Homoseksualitas dan Fikih

Dalam tiga minggu terakhir, mayoritas status di beranda Facebook-ku adalah soal LGBT. Iya, Facebook yang barangkali kamu buka rutin seperti minum obat (tiga kali sehari) atau waktu salat (lima kali sehari) itu; yang, tentu kamu sudah tahu, dibikin oleh Mark Zuckerberg, yang lahir di keluarga Yahudi dan kini ateis itu, yang terang-terangan mendukung LGBT dan karena itu berpotensi dilarang kalau-kalau Facebook masuk dalam kategori “mempropagandakan LGBT”. (Jadi, mulailah membayangkan hidup tanpa Facebook.)

Rata-rata orang pada memperdebatkan apakah homoseksualitas itu persoalan nature atau nurture; given atau socially constructed; bawaan atau penyimpangan; normal atau penyakit; dan seterusnya, dan seterusnya. Karena soal ini sudah banyak—atau mungkin sudah terlalu banyak—yang membahas, dan lagipula latar studiku bukan biologi, neurologi, psikologi, antropologi dan disiplin sains yang terkait, aku serahkan saja soal itu kepada para saintis—yang benar-benar saintis, tentu saja, yang memahami betul dasar filsafat sains, dan bukan saintis dadakan. Aku berharap para saintis yang benar-benar saintis itu menulis secara argumentatif dan populer, demi membantu para awam seperti aku ini untuk membedakan sains yang sejati dari yang pseudo-sains; biar tak mudah tertipu oleh sesuatu yang tampaknya saintifik padahal sejatinya selubung emosi dan kebencian (baik oleh yang pro- maupun anti-LGBT).

Anyhow, yang sebenarnya agak kurang mendapat pembahasan justru adalah bagaimana Islam—lebih persisnya hukum Islam, atau lebih tepatnya lagi fikih—menyikapi homoseksualitas. Orang-orang tampak menerima begitu saja pernyataan “homoseksualitas itu haram atau dilarang agama”. Maka di poin ini, perkenankanlah diriku, manusia yang fana ini, untuk ikut bicara.

Tapi sebelum lanjut, biar pikiranmu bisa lebih kalem dan tak keburu emosi, aku harap kamu tarik nafas dulu; seduh kopi kalau ada. Tenang, penjelasan fikih yang aku uraikan berikut sepenuhnya berdasar pada fikih klasik.

Jadi begini….

Pernyataan “homoseksualitas itu haram” itu maksudnya apa? Maksudku, yang haram itu orientasi seksualnya, perasaaanya, atau tindakannya? Kalau tindakannya, yang mana yang haram: pegangan tangan, pelukan, cipokan, oral sex, gesek-gesekan kelamin, petting, atau anal sex? Ini persoalan mendasar dan falsafi bila status “haram” itu dimaksudkan sebagai kategori hukum-fikih. Bahasa hukum sebisa mungkin terang-benderang, jelas definisinya, dan tak boleh ambigu.

Aku berupaya membuka-buka literatur fikih klasik, dan mencari-cari apa hukum homoseksualitas. Hal pertama yang hendak kutahu tentu saja apa istilah yang persis ekuivalen dalam fikih klasik dengan makna yang diacu oleh kata “homoseksualitas”. Subhanallah, sampai sekarang belum ketemu (atau jangan-jangan malah tidak ada) istilah homoseksualitas di fikih klasik. Istilah bahasa Arab-modern untuk homoseksualitas adalah “al-jinsiyyah al-mitsliyyah”; untuk gay: “mitsliy”; untuk lesbian: “mitsliyyah”; untuk biseksual: “muzdawij”; untuk transgender: “mughayir”. Aku belum nemu istilah-istilah semacam ini di fikih klasik. Bahkan istilah heteroseksualitas sendiri, yang bahasa Arab modernnya adalah “al-jinsiyyah al-ghayriyyah”, juga tak kutemukan secara persis dan literal di fikih klasik.

(Bagi kamu yang pernah baca-baca filsafat posstrukturalisme atau posmodernisme, ketiadaan istilah yang ekuivalen ini adalah problem krusial. Ketiadaan ini sekurang-kurangnya menunjukkan bahwa dalam fikih klasik, homoseksualitas belum menjadi “issue”. Status ontologis dari homo/heteroseksualitas, yakni sebagai “orientasi seksual” (bahasa Arab modern: “al-tawajjuh al-jinsiy” atau “al-muyul al-jinsiyyah”), belum menjadi bagian “discourse”. Ingatlah satu adagium dalam posstrukturalisme: “il n’y a pas de hors-texte” (there is nothing outside the text). Apalagi istilah homoseksualitas itu sendiri baru muncul dan mulai populer di pertengahan abad 19.)

