Review Film “Bajrangi Bhaijaan”

Semalam saya baru saja menonton film India Bajrangi Bhaijaan (selanjutnya disebut BB), film yang dirilis pada Juli 2015 dan diproduksi oleh Salman Khan Films dan Kabir Khan Films. Film ini, menurut info dari Simbah Wikipedia, kini menjadi film India yang paling laris kedua sepanjang sejarah Bollywood di bawah PK, film keagamaan-satirikal yang dirilis pada akhir tahun lalu dan dibintangi Aamir Khan dan Anushka Sharma itu. Saya tidak tahu persis mengapa film ini bisa di bawah PK. Bagi saya secara personal, BB lebih apik ketimbang PK, juga 3 Idiots, film 2009 yang juga dibintangi Aamir Khan dan menjadi film India paling favorit bagi saya sebelum kini pindah ke BB. Pun meski dalam segi pendapatan internasional masih di bawah PK, menurut info dari Simbah Wikipedia BB menjadi film yang paling banyak ditonton setelah diangkat ke layar TV, bahkan mengalahkan rekor PK dan 3 Idiots. Hal ini boleh jadi karena iklan BB secara internasional tidak segencar PK. Di media sosial di Indonesia, pembicaraan tentang BB pun tidak sesemarak pembicaraan tentang PK. Nah, dalam rangka ikut mengampanyekan nonton film BB, karena saya merasa film ini mestinya masuk dalam daftar wajib tonton bagi orang Indonesia, di sini saya mau berbagi tafsir dan kesan subyektif saya terhadap film BB. Namun sebelum bicara lebih jauh, perlu kiranya saya mengingatkan bahwa tulisan ini mengandung spoiler. Karena itu, kalau para pembaca tak ingin kehilangan surprise saat menonton BB, lebih baik nonton dulu filmnya baru melanjutkan baca tulisan ini. Namun bila para pembaca yang belum nonton filmnya tak punya masalah dengan spoiler, ya silakan lanjutkan baca.

***

1) Aktor utama BB adalah Abdul Rashid Salim Salman Khan dan Harshaali Malhotra, sedangkan aktor pembantunya adalah Kareena Kapoor dan Nawazuddin Siddiqui. Salman Khan berperan sebagai Pawan Kumar Chaturvedi, yang kadang dipanggil dengan “Bajrangi” karena ia seorang penyembah yang sangat saleh terhadap Bajrang Bali alias Hanuman, dewa monyet yang cerita tentangnya cukup familiar bagi orang-orang tua di Jawa (pada 1990-an ada lagu campur sari yang dinyanyikan Didi Kempot berjudul Anoman Obong) . Adapun Harshaali Malhotra berperan sebagai Shahida, gadis cilik 6 tahun yang manisnya keterlaluan dan pipinya nyempluk menggemaskan; hanya saja ia bisu, sehingga ketika ia ditemukan Pawan dan tidak bisa menyebutkan nama aslinya, Pawan memanggilnya “Munni” (awalnya saya kira ini mirip kata dalam bahasa Jawa, muni, yang artinya “bersuara”, tapi setelah saya tanya Simbah Google, artinya adalah “gadis manis”). Pawan orang India, dari daerah Kurukshetra (yang mengingatkan pada medan perang Baratayudha dalam kisah Mahabharata), sedangkan Shahida berasal dari Sultanpur, Kashmir, yang berada di wilayah Pakistan (sebagian daerah Kashmir ada di wilayah India; dan mayoritas orang Kashmir adalah Muslim).

