, sebagaimana klaim Ngarsa Ndalem, terilhami oleh wahyu dan pesan dari para leluhur Mataram) atau “Tradisi Suci” keraton.

8) Beberapa ormas Islam keberatan dengan penghapusan gelar khalifatullah itu. Argumen dari NU, sejauh yang saya temui, cenderung mengarah pada gelar itu sebagai simbol Islam-Jawa. Argumen dari ormas-ormas Islam lain agak mirip: penghapusan gelar itu merupakan upaya untuk mencerabut unsur-unsur Islam dari kasultanan Yogyakarta dan/atau memutus ketersambungan kasultanan Yogyakarta dengan kekhilafahan Utsmaniyyah. Bahkan di situs Hidayatullah, ada artikel berita menyebutkan bahwa dalam penghapusan gelar khalifatullah ada pengaruh pluralisme. Tampaknya narasumber yang dirujuk Hidayatullah itu belum mengecek bahwa menurut fatwa ulama Salafi (misalnya, fatwa Lajnah Daimah di sini, yang berdasar pada pendapat Imam an-Nawawi dan al-Mawardi), gelar khalifatullah itu dilarang. Masa’ ulama Salafi mendukung pluralisme? Plis dong, ah!

Tagged: , , , , ,

One thought on “Khalifatullah

  1. izin shaere gus, orasi ilmiahnya mantab.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s