Lalu bagaimana mendapatkan hukum-fikih untuk homoseksualitas? Fatwa-fatwa modern berupaya mencari padanannya dengan istilah yang sudah ada di fikih klasik, yang sebenarnya tidak ekuivalen dan karena itu problematis, yaitu “liwath” (yang diderivasi dari nama “Luth”); dan homoseks kadang disebut dengan istilah peyoratif “luthiy”. (Aku agak hairan dengan derivasi ini; bukankah istilah demikian malah menggunakan nama Nabi Luth untuk perbutan yang dinyatakan dosa?) Barangkali karena inilah, di pikiran banyak Muslim, begitu terdengar kata homoseksualitas, yang terbenak pertama kali adalah bayangan menjijikkan tentang sodomi atau anal sex, dan sejenak lupa bahwa homo bukan hanya gay tapi juga lesbian.

Homoseksualitas dengan liwath tentu saja bukan padanan yang tepat, dan karena itu problematis. Definisi liwath dalam fikih klasik adalah “ityan ad-dzakar fid-dubur” atau memasukkan penis ke dalam lubang dubur, alias anal sex. Ada istilah yang mengarah pada lesbianisme, yaitu “sihaq”, tapi definisinya ambigu, yaitu “fi’lun-nisa’i ba’dhuhunna biba’dhin” (terjemah literal: perbuatan perempuan dengan perempuan), tanpa ada spesifikasi mendetil apa yang dimaksud “perbuatan” di situ. Makna leksikal dari sihaq adalah “ad-dalk” atau memijit-meremas (massage), entah persisnya meremas bagian mana.

Apa hukuman liwath dalam fikih klasik? Menurut mayoritas para faqih klasik: hukuman mati, dan sama statusnya dengan zina. Menurut mazhab Hanafi, bukan zina, dan tidak dihukum mati, tapi tetap berdosa dan harus dihukum ta’zir. Bukan zina karena, menurut mazhab Hanafi, tidak ada penetrasi penis ke vagina dan tidak memungkinkan pembuahan dan menghasilan keturunan—salah satu maqashid atau tujuan syariat pengharaman zina adalah untuk menjaga keturunan (hifzhun-nasl). Mengikuti epistemologi mazhab Hanafi, hadis yang menerangkan hukuman mati untuk tindakan liwath itu hadis ahad, dan hadis ahad tidak bisa jadi landasan untuk hukuman sekeras hukuman mati. Ini terasa kejam? Sekilas ya, tapi pada level praksis sebenarnya prosedur untuk membuktikan zina atau liwath sulit terpenuhi, yaitu adanya empat saksi yang melihat secara ‘live’ masuknya penis ke dalam vagina/dubur. Karena hukumannya keras, orang yang menuduh orang lain telah berzina/berliwath (istilah teknis untuk menuduh zina: “qadzaf”) hukumannya juga keras, yaitu 80 cambukan. Lebih detil soal ini, juga relevansi dan kontekstualisasinya untuk zaman ini, perlu pembahasan lain yang lebih panjang. Tapi izinkanku untuk sedikit berkata: Karena sulitnya prosedur pembuktian zina/liwath ini, amat sangat jarang sekali hukuman cambuk/rajam terjadi; dan ini membuatku curiga, jangan-jangan di negara mayoritas Muslim yang agak sering melakukan hukuman cambuk/rajam ada banyak tukang ngintip….

Oke, tarik nafas dulu. Sruput kopinya, dan mari kembali lagi ke soal homoseksualitas.

Membedakan homoseksualitas dari anal sex itu penting, karena keduanya memang tidak identik. Status ontologis dari yang pertama adalah orientasi seksual; sedang yang kedua adalah tindakan seksual. Ini sama dengan heteroseksualitas dan zina; yang pertama adalah orientasi seksual, sedangkan yang kedua—bila ia dimaksudkan dalam pengertian fikih yang ada hukuman hadd-nya—adalah tindakan memasukkan penis (lebih persisnya: sampai hilang hasyafah atau ‘helm’-nya) ke vagina perempuan di luar ikatan pernikahan atau perbudakan. Di samping itu, anal sex bisa dilakukan bukan hanya oleh homo tapi juga hetero; jadi homo tidak niscaya identik dengan anal sex. Lebih jauh, tindakan adalah sebuah pilihan, sementara orientasi seksual… well, soal ini aku tak tahu persis apakah ia muncul begitu saja seperti perasaan jatuh-bangun cinta atau merupakan pilihan.

Yang jelas, pada dasarnya yang menjadi wilayah hukum-fikih adalah tindakan. Dalam pelajaran mula ushulul-fiqh biasanya diterangkan bahwa domain fikih (maudhu’ al-fiqh) adalah “af’al al-mukallafin” atau tindakan orang-orang mukallaf (orang yang baligh dan berakal). Lebih persis lagi, tindakan yang dilakukan itu adalah yang berdasarkan kesadaran, pilihan (ikhtiyari), dan tidak terpaksa (ghayru mukrah). Ini sebenarnya sama belaka dengan dasar filsafat etika: perbuatan yang bisa dimintai pertanggungjawaban dan bisa dihakimi ethical/unethical adalah perbutan yang dilakukan secara sadar dan merupakan pilihan atau tidak terpaksa.

