Media, Hadis, Verifikasi

Ketika terjadi kesimpangsiuran pemberitaan media atas suatu peristiwa, pernahkah terlintas di benak antum sekalian untuk membayangkan lalu memperbandingkannya dengan, misalnya, uji verifikasi hadis dalam tradisi Islam? Sesungguhnya membandingkan kedua hal itu bisa membantu antum bermawas diri dan punya secercah kesadaran skeptis saat berhadapan dengan hadis-hadis. Maksud saya begini….

Ambil contoh yang masih anget: insiden Tolikara. Antum tahu, kita kini hidup di abad internet, di mana suatu berita itu benar atau dusta cukup mudah dicek-ricek. Nyatanya kita masih menghadapi kesimpangsiuran berita dan tak sedikit orang jadi korban provokasi (dan parahnya, ada kaum elit yang jadi provokatornya). Hal ini terjadi bukan hanya di level sanad (transmisi berita oleh media), melainkan juga di aspek matan (wording atau redaksinya). Sebagai contoh, antara “musala terbakar” dan “masjid dibakar” berbeda implikasinya dan, mungkin, konsekuensi hukumnya (padahal ‘cuma’ beda awalan “di-” dan “ter-“). Misal lain: menarasikan peristiwa itu sebagai “insiden” saja akan beda jauh dampaknya dengan menyebutnya sebagai “konflik agama”.

Dari segi sanad, memang ada media-media tertentu yang tergesa-gesa memberitakan, sebab ingin mengejar kecepatan ketimbang akurasi, sehingga beritanya bercacat. Tapi media lain bisa segera memunculkan berita lain, dengan kualitas yang jauh lebih baik. Artinya, ada banyak pilihan tersedia dan, jika mau sedikit berpayah-payah, kita bisa mendapatkan keberimbangan informasi (cover both sides). Tak kalah penting, kita punya para aktivis dan para jurnalis nan kritis yang siap memonitori kode etik jurnalisme dan independensi media. Ini membantu kita untuk tak terhasut framing dari media nganu yang menyimpan propaganda sektarian dan tidak pro-rekonsiliasi—satu hal yang mungkin bagi sebagian antum jadi faktor penting untuk menjatuhkan vonis tidak tsiqah (tak terpecaya) bagi media yang bersangkutan (sebagai perawi). Hal lain yang juga tak kalah krusial dalam uji verifikasi: kita bisa mengakses bukti fisik yang sezaman dengan peristiwanya.

Bandingkan dengan periwayatan hadis. Mayoritas hadis diriwayatkan secara ahad. Acapkali ucapan atau perbuatan Nabi hanya disaksikan satu-dua-tiga Sahabat saja. Dari situ, ia disebar ke generasi setelahnya secara lisan (bayangkan kalau-kalau ada kata yang diubah/hilang atau ada ‘korupsi’ fakta yang terjadi dari transmisi oral itu–lha wong wording media abad 21 saja bisa simpang siur). Lalu informasi itu baru ditulis jauh setelah peristiwanya selesai alias post-factum (al-Muwattha’ karya Imam Malik, yang menjadi salah satu kitab kanon hadis terawal, baru ditulis abad 2 H; Sahih Bukhari di abad 3 H). Selain itu, sebagian riwayat itu susah diverifikasi dengan nilai akurasi tinggi karena kita tak mendapati bukti-bukti fisik yang sezaman dengan informasi dalam hadis. Tak kalah penting, terutama saat menyangkut hadis yang bermuatan politis, subyektivitas perawi hadis bisa saja berpengaruh. Seorang perawi boleh jadi dinilai tidak tsiqah semata-mata karena ia berafiliasi ke kelompok atau mazhab yang dianggap menyimpang oleh penulis hadisnya–dengan kata lain, ada sentimen sektarian. Bukankah ini membuka kemungkinan bahwa dalam periwayatan hadis berlaku adagium “sejarah ditulis oleh penguasa” (penguasa di sini bisa saja dimaknai ‘ortodoksi’), dan kita tak mendapatkan keberimbangan informasi (misalnya, dengan tak tersedianya narasi dari pihak oposisi ‘ortodoksi’)?

Ini baru hadis, belum narasi sejarah di kitab-kitab tarikh klasik yang uji otentifikasi riwayatnya tak seketat hadis.

Tagged: , , ,

4 thoughts on “Media, Hadis, Verifikasi

  1. Miftah 25/07/2015 pukul 12:38 Reply

    Seharusnya media mengecek dlu, memverifikasi kebenaran beritanya jgn asal sebar karena nnti akan timbul fitnah dan lain sebagainya..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s