Ontologi Cinta dan Posstrukturalisme

Boleh jadi “cinta” itu tidak ada. Mungkin saja realitas yang oleh banyak orang dinamai “cinta” adalah persepsi belaka: ia ada hanya dalam dunia mental, yang dibentuk melalui bahasa, dan dengan rujukan makna yang tak stabil dan tak menentu. Apa yang disebut orang dengan “cinta” bisa jadi tidak ‘faktual’ ada secara independen, melainkan hanya terduga ada, alias terduga “cinta”.

Orang-orang kerap bicara tentang cinta, tapi acuan maksud kata itu sering berbeda dari satu kepala ke kepala lainnya. Berlembar-lembar puisi sudah ditulis dan ribuan lagu telah digubah dengan menggunakan kata “cinta”, pun belum ada definisi paripurna tentang cinta—bahkan sebelum sampai ke situ, orang-orang sudah berdebat tentang apakah “cinta” bisa didefinisikan. Belum pernah ada konferensi para ilmuwan cinta yang diselenggarakan demi memperoleh suatu mufakat tentang makna dan definisi cinta. Belum pernah ada konsensus internasional tentang status ontologi cinta: apakah ia sebentuk perasaan yang sama sumbernya dengan berbagai perasaan emosional lain seperti marah, benci, bahagia, sedih, suka, risau, dengki, dan sebagainya; ataukah ia suatu entitas (jika memang ia benar-benar ‘ada’ dan bisa dikategorikan sebagai ‘entitas’) yang bukan berada dalam kategori “emosi”, tapi kategori dunia batin yang lain; misalnya seperti spiritualitas atau iman, sebagaimana kata sementara orang. (Tariq Ramadan, cucu Hasan al-Banna, dalam suatu kuliah yang saya dengar via Youtube, suatu kali pernah berujar: “Emotion is to spirituality what physical attraction is to love.”) Belum pernah pula ada ijmak para filsuf tentang epistemologi cinta, tentang bagaimana kita tahu bahwa sesuatu yang ada dalam domain perasaan itu adalah cinta: apakah cinta itu tiba-tiba datang sendiri atau bisa didatangkan; apakah ia tumbuh di luar kendali ataukah ia bisa ditumbuhkan dengan sengaja.

Kalaulah ada yang hal yang jelas tentang sesuatu yang dinamai “cinta” itu, ialah bahwa yang dinamai “cinta” itu bukan barang yang kasat mata, dan karena itu penjelasan tentangnya tidak bisa disamakan dengan penjelasan tentang apa itu kursi, apa itu meja, apa itu lemari. Yang dinamai “cinta” tidak konkret, melainkan abstrak. Pun keabstrakan “cinta” bukan sekedar abstrak; ia abstrak hingga taraf susah—kalau bukan malah tak bisa—dijelaskan dengan konseptualisasi rasional. Oleh karena itu, kita tak bisa melakukan objektivasi pada “cinta”, seakan-akan “cinta” bisa diperlakukan sebagai suatu benda yang obyektif sebagaimana klaim-klaim obyektif dari para saintis ilmu-ilmu ‘alam’ (Naturwissenschaften) saat menentukan kecepatan suatu gerak, kandungan zat, atau perilaku mikroba di laboratorium fisika, kimia, atau biologi. Memakai istilah yang khas dalam kajian hermeneutika, “cinta” diketahui melalui ‘memahami’ (Jerman: verstehen), bukan ‘menjelaskan’ (Jerman: erklären).

Karena tak bisa diobjektivasi itulah, bisa dimengerti bila kemudian banyak orang bilang bahwa cinta tak bisa didefinisikan, sebab begitu cinta diupayakan untuk didefinisikan, ia bukan lagi cinta. Cinta, kata mereka, adalah untuk dirasakan, bukan didemonstrasikan melalui konsep-konsep rasional. Cinta ialah sesuatu yang dipahami dengan meng-alam-inya, dengan penghayatan (erlebnis). Segala bahasa yang dipakai untuk menjelaskan “cinta” tak bisa dianggap mewakili pengalaman dan penghayatan itu; dan karena itu segenap penjelasan tentang cinta ialah reduksi terhadap keseluruhan realitas yang dinamai “cinta” itu. Analogi tentang rasa yang bisa dipakai untuk memahami hal ini bisa kita ambil, misalnya dengan tamsil rasa buah. Jeruk dan semangka, misalnya, berasa manis, tapi kata “manis” tak mewakili keseluruhan realitas rasa jeruk dan semangka. Juga, sekalipun kata yang dipakai sama, yaitu “manis”, rasa manisnya jeruk dan manisnya semangka jelas berbeda. Kalau hendak tahu manisnya kedua buah itu, ya makan dan rasakan sendiri; ia diketahui lewat cerapan indera perasa, bukan konseptualisasi di pikiran. Namun demikian, “cinta” jauh lebih dari sekedar rasa buah-buahan, sebab ia dicerap melalui dunia mental yang melampaui panca indera—analogi itu sekedar untuk memudahkan saja. Dalam asumsi bahwa “cinta” adalah suatu entitas emosi, bisa dikatakan bahwa menjelaskan apa itu “cinta” sama rumitnya dengan menjelaskan apa itu benci, apa itu marah, apa itu bahagia, dan seterusnya.