Sejauh yang kutahu, fikih tidak (atau belum?) mengatur orientasi seksual. Yang diatur adalah manifestasi tindakan dari orientasi seksual itu. Kalaupun ada hal batin yang diurus fikih (misalnya, “niat”), itu untuk menentukan apakah suatu perbuatan adalah ritual atau bukan; bernilai ibadah atau tidak—selain bahwa niat juga merupakan tindakan-batin yang bersifat pilihan. Ditambah lagi bila kamu menyebut homoseksualitas sebagai penyakit, ini semakin jauh dari domain fikih. Per definisi, penyakit tidak bisa dihukumi halal-haram. Kamu tak bisa mengatakan, misalnya, pusing, lumpuh, epilepsi, autis, atau gila adalah haram. Apa hukumnya penyakit? Ya disembuhkan—ini tentu kalau ada obatnya dan bisa disembuhkan. Menyatakan penyakit itu haram adalah sama dengan keluar dari domain fikih, kalau bukan malah berarti mengagresi wilayah yang menjadi otoritas disiplin ilmu lain.

Jadi yang haram dari homoseksualitas apa? Perasaan suka sesama jenisnya? Well, aku tidak tahu apakah ada hukum-fikih untuk perasaan, dan apakah perasaan macam itu adalah suatu hal yang lahir dari kesadaran dan pilihan sehingga bisa disebut “tindakan”. Kuduga kuat tidak ada pendapat ulama di fikih klasik yang menyoal hukum perasaan. Kalau ada dan barangkali kamu pernah baca di literatur fikih klasik, tolong aku dikasih tahu. Salah satu pertanyaan yang bisa menjadi bahan ilhaq untuk kasus ini bisa dimulai, misalnya, dengan mencari apa kata fikih klasik tentang hukum “perasaan saling mencintai antara lelaki dan perempuan yang belum menikah”. Dicatat ya, “hukum perasaan cinta”, dan ini nanti bisa melebar ke hukum marah, hukum benci, hukum sedih, hukum bahagia, dan seterusnya, dan seterunya. Juga, karena ini bahasa hukum, tentu saja harus jelas definisinya.

Atau yang haram dari homoseksualitas adalah isi pikirannya?

Tentang ini, kamu tahu, banyak lelaki heteroseksual yang ketika melihat wanita cantik bisa berimajinasi sangat liar. Bukan hanya berimajinasi bahkan, tapi dibincangkan bersama para lelaki saat berkerumun ngomong jorok dan mesum, dan membincangkan para wanita bak “benda”, seolah-olah wanita adalah alat pemuas libido. Tapi, dengan adanya “tindakan” mesum para hetero seperti ini tidak serta merta berarti heteroseksualitas per se itu haram, bukan? Sekali lagi, hal ini karena orientasi seksual, apalagi kalau disebut penyakit, tak bisa dijatuhi status haram.

Tapi sebenarnya adakah hukum-fikih bagi tindakan berpikir mesum? Dalil eksplisit dari al-Quran dan hadis belum pernah kutemukan. Tapi beberapa pendapat faqih klasik, memang ada, meski kadang ada yang pas, kadang ada yang tampak memaksakan dan meng-gathuk-gathuk-kan. Kukasih contoh: apa hukum bagi suami-istri yang sedang berhubungan badan tapi membayangkan dirinya sedang begituan dengan wanita/lelaki lain? Bagi kamu yang tahu bahasa Arab bisa membaca, misalnya, ini: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=15558 (di fatwa ini, karena tak ada dasar teks eksplisit dari nash, maka muncullah beragam pandangan dari yang mengharamkan sampai yang menyatakan jawaz alias tak apa-apa).

Atau yang haram dari homoseksualitas adalah berciumannya?

Hukum berciuman tentulah ada, dan relatif tak sulit untuk dicari, dan secara umum menyangkut hubungan hetero, bahkan sampai pada tata aturan ciuman suami-istri. Bagaimana dengan homo (gay dan lesbian)? Pendapat eksplisit dalam fikih klasik, kuduga kuat, tidak ada, karena istilah untuk gay dan lesbian sebagai kategori orientasi seksual itu sendiri memang belum ada (sekali lagi, kalau kamu menemukan, harap aku dikasih tahu). Pun kalau ada, kemungkinan besar ia akan di-ilhaq-kan dengan contoh-contoh kasus hukum bagi hetero yang berciuman dan status hukumnya akan dinilai dari dugaan ada-tidaknya berahi (mazhinnah asy-syahwah).