2) Dari beberapa review tentang BB yang saya baca di internet, banyak yang mengatakan bahwa di film inilah akting terbaik Salman Khan sepanjang karirnya. Saya sangat bersepakat, dan film ini membuat saya sempat melupakan kehidupan personal Salman Khan di luar dunia perfilman. Juga, di film ini Salman Khan tampak seperti hendak mengubah karakter yang kerap diasosiasikan denganya. Di akting-aktingnya dalam film-film sebelumnya, Salman Khan identik dengan peran sebagai orang yang kuat dan gemar berkelahi—ia kadang dijuluki “The Tiger of Bollywood”. Namun di film ini, sekalipun ia masih melakukan adegan berkelahi, Salman Khan berperan lebih menonjol sebagai orang yang sangat saleh dalam beragama: Pawan adalah vegetarian, jiwa sosialnya tinggi, tak mau berbohong bahkan dalam kondisi spesifik di mana berbohong relatif bisa ditolerir (ia begini dengan alasan yang ‘lugu’, yakni semata karena ia, sebagaimana ia menjuluki dirinya, “murid Brajang Bali”), dan yang lebih penting lagi adalah ia orang yang besar rasa kasihnya terhadap anak, sekalipun beda agama. Pun demikian, meski di film inilah akting terbaik Salman Khan, saya bersetuju dengan Kareena Kapoor yang mengatakan bahwa akting terbaik di BB jatuh pada Harshaali Malhotra: mimik wajah dan gerak tubuhnya dalam peran sebagai Shahida/Munni, sekalipun bisu, benar-benar menghanyutkan dan cute dengan segala maknanya, sebegitu cute-nya hingga saya tak tega melihatnya menangis dan marah sekali kalau ada yang melukainya. Adapun tentang Kareena Kapoor yang berperan sebagai Rasika—meski saya ingin peran itu dilakukan oleh Anushka Sharma atau Katrina Kaif—aktingnya juga bagus, utamanya dalam berdebat dengan orang tua (seperti dalam 3 Idiots).

3) Lagu-lagu latar (OST) di film BB juga bagus-bagus (saya tahu, ini tentu sangat subyektif). Saya suka semua lagu-lagu di film itu, meskipun tidak ada di antara lagu-lagu itu yang dinyayikan oleh Shreya Ghosal, salah satu diva-nya India yang belakangan menjadi favorit saya. Lagu latar yang paling saya suka di film itu adalah “Chicken Song”, yang dinyanyikan saat momen menghibur Shahida yang rindu ibunya (ingat, Pawan adalah vegetarian, sedangkan Shahida suka makan ayam; dan di sini terlihat toleransi Pawan). “Chicken Song” ini lagu yang riang dan enak di telinga; bagi Anda yang suka menggubah lagu-lagu kasidahan, irama “Chicken Song” barangkali cocok dipinjam. Lagu kedua favorit saya adalah “Bhar Do Joli Ya Muhammad”, lagu tradisional sufistik yang populer bagi Muslim Pakistan dan India, yang kadang dinyanyikan dalam “qawwali” (setelah saya cari di Google, ternyata kata ini berasal dari bahasa Arab, qaul, yang artinya “perkataan/ujaran”, yang kemudian diserap dalam bentuk isim fa’il mubalaghah, yakni qawwal, yang berarti “yang banyak berujar”). Qawwali ini semacam kasidahan, atau barangkali lebih tepatnya senandung madah dan shalawatan, mungkin bisa dibandingkan dengan tradisi rebana atau asyroqolan di Nusantara, dan biasa dinyanyikan di dekat makam para wali/sufi di Pakistan/India (lebih jauh tentang ini, silakan seluncuri Google). Di samping soal lagu, sebagaimana umumnya film India, Bajrangi Bhaijaan juga mengandung tari-tarian. Beberapa orang tidak suka dengan tari-tarian di film India, tapi saya secara personal menyukainya. Bagi saya, tari-tarian di film India itu punya nilai estetika tersendiri (bikinnya susah, lho!) dan sebagian darinya—terutama yang tak menonjolkan fisik perempuan—agaknya punya nilai spiritual (ingat film Life of Pi), sehingga jangan dibandingkan dengan joged-jogedan boy/girlband ala Korea dan/atau Cherrybelle/JKT48 apalagi dangdut koplo di Indonesia, tapi bandingkan dengan tari-tari tradisional Nusantara (yang juga ada nilai filosofisnya). Di samping itu, melalui tari-tarian itulah film-film India mempunyai keunikannya. Bagi orang yang belum pernah ke India (termasuk saya), budaya India dan identitas “keindiaan” dicerap ke dalam persepsi masyarakat internasional melalui film-film Bollywood.