Lalu bagaimana kita menjelaskan apa yang dinamai “cinta” itu kalau tak bisa didefinisikan? Media kebahasaan yang dipandang paling memadai untuk menjelaskan “cinta” ialah puisi dan metafora-metafora, sebab puisi akan menyasar dunia mental manusia dengan segala kompleksitasnya—dimensi rasa, begitu kata orang-orang. Kalaulah cinta hendak dijelaskan dengan bahasa yang nir-metafora, paling maksimal orang hanya bisa menjelaskan cinta dalam deskripsi positif (what is) dan negatif (what is not), bukan definisi sempuna-obyektif: orang hanya mengatakan bahwa suatu perasaan A adalah “cinta”, dan bahwa suatu perasaan B adalah bukan “cinta”, tapi masih tetap tak bisa menjelaskan mengapa perasaan A disebutnya “cinta”, sedang perasaan B disebut bukan “cinta”. Bahkan orang-orang tak bersepakat tentang lawan kata “cinta”. (Well, orang mengatakan bahwa antonim “cinta” ialah “benci”, tapi Anis Mansour tak setuju. Kata Anis Mansour, lawan kata cinta bukanlah benci, melainkan tak peduli; orang yang benci masih punya peduli pada yang dia benci. Cinta dan benci berbagi karakteristik, yaitu peduli, dan barangkali karena inilah perubahan dari benci menjadi cinta dimungkinkan, sebab ada penyambung berupa kepedulian itu.) Tanpa metafora, deskripsi tentang “cinta” berpotensi besar untuk mereduksi keseluruhan realitas “cinta” itu. Deskripsi yang datar ala kamus cenderung memperlukannya sebagai benda, sedang metafora akan menimbulkan kesan aksi dan tergambar kuat dalam mentalitas. Bandingkan antara bagaimana kamus Merriaw-Webster menjelaskan love (yakni, “a feeling of strong or constant affection for a person”) atau KBBI tentang “cinta” (yakni, “suka sekali”, “sayang benar”—penjelasan yang teramat simpel) dan sepenggal bait dalam puisi Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul “Satu”: “Daging kita satu, arwah kita satu/ Walau masing jauh/ Yang tertusuk padamu berdarah padaku.” Begitulah, pada titik ini kita mendapat perspektif tentang tidak mudahnya menjelaskan cinta dan mewadahinya dalam bahasa dengan susunan kata.

Pun sampai di sini, sebenarnya perbincangan tentang status ontologis “cinta” masih jauh dari selesai. Dengan menelisik lebih dalam bagaimana “cinta” dijelaskan dalam uraian di atas, terdapati beberapa asumsi mendasar tentang bagaimana “cinta” diperlakukan. Uraian di atas mengasumsikan bahwa realitas yang dinamai “cinta” itu benar ada dan berada dalam dunia mental yang bisa diperlakukan sebagai obyek di mana kita, sebagai yang hendak memahami apa itu “cinta”, seolah bisa menjarakkan diri dari diri sendiri dan melampaui dunia mental itu, dunia yang menjadi pondasi eksistensi kita sendiri. Problem obyektivitas ini pada gilirannya menyisakan semacam krisis epistemologi: bagaimana bisa kita memahami dunia mental sementara kita memahaminya juga melalui dunia mental dan kita berada dalam dan tak bisa lepas dari dunia mental itu? Di samping itu, uraian di atas juga masih menyiratkan asumsi bahwa realitas  yang dinamai “cinta” itu identik atau sama belaka dengan kata “cinta” yang diniatkan untuk mengacunya, seakan-akan tak ada problem mendasar dalam struktur relasi antara kata dan makna; problem yang menjadi medan kritik utama dari tren filsafat bahasa mutakhir.