Uraian ini bisa diteruskan sampai detil untuk tiap tindakan, dan bisa membuat tulisan ini panjang. Kucukupkan langsung dengan menyatakan bahwa batas terakhir untuk jatuh dalam dosa besar bagi heteroseks adalah zina sedang bagi homoseks—yang sebenarnya juga berlaku bagi heteroseks—adalah liwath. (Baidewei, kalau stiker gay berciuman di salah satu medsos itu dianggap mempropagandakan homoseksualitas (yang dibayangkan identik dengan liwath); boleh tak kalau lagu-lagu atau film-film bertema pacaran dianggap mempropagandakan zina dan karena itu harus dilarang?) Dalam literatur fikih klasik, zina dan liwath masuk dalam daftar dosa besar (sering disebut al-kaba’ir atau kadang al-mubiqat). Ada bahasan dan perbedaan pendapat tentang mana dari kedua tindakan itu yang lebih besar dosanya. Bila yang dijadikan parameter al-Quran, cukup indikatif bahwa zina berada satu tingkat di atas liwath: zina ada istilahnya dalam al-Quran; liwath ada meski dalam bentuk derivasinya; homoseksualitas tidak ada [apa istilah untuk homoseks dalam al-Quran?]; hukuman zina disebut eksplisit dalam al-Quran; hukuman liwath tidak ada dalam al-Quran.

Jadi, begitulah, kalau kamu mau bicara tentang homoseksualitas dalam perspektif fikih dan hendak menjatuhkan status halal-haram. [Tarik nafas dulu…]

Uraian fikih di atas, seperti sudah kukatakan di atas, sepenuhnya bersandar pada fikih klasik-konservatif. Untuk menentukan keharaman dengan tegas, apalagi untuk persoalan interaksi sosial, memerlukan dalil yang eksplisit, kalau perlu memakai kata “jangan”; semakin eksplisit atau tidak ambigu dan semakin termaktub di rujukan level teratas dan dengan otentisitas tertinggi, akan semakin kokoh.

Tentu saja ada perspektif dari kubu reformis, progresif, liberal, atau apapun itu namanya: mulai dari reinterpretasi terhadap kisah kaum Nabi Luth (yang dipahami lebih sebagai kecaman terhadap pemerkosaan dan/atau pelecehan terhadap malaikat yang bertamu ke Nabi Luth, bukan pada orientasi seksual), adanya hint dalam al-Quran yang indikatif terhadap pengakuan eksistensi homoseksual, yaitu dengan frase “ghayr ulil-irbah minar-rijal”, sampai pada peninjauan pada praksis “Islam-historis” di masa abad pertengahan. Melihat sejarah seksualitas dalam Islam dalam hal ini bisa memperkaya perspektif: kamu bisa memulainya dengan riset tentang perbudakan amrad, ghulam, ghilman, ‘skandal’ di istana kekhilafahan, syair-syair Arab yang kadang vulgar menyampaikan homoerotisme, sampai pada bagaimana ketika Islam berjumpa dengan budaya yang memiliki identitas gender bukan biner (laki-perempuan) tapi bisa tiga bahkan lima, seperti di kawasan Afrika Baratlaut, Asia Selatan, atau bahkan di Nusantara, seperti tradisi Bugis (bissu, calabai, calalai), misalnya.

Namun demikian, hal-hal yang terakhir ini memerlukan uraian panjang dan bisa didiskusikan lain kali kalau ada waktu. Begitu.

—-

Baca juga: Khuntsa, Mukhannats, Transgender

Tagged: , , , ,

55 thoughts on “Homoseksualitas dan Fikih

  1. Nai 19/02/2016 pukul 07:11 Reply

    Tulisannya bagus.

    Terus terang bertaun2 ini saya dibuat bingung oleh 24:31 juga hadits2 soal eunuch (misal soal tanya ke rasul gara2 perang boleh ga tawanan dijadikan eunuch) atau muhannats (misal soal Heet di rumah ummu salamah)

    Saya hetero, tapi sebagai muslim yg percaya bahwa Islam itu rahmat untuk semua manusia, part of me ga percaya kalau Tuhan benar2 tidak mengaggap mereka ada atau melaknat mereka just because orientasi seksualnya minoritas. Dan, liwath itu bisa gay bisa hetero bisa biseks.

    Mungkin kerasnya pandangan tergantung mazhab yang dianut. Negara2 hanafi sepertinya lebih toleran. Ada kaum hijra di india pakistan (Hanafi-Deoband), dekriminalisasi consentual homosexual acts di Turki di 1850an (Hanafi)

    Suka

    • azisanwarfachrudin 19/02/2016 pukul 13:31 Reply

      Mantap. Saya juga pernah dengar soal kaum “hijra” di India dan Pakistan itu. Soal dekriminalisasi consentual homosexual acts di Turki itu menarik. Saya mau telusuri….

      Suka

  2. taufikkusdinar 19/02/2016 pukul 09:21 Reply

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Tulisan Azisaf ini membuka perspektif baru, saya jauh dari ilmu-ilmu seperti ini. Boro-boro Fiqih, al-qur’an saja belum pernah khatan.