4) Yang lebih penting dari semua uraian di atas, tentu, adalah konten filmnya. Menurut saya, plot kisah BB sebenarnya relatif sederhana: tentang Shahida yang terlepas dari keluarganya di Pakistan, lalu ditemukan oleh Pawan di India, kemudian Pawan berjuang keras membawa Shahida balik ke Pakistan untuk bertemu keluarganya. Ruh dari film ini menurut saya ada tiga. Pertama, kritik terhadap hubungan bertetangga yang tak harmonis antara India dan Pakistan. BB dengan cukup satir menyindir tentang betapa lebih mudahnya bagi orang Pakistan/India untuk mendapatkan visa ke Amerika daripada ke India/Pakistan (soal ini juga dikritik oleh film PK melalui kisah cinta Sarfaraz [Muslim Pakistan] dan Jaggu [Hindu India]). Sindiran juga diarahkan pada betapa soal India-Pakistan adalah isu yang rawan dipolitisasi, hingga dalam taraf tertentu abai terhadap hal yang semestinya mengatasi rivalitas politik, yaitu rasa kemanusiaan. Kedua, tentang kekeluargaan. Saya menyadari, keluarga adalah topik yang efektif dipakai untuk menyasar kehidupan personal orang-orang dan karena itu keluarga adalah topik yang sentimentil (makanya banyak acara motivasi memaanfaatkan perasaan sensitif ini). Pun walau sadar akan hal ini, saya masih tak kuasa untuk menahan haru saat nonton film itu. Sekalipun tak semengharukan film Kabhi Khushi Kabhi Gham (2001) dalam mengaduk-aduk rasa sentimentil akan keluarga, BB nyatanya berhasil membuat mata saya keringetan beberapa kali. Ketiga, yang lebih berkesan bagi saya, adalah bagaimana agama direpresentasikan di film itu, juga soal pesan akan kebaikan hati yang mampu melampaui identitas keagamaan (dari judul filmnya sudah tampak: Bajrangi Bhaijaan artinya “Saudara/Akhi Bajrangi”). Dalam soal terakhir ini, BB dan PK adalah dua film yang sangat pas diperbandingkan.