Untuk memahami kesenjangan kata dan makna itu, kita bisa mulai dengan meminjam perspektif dari epistemologi Kantian yang dikenal, antara lain, dengan adanya distingsi antara noumenon dan phenomenon. Yang pertama, noumenon, adalah realitas sebagaimana dirinya sendiri (thing in itself atau thing as such; istilah Jermannya: Ding an sich). Sedangkan yang kedua, phenomenon, ialah manifestasi realitas itu sebagaimana dicerap dunia mental kita (phenomenon ialah thing that appears atau thing that is experienced). Dalam distingsi ini, pada dasarnya kita tak bisa memahami sepenuhnya realitas sebagaimana dirinya sendiri; yang kita pahami ialah realitas yang telah tertafsir melalui dunia mental. Pemahaman ini didasari oleh ide bahwa, selain dunia mental kita memiliki keterbatasan, kita tak bisa menjadi ‘obyek’ realitas itu sendiri. Untuk sekali lagi meminjam istilah dalam kajian hermeneutika, kita tak bisa melakukan “divinasi” terhadap realitas itu, yakni mengubah diri menjadi ‘obyek’ realitas itu secara sepenuhnya dengan sekaligus kehilangan eksistensi diri kita. Realitas, dengan demikian, selalu dipahami melalui labirin-labirin subyektif dari dunia mental, yang sekaligus menandakan eksitensi diri. Dan dengan asumsi bahwa realitas adalah obyek, cerapan subyektif kita tak bisa seratus persen identik dengan realitas itu sendiri—dari sinilah muasal debat tentang subyektivitas-obyektivitas yang pada gilirannya memunculkan istilah “pendekatan” (approach) terhadap realitas dalam berbagai disiplin ilmu, karena realitas paling maksimal adalah didekati dan pemahaman kita tidak bisa sama persis dengannya.

Persoalan yang kemudian menjadi salah satu bahasan utama filsafat bahasa ialah apakah yang disebut realitas itu bisa diandaikan ada dengan sendirinya sehingga kita tinggal memberinya nama apapun secara arbitrer? Ontologi realitas itu bukannya tanpa problem sebab, sekali lagi, kita memahami realitas itu selalu melalui dunia mental subyektif, dan kita tak bisa lepas darinya. Dalam perspektif subyektivis, bagaimana kita tahu akan realitas selalu dicerna melalui dunia mental yang kemudian diproyeksikan keluar sebagai entitas yang diberi nama “realitas”. Dari sinilah lalu muncul pertanyaan lanjutan tentang mana yang lebih dahulu: realitas sebagaimana dirinya sendiri atau strukturisasi kita akan realitas itu yang diwadahi dalam bahasa? Kita berpikir melalui bahasa dan, pada saat yang sama, cara berpikir kita dibentuk oleh bahasa yang kita gunakan untuk menstrukturkan realitas itu. Dan dengan melanjutkan asumsi akan adanya proses strukturisasi ini, apa yang disebut realitas bukanlah sesuatu yang natural (dalam arti sebagaimana dirinya sendiri, atau sebagai noumenon), tapi ia adalah konstruksi.

Dari sinilah kita bisa mulai melandaskan dasar untuk memahami ontologi realitas yang dinamai “cinta”. Pertanyaannya: apakah realitas yang dinamai “cinta” itu ada dengan sendirinya sebagaimana dirinya sendiri ataukah ia diproyeksikan ada sedemikian rupa di mana proyeksi itu dimungkinkan karena kita punya kata “cinta”? Dengan istilah ala strukturalisme, apakah acuan makna atau ‘petanda’ (signified) “cinta” sudah ada secara obyektif sehingga urusan kita sekedar membubuhi ‘penanda’ (signifier) baginya berupa kata “cinta”? Mana yang lebih dahulu: apakah “cinta” dan selaksa makna yang diacunya telah ada sebelum kata “cinta” ataukah kata “cinta” itu justru yang mengkonstruksi makna-makna itu?

Salah satu dari dua kemungkinan jawaban dari pertanyaan terakhir itu, sebagaimana ditulis di awal tulisan ini: boleh jadi “cinta” itu tidak ada. Dengan kesadaran akan adanya konstruksi akan realitas bernama “cinta” itu, “cinta” itu tidak ada; yang lebih tepat adalah “cinta” itu diadakan. Dunia mental yang mencerap realitas yang kemudian dinamai “cinta” itu ada karena kita mencipta (invent) kata “cinta” sekaligus segenap acuan maknanya. Alih-alih cinta ada dan kita menjadi subyek pasif yang tinggal mengalaminya, penanda berupa kata “cinta”-lah yang mencipta petanda “cinta”. Dengan demikian, bila diandaikan bahwa asumsi-asumsi ini benar, sebenarnya cinta adalah konstruksi pikiran; cinta tercipta setelah ada kata “cinta”.

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s