    Namun kalau saya membaca kisah Nabi Luth di Al-Qur’an dan Kisah diciptakannya Adam & Hawa sebagai pasangan, serta bagai al-qur’an menceritakan bahwa manusia diciptakan berpasangan sepertinya (mohon dicatat sepertinya alias ini anggapan saya) memang diberikan sebuah kodrat bahwa lelaki berpasangan dengan perempuan.

    Status halal & haram sepertinya bukan ini yang harus menjadi pembahasan tapi bagaimana sikap seorang muslim menyikapi LGBT.

    Jujur saya sebagai seorang ayah khawatir dengan anak semata wayang saya, bagaimana pergaulannya nanti. Akan tetapi merujuk pada al-qur’an disebutkan dalam banyak ayat bahwa manusia akan diberikan cobaan. Bahkan dalam surat At Taubah dijelaskan bahwa orang kafir pun akan diberikan cobaan sekali hingga dua kali dalam setahun. Nah merujuk dari ayat-ayat ini saya beranggapan bahwa LGBT ini adqlah cobaan, bagi mereka yang memang kaum LGBT dan bukan kaum LGBT.

    Menjauhkan diri dari mereka saya rasa bukan jawaban yang tepat. Mengharamkan dan memaksa mereka untuk “lurus” pun bukan hal yang tepat. Karena ini adalah ujian hidup mereka, mereka yang perlu untuk menghadapi ujian ini dan kita sebagai teman/muslim yang baik hendaknya membantu atau memberikan masukkan dengan cara yg bijak. Menunjukkan ke mereka bahwa kaum sodom ditimpa oleh gunung tidak akan membuat mereka mau mendengar kita. Masuk secara perlahan, dengarkan cerita mereka dan berikan pengertian. Insya Allah jika memang jalannya mereka untuk berubah mereka akan bisa.

    Kembali ke masalah sikap Muslim, sebaiknya memang tidak meng-emphasize LGBT tapi bantu mereka untuk kembali sesuai dengan kodrat berpasangan pria dengan wanita.

    Suka

    • azisanwarfachrudin 19/02/2016 pukul 13:33 Reply

      Wa’alaykumussalam warahmatuallahi wabarakatuh. Kalau anda benar-benar bisa membantu mereka untuk “kembali sesuai dengan kodrat”, saya dukung…

      Suka

    • Muhamad Iqbal 05/03/2016 pukul 06:42 Reply

      Sebenarnya yang dimaksud berpasangan antara lelaki dan perempuan tidak mutlak, karena ar rum 21 mengatakan azwajan (pasangan jamak yang artinya adalah bisa pasangan hetero atau pasangan homosexual) bukan zauja yang artinya istri. Pun tujuan dari berpasangan itu adalah ketentraman dan kasih sayang bukan sekedar berketurunan, karena ke dua pasangan tsb (baik pasangan hetero maupun homoseksual) bisa mendapatkan tujuan dari ayat tsb.

      Suka

  3. NoSepiLisMe 20/02/2016 pukul 00:12 Reply

    Bismillah..
    Assalaamu’alaikum warahmatullah…

    Segala bentuk hal yang mengarah kepada penyimpangan. Baik orientasi maupun tindakan jelas sekali amat diharamkan oleh Allah Al-Khaaliq dan akal sehat beserta naluri yang lurus pun akan menyepakatinya.

    Allah Al-Haq berfirman: “Sungguh beruntung orang2 yg beriman. “Yakni (salah satunya) orang2 yang menjaga kemaluannya. KECUALI, terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki.. “Namun apabila mereka mencari jalan yang selain itu, maka mereka itulah orang2 yg melampaui batas.” (QS.Al-Mu’minuun, ayat 1, 6&7).

    Akal sehat akan memahami ayat ini dengan jelas bahwa tindakan seksual yang dilakukan bukan kepada yang diarahkan dalam ayat ini merupakan tindakan yang melampaui batas (normal).
    Seorang suami melakukan tindakan seksualnya kepada istrinya. Ini jelas sekali bahwa tindakan di luar itu merupakan penyimpangan (melampaui batas dari keadaan normal).

    Maka, jelaslah tindakan LGBT sangat menyelisihi dari ayat yang difirmankan langsung oleh Allah Al-Khaaliq.

    Sementara halnya dengan orientasi seksual juga sangat bisa difahami dengan akal yang sehat tatkala Allah Al-Muhyii wa Mumiitu, berfirman: “Dan Janganlah kalian mendekati zina”. (QS.Al-Isra:26).

    Allah Al-Haq dengan tegas melarang zina sejak dari sarana-sarana yang mendekatkan kepada zina. Artinya sebelum bertindak (sebagai manifestasi niat) jalan zina itu sudah dilarang keras oleh Allah Al-‘Aliimu (Yang Maha Berilmu).

    orientasi seksual seseorang tentu terbentuk dari kecenderungan fikirannya. Dan kecenderungan fikiran baru akan terwujud menjadi tindakan atas dasar komando hati (Baca:Niat).