5) Tafsir saya terhadap bagaimana agama direpresentasikan dalam film BB dan PK ialah: bila PK cenderung kritis dan satirikal terhadap agama, BB cenderung apresiatif bahkan bisa menunjukkan kekuatan penggerak positif yang dimiliki agama. Memang ada sisi positif dari esensi agama yang dihadirkan PK, yakni tentang seperti apa pencarian “Tuhan” yang murni,  Tuhan yang belum ‘dikorupsi’ para agamawan. Di sisi lain, juga ada sedikit sisi satirikal dalam BB, yakni potensi agama yang bisa membelah atau mempolarisasi masyakarat. Namun demikian, secara umum (in general) PK tampak ingin menonjolkan efek negatif dari sisi irasionalitas agama, sedangkan yang ditonjolkan BB ialah bahwa, meski punya elemen irasional, agama bisa menggerakkan pemeluknya kepada perbuatan baik. Representasi agama di film PK, bagi saya, mengandung perspektif Marxis, yaitu agama sebagai instrumen atau alat yang potensial dan efektif dipakai-dieksploitasi oleh para elit, baik agamawan, politisi, maupun orang-orang borjuis, untuk memanipulasi orang-orang di bawah atau kaum proletar. Ingatlah bagaimana perspektif Marxis menggambarkan agama, yakni—sebagaimana kutipan yang sudah terkenal—agama sebagai “desahan orang yang ditindas” (the sigh of the oppressed) atau “candu masyarakat” (the opium of the people). Perspektif ini tergambar kuat dalam film PK terutama melalui tokoh Tapasvi Maharaj yang suka ngomong Bam Bam Bole itu. Perspektif Marxis ini, meski terasa ofensif bagi para pemeluk agama, pada kenyataanya ia terjadi dalam realitas di banyak tempat (termasuk di negeri kita: agama tak jarang jadi alat kampanye yang efektif untuk mendulang dukungan juga menyerang bahkan memfitnah rival politik). Namun memandang agama dalam perspektif Marxis itu juga reduksionistik, sebab agama bukan saja soal potensinya menjadi instrumen, melainkan juga agen. Yang terakhir inilah yang coba ditonjolkan dalam BB. Ini tampak terutama melalui karakter Pawan, seorang pemeluk agama yang sangat taat dalam menyembah Hanuman dan karena itu menunduk di hadapan monyet (kalau ini terjadi di PK tentu akan dikritik), namun justru karena kesalehannya itulah ia menjadi orang baik, orang yang jujur, bahkan terlalu jujur sampai dianggap ‘gila’, dan—memakai istilah Islam—sangat wara’ atau cenderung menjauhi hal-hal yang syubhat dan hati-hati sekali kalau sampai melanggar ajaran Bajrang Bali. Bila PK saya tafsirkan sebagai mengandung perpektif Marxis, BB dalam penafsiran saya mengandung perspektif Tillich yang memandang agama sebagai “the state of being grasped by an ultimate concern”: dalam pengalaman keberagamaan, orang bisa tenggelam dalam genggaman Yang Sakral, Yang Ada secara absolut dan melampaui (beyond) semua hal, yang punya kekuatan—meminjam istilah Rudulf Otto—“mysterium tremendum et fascinans, atau kekuatan yang menggentarkan dan menggetarkan.

6) Hal lain yang tak kalah penting dalam penggambaran tokoh Pawan di BB ialah, kesalahennya tak kemudian membuatnya jadi orang yang eksklusif terhadap agama lain. Justru ketaatannya pada ajaran Bajrang Bali itulah yang menjadi kekuatan penggerak dalam berjuang mengembalikan Shahida yang Muslim kepada keluarganya, bahkan mengambil segala risiko dalam menyeberangi batas negara India-Pakistan. Begitu mengambil pilihan itu, Pawan tak mau mundur semata karena janjinya kepada Bajrang Bali untuk tak kembali sebelum Shahida bertemu keluarganya. Di sini, sekali lagi, agama berfungsi menjadi agen, alih-alih alat untuk memanipulasi masyarakat. Dan kalau kita menggabungkan bagaimana representasi agama di PK (agama sebagai faktor pemecah belah) dan BB (agama sebagai kekuatan toleransi), kita bisa mengerti akan adanya dua wajah agama, dua wajah ambigu yang disebabkan oleh pengalaman terhadap Yang Sakral. Inilah kurang lebih yang disebut oleh Appleby sebagai “the ambivalence of the sacred”: karena Yang Sakral itu tak empiris-obyektif, ia potensial dimanipulasi untuk menjadi kekuatan perusak, namun di sisi yang lain Yang Sakral itu sama kuatnya dalam menggerakkan orang untuk berbuat baik.

7) Di BB, sesekali relijiositas Pawan sempat membuatnya jadi eksklusif. Ini tampak ketika ia tahu bahwa Shahida adalah Muslim (di daerah Pawan, Muslim bahkan disebut “Mohammedan”), dan setelah tahu hal itu Pawan sempat berkata pada Rasika bahwa Shahida telah mengkhianatinya. Namun kemudian Rasika berhasil menyadarkan dan meyakinkan Pawan bahwa kebaikan hati melampaui batas-batas agama itu. Dan yang menarik, Rasika bukan memakai argumen rasional-satirikal seperti dalam PK, melainkan dengan merujuk pada kisah Mahabharata, pada wejangan Krishna terhadap Arjun. Fragmen seperti ini membawa pada kesimpulan bahwa untuk menjadi inklusif, seseorang tak harus selalu dikritik dengan logika rasional-argumentatif, melainkan bisa dengan ajaran yang sudah tersedia dalam tradisi. Di sinilah salah satu letak perbedaan antara PK dan BB. Bila PK cenderung mengkritik secara esensialis terhadap tradisi agama, BB mengingatkan akan hal-hal yang baik yang ada dalam tradisi agama. PK melawan dengan logika dan karena itu cenderung menyasar pikiran, BB melawan dengan aksi dan kebaikan hati dan karena itu cenderung menyasar jiwa/spiritualitas. Di samping itu, PK cenderung mempersepsikan ajaran agama sebagai institusi yang tidak serta merta identik dengan Tuhan, sebagaimana tercermin dalam perkataan tokoh PK tentang adanya dua jenis Tuhan: Tuhan yang mencipta dan Tuhan yang kita ciptakan. Ide ini, dalam filsafat agama, mengingatkan saya pada John Hick yang terpengaruh epistemologi Kantian: Tuhan sebagai noumenon (atau Tuhan sebagaimana Diri-Nya sendiri) tidaklah identik dengan Tuhan sebagai phenomenon (Tuhan yang kita persepsikan). Sementara itu, BB berupaya menunjukkan bahwa, meski agama telah menjadi institusi yang berbeda-beda dan setiap agama adalah unik, agama-agama memiliki nilai-nilai yang menjadi titik temu yang berada dalam akar tradisi masing-masing dan dengan cara masing-masing. Hal ini, dalam filsafat agama, mengingatkan saya pada Seyyed Hossein Nasr: di dalam jantung agama-agama ada sesuatu yang unik namun bermuara pada Tradisi (dengan T kapital) yang sama, dan Tradisi ini bisa ditemukan hanya dengan berada dalam agama dengan keunikannya masing-masing, bukan dengan merelatifkan agama-agama. Dalam perbandingan sederhana, salah satu perbedaan Hick dan Nasr dalam memandang agama ialah: bila Hick melakukan relativisasi tradisi keagamaan, Nasr melakukan revitalisasi tradisi keagamaan. Dan dalam penafsiran saya, PK cenderung Hickian sementara BB cenderung Nasrian.

8) Hal lain yang menarik saya soal representasi agama di BB ialah bagaiman agama berjalin-kelindan dengan tradisi setempat atau bagaimana agama terpribumikan dalam konteks lokal. Terutama terkait Islam, tradisi qawwali itu menarik, juga tradisi ziarah kubur dan tawassulan ke makam wali (di fim BB, ini dilakukan ke makam Hazrat Amin Shah Dargah). Boleh dibilang, kalau di sini ada “Islam Nusantara”, Islam yang direpresentasikan di BB ialah “Islam Asia Selatan”. Dalam soal ini, saya hingga kini berhipotesis bahwa di mana-mana, di berbagai belahan dunia, Islam yang berkembang pesat ialah Islam yang terakulturasikan ke dalam kultur setempat. Hipotesis ini tentu berasumsi bahwa gerakan Salafisme, yang ingin menyeragamkan ekspresi keislaman di mana-mana, jangan-jangan adalah fenomena belakangan, yang berkembang seturut modernitas, dan bukan fenomena keislaman yang sudah mentradisi berabad-abad di banyak tempat. Dan untunglah BB mengangkat mode keislaman yang terakulturasikan ini. Kalau yang diangkat itu model keislaman yang memusuhi tradisi, saya tidak mau membuat tulisan ini. Di pertengahan nonton film, saya pun sempat terbersit soal itu. Ini karena kesan yang selama ini identik dengan Pakistan ialah Pakistan itu negara Islam, dan keislaman di sana cenderung eksklusif. Namun BB tampak ingin melawan kesan itu dengan adanya, antara lain, tokoh Maulana Sahab, seorang guru madrasah. Saat Pawan ragu boleh atau tidak ia yang bukan Mohammedan (non-Muslim) masuk ke masjid, Maulana Sahab menimpali, “Tempat ini terbuka untuk semua orang, dan karena inilah kami tak pernah mengunci masjid.” Di samping itu, Maulana Sahab tanpa ragu membantuk Pawan, sebab ia tahu yang dilakukan Pawan adalah perbuatan mulia. Maulana Sahab pun tak berkeberatan melakukan salam “Jai Sri Ram” kepada Pawan, salam yang nantinya juga diucapkan oleh Shahida ketika di akhir film ia mampu berbicara—dan dengan akhir semacam ini tampak BB ingin mengakhiri filmnya dengan cara happy ending, cara yang boleh dibilang klasik.