    Dan Allah ta’ala Yang Menciptakan kita, menghukumi tindakan seseorang berawal dari “tindakan hati”nya (Baca:Niat).

    Hal ini disampaikan oleh manusia terbaik pilihan-Nya, yang paling cerdas, paling bersih hatinya, paling lurus fikirannya, paling benar, paling ma’rifat kepada Allah Ta’ala dan paling faham agama yang benar ini dengan segala kehalalan maupub keharamannya, dialah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) kepada fisik2 maupun bentuk rupa kalian. Akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati (Niat) dan amal-amal (tindakan) kalian. (HR.Muslim).

    orientasi dan tindakan yang menyimpang dari fitroh, jalur yang benar, maka konsekuensinya akan menyimpang juga. Sebagaimana orientasi dan tindakan seksual yang tidak sesuai pada tempat dan caranya maka itu merupakan sebuah penyimpangan besar (perbuatan melampaui batas). Setiap perbuatan melampaui batas bermakna melampaui apa-apa yang telah ditetapkan, diperintahkan oleh Allah Yang Maha Mencipta, Maha Menghidupkan, Maha Mematikan, Maha Mencabut Nyawa, Maha Mengawasi.

    Yang orientasi seksual normal aja tidak boleh sekali-kali mendekati (Laa Taqrobuu Zinaa). Apalagi yang jelas-jelas sudah menyimpang dari kenormalan ?!!

    “Afalaa Ta’qiluun”..???

    Suka

  4. Aryu 20/02/2016 pukul 07:53 Reply

    Sebenarnya orientasi dan perbuatanya sama2 salah,, asalnya orientasi yg dibolehkan adalah heteroseksual, dihalalkan dg nikah(nikah adalah ibadah) sedangkan homoseksual tidak ada jalan/hukum untuk menghalalkanya dalam islam sehingga kalau di buat2 akan jadi bid’ah ( ibadah yg tidak ada dalilnya ) .. Jadi lihat lagi hadist2 yang merujuk ttg homoseksual ini, semua itjma ulama pun sepakat akan keharamanya, mereka hanya berselisih ttg hukumanya..

    Suka

  5. Sri Marpinjun 20/02/2016 pukul 08:26 Reply

    Apa liwath itu bukan termasuk zina? Pelakunya kan pasti tak menikah.

    Masalahnya dlm Islam tak ada pernikahan sesama jenis.

    Misalnya kaum lgbt itu selibat, dan untuk memenuhi kebutuhan seksualnya, mereka melakukan onani/masturbasi, bolehkah? Ada fiqih soal ini?

    Suka

    • Nai 20/02/2016 pukul 13:11 Reply

      Hanafi dan Hambali mengatakan dilarang, kecuali jika ga bisa kawin dan benar2 khawatir tergoda zina.

      Mazhab syafii, yang dianut Indonesia, dan Maliki menganut ga boleh sama sekali

      http://www.sunnah.org/msaec/articles/masturba.htm

      Suka

      • Sri Marpinjun 21/02/2016 pukul 11:25

        Terimakasih referensinya.

        Suka

  6. panjul 20/02/2016 pukul 08:55 Reply

    Membedakan homoseksualitas dari anal sex itu penting, karena keduanya memang tidak identik. Status ontologis dari yang pertama adalah orientasi seksual; sedang yang kedua adalah tindakan seksual. Ini sama dengan heteroseksualitas dan zina; yang pertama adalah orientasi seksual, sedangkan yang kedua—bila ia dimaksudkan dalam pengertian fikih yang ada hukuman hadd-nya—adalah tindakan memasukkan penis (lebih persisnya: sampai hilang hasyafah atau ‘helm’-nya) ke vagina perempuan di luar ikatan pernikahan atau perbudakan. Di samping itu, anal sex bisa dilakukan bukan hanya oleh homo tapi juga hetero; jadi homo tidak niscaya identik dengan anal sex. Lebih jauh, tindakan adalah sebuah pilihan, sementara orientasi seksual… well, soal ini aku tak tahu persis apakah ia muncul begitu saja seperti perasaan jatuh-bangun cinta atau merupakan pilihan.

    Tad tad, sori tad nih ane kutip dikit.
    Anal sex baik dari golongan homo atau hetero hukumnya apa dalam fiqih ??
    apakalau heteroseksual diperbolehkan melakukan analsex ??
    Ngacoo ngaco !!!

    Suka

    • ND 26/02/2016 pukul 18:33 Reply

      yang saya tau, anal sex memang dilarang dalam islam. Baik hubungan sejenis maupun sama lawan jenis.🙂

      Suka

  7. harristeknik 20/02/2016 pukul 11:11 Reply

    Desain bahasanya perfect. Tp lebih dari itu aku juga memiliki pandangan tersendiri trhadap tulisan ini. Entah benar atau tidak niat anda, tp jelas2 proyeksi dri prosa ini adalah memunculkan stigma baru bagi reader. Anda mencari cara untuk mendetailkan dua ruang lingkup berbeda, orientasi seks dan tindakan seksual. Penjelasan anda mencoba menyeret khalayak utk percaya, bahwasanya keduanya tidak saling berhubungan ( dengan menggunakan deskripsi bahasa bahwa belum ada penjelasan hukum dr fikih klasik terhadap ORIENTASI SEKSUAL, yang ada hanya TINDAKAN SEKSUAL). Tp percayalah, tak ada asap tanpa api, di mana kedua2nya jelas saling berkaitan. Ketika para aktivis menggemakan anti LGBT, pada dasarnya mereka tidak semata2 menjustifikasi orientasi seks mereka. Mereka -termasuk saya-, memiliki visi jelas : memutuskan rantai dari penyimpangan ini. Orientasi seks yg menyimpang berpotensi menimbulkan penyimpangan tindakan seksual. Mungkin kita bisa memaafkan orientasi seks mereka yang menyimpang -sebagian menyebutnya normal-, tp pemaafan dalam bentuk membiarkan apalagi melindungi (tidak jelas apa yg coba kita lindungi) justru dapat merembes pda perilaku yang justru coba kita hindari: tindakan seksual yg tidak normal. Jadi, apapun alasannya, kita harus mencegah, bukannya membiarkan mereka-LGBT- malah semakin leluasa memanfaatkan kelengahan penduduk negeri ini untuk mempraktikkan orientasi seks mereka. Kita putuskan sinkronisasinya, agar penyimpangan perasaan mereka dapat kita hentikan dan tidak berdampak pada meluasnya penyakit ( Orintasi seks dan AIDS). Jadi, sekali lagi, tidak perlu berpanjanglebar menguraikan ayat2 hanya utk memperalat banyak orang agar banyak yg percaya; “LGBT harus dibiarkan, tindakannya yg perlu dilarang”. Padahal, secara analogi Allah SWT saja tidak pernah menurunkan ayat yg berbunyi jangan ber zina, tp melarang kita mendekati zina. Artinya, jauh sebelum zina trjadi tentu ada faktor yg dapat membuat kita terjerumus -dalam hal ini adalah tindakan2 yang mendekati zina. Sejalan dengan ini, membiarkan atau melindungi penyimpangan mereka sama saja dengan mencetak ruang gerak mereka utk semakin mudah mempraktikkan tindakan mereka. Yang seharusnya kita lakukan bersama adalah, menemani mereka kembali ke jalan normal, mendkung mereka utk berbenah, dan mengajak mereka utk kembali fitrah dan normal. Wallahu alam.

    Suka

    • Ahmad 20/02/2016 pukul 14:25 Reply

      saya rasa di dalam tulisan itu tidak ada mengatakan membiarkan LGBT. saya sepaham denfan tulisan tersebut. yang ingin disampaikan penulis sebenarnya adalah kita jangan menghakimi atau mendiskriminasi orangnya tp kita harus berantas tindakannya (karena tindakan2 tsb sudah diatur dlm fiqih). Untuk orientasi seksual (mereka yang menjadi gay) kan belum dapat dipastikan hukumnya. Mereka juga tidak membuat pilihan untk memiliki prasaan suka pd sesama. yang mereka pilih adalah bagaimana mereka mengejawantahkan perasaan tsb (mungkin dgn berpacaran sesama jenis atau berhubungan badan). dan satu hal yang saya yakini untuk mereka yang LGB (saya pisahkan dengan T karena transgender sudah bentuk pilihan atau tindakan mereka mengubah kelamin) bahwa tameng yang menguatkan mereka untuk tdk brbuat zina adalah hanya dengan keimanan yang benar2 kuat. Bahwa orientasi seksual mereka bukanlah sebuah bentuk penyakit yang dapat disembuhkan atau mereka dapat disadarkan agar tidak menyukai sesama lagi, tapi mengontrol diri mereka agar tidak melanjutkan perasaan merekalah intinya. Jadi bukan tidak mungkin ada seorang gay yang mampu menepis napsu ke sesama dan berusaha memendamnya saja dan mengukuti ajaram islam untuk menikah dengan lawan jenis. Hanya saja kita tidak tahu karena informasi yg kita dapat hanya dari media saja.

      Suka

      • suprapto 20/02/2016 pukul 17:29

        Bahasanya lucu2 kaya anak bau kencur dan ingusan….muter2 yg intinya menyangkal yg sudah ada Hukum PASTI.hanya orang Bodoh yang membuat2 hukum sendiri yg konon dari “hati nurani” tanpa melalui Qur’an-hadits-ijma’-Qiyas-dan Fatwa Alim ‘Ulama…benar2 ke-Bodoh-an yang di sengaja…

        Suka

      • Rina 09/03/2016 pukul 02:20

        Penggunaan kata “orientasi” seksual sendiri sudah banyak dibantah dan diganti dengan kata “preferensi” seksual alias.

        Logika sederhana,
        Apa ada bayi yang lahir ke dunia begitu owek owek lalu jadi gay?
        kecuali pada kondisi ekstrim dimana ada bayi lahir dengan dua jenis alat kelamin, penis dan vagina.

        Suka

  8. boyusik 20/02/2016 pukul 16:50 Reply

    mohon maaf sebelumnya…just mengingatkan…agama gak atas dasar fiqiyah saja.dasar syar’iyah juga…ada di dalamnya.ingat runtuhnya kaum nabi luth as disamping mendustakan agama.juga karna kelakuan mereka sendiri.masih ingat kah anda kisah qobil dan habil..ketika mereka saling membunuh.dimana habil di bunuh dan qobil kebingungan apa yang harus di lakukan sesudahnya.lalu alloh swt mengutus burung untul memberi contoh apa yang harus di lakukan qobil.begitu juga kita sekarang.alloh menciptakan kambing,sapi,gajah.dll..memberi istilah buat kita tentang hukum berpasangan.antara betina dan pejantan.tidak kah derajat kita lebih tinggi dari hewan-hewan tersebut di atas tadi.yang menjadi pembeda..ialah kl mau derajat kita sama dengan hewan-hewan tadi,atau bahkan lebih rendah dari mereka.maka lakukan(dustakan) kodrat kita sebagai mana manusia di ciptakan untuk berpasangan (laki+perempuan).sekedar mengingat kan adanya ilmu fiqih itu dari ilmu syar’i.apakah gak seyogyanya,kita mengkaji ilmu syar’iyah dulu sebelum mengatakan tidak ada hukum kepastian hukum/halal haram di ilmu fiqih.mungkin ulama’ pengarang ilmu fiqih klasik belum menemui hal yang seperti ini (LGBT) di zamanya.tp kita kembalikan di hukum syar’i itu sudah jelas..alloh melaknat kaum yang berkelakuan seperti kaum nabi luth as.di antaranya LGBT.bukankah kita termasuk kaum penyempurna kaum mereka.yaitu kaum nabi muhammad saw.apakah kita mau kembali ke zaman nabi luth as.tentu jawabanya TIDAK.dengan kita mengakui mereka berarti kita sudah membenarkan mereka.berarti kita termasuk mereka.meskipun dlm tanda kutip kita tidak berkelakuan sprti mereka.ingat cara nabi muhammad saw berda’wah.dengan cara merangkul..bukan membenarkan.merangkul memberi kebenaran.bukan memberi dukungan dengan apa yang mereka lakukan.

    Suka

  9. fauzan 21/02/2016 pukul 20:19 Reply
    • azisanwarfachrudin 21/02/2016 pukul 21:45 Reply

      IMHO, “Luthiy” (لوطي) lebih tepat diterjemahkan sebagai orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, atau liwath, bukan homoseksual.

      Suka

  10. rujito 22/02/2016 pukul 09:44 Reply

    pengin komentaaar

    Suka

  11. AYIK 24/02/2016 pukul 17:11 Reply

    di mana mana lewat pantat tuh dilarang…………LGBT enyah lah dari indonesia

    Suka

    • ND 26/02/2016 pukul 18:37 Reply

      Anal sex jelas dilarang (menurut agama), tapi kenapa lagi-lagi HANYA menyudutkan kaum LGBT ya? kok yang nonLGBT tapi melakukan anal sex terkesan gak ditegur?

      Suka

  12. Dimas 25/02/2016 pukul 11:46 Reply

    “Praktik Homoerotika, bukan sodomi tentu saja, adalah sebuah bentuk lain kasih sayang. Homoseksualitas dilakukan tanpa adanya persenggamaan semestinya bisa ditoleransi”. (dikutip dari buku Homosexuality in Islam, karya Scott Siraj al-Haqq Kugle)

    Dan saya bilang, can you love someone without sex (dalam kasus homo, contohnya praktik liwath)? Kalau saya sih tidak. Itu yang kita khawatirkan :)))

    Suka

    • ND 26/02/2016 pukul 18:35 Reply

      Kalau begitu, harusnya pembahasan ini diperluas menjadi hubungan hetero juga ya. Karena kan yang melakukan seks diluar nikah bukan hanya pasangan homo, tapi juga hetero.

      Suka

    • Hary 05/03/2016 pukul 13:32 Reply

      Itu kan anda…! Yang tak bisa mencintai tanpa bersenggama!
      Kalau saya, insya Allah saya bisa. Bahkan saya tak suka sodomi meskipun saya gay..
      Mungkin ini keistimewaan saya, saya gay tapi benci anal sex..

      Suka

  13. foltrus666 26/02/2016 pukul 13:03 Reply

    Setelah selesai membaca tulisan Kakak ini, saya jadi semakin sadar bahwa ilmu memang