9) Demikianlah. Uraian-uraian di atas ialah tafsir saya terhadap film BB. Anda yang telah menonton sangat mungkin punya tafsir-tafsir lain. Film memang bisa dibaca sebagai suatu ‘teks’ yang terbuka terhadap berbagai penafsiran. Bedanya, ‘teks’ dalam makna yang sempit, yakni berupa tulisan atau simbol-simbol kebahasaan, tidak semultitafsir dibanding film sebagai kisah dalam gambar bergerak. Menafsirkan film hampir sama tidak mudahnya dengan menafsirkan realitas kehidupan sehari-hari. Tapi di sinilah letak seninya: dengan keterbukaan tafsirnya, juga sebagai cermin realitas kehidupan, film bisa menyampaikan pesan yang tidak bisa disampaikan bahkan oleh berlembar-lembar tulisan, termasuk tulisan ini. Jadi, bagi yang belum nonton, segera tontonlah film Bajrangi Bhaijaan. Pun bagi yang sudah nonton dan kemudian membaca tulisan ini, tidaklah haram hukumnya untuk menonton lagi.

Tagged: , , , ,

5 thoughts on “Review Film “Bajrangi Bhaijaan”

  1. pambuditri 03/11/2015 pukul 20:02 Reply

    Mas Azis Lebih bagus filmnya atau ulasannya nich? He he he.. Jadi penasaran.

    Pambudi Sent from my ASUS

    Suka

  2. Delsa 18/02/2016 pukul 15:09 Reply

    mntap ulasan mimin, dan saya stuju smua yg mimin smpaikan d atas itu..
    overall, i love this movie

    Suka

  3. syva 19/02/2016 pukul 12:37 Reply

    kerren.. semalem saya baru nonton. mewek parah..😥
    ulasan mimin juga ga jauh lebih keren, tp saya penasaran dengan film PK. ada link nya ga ? mohon share🙂

    Suka

  4. rendy 21/02/2016 pukul 08:04 Reply

    adegan yang paling q suka dikutip dipesan moral ayah nya rasika bilang pada pawan, pernahkah engkau naik pesawat??? pawan menggeleng, si ayah berkata q pernah 1 x lalu apa yang pramugari bilang!!!! pakailah masker oxigen mu dahulu baru pakaikan yang lain, inti nya usahakan kita sukses dahulu baru bantu yang lain. sip deh film bb banyak pesan moral yang ditampilkan.untuk ulasan nya keren.

    Suka

  5. Triadi 05/05/2016 pukul 23:59 Reply

    Ulasannya luar biasa…saya sependapat dengan penilaian mas Azis..
    Filmnya keren..baru selese nonton ini…banyak sekali pesan2 moral yang disampaikan..
    Masih kebayang sama wajahnya si Munni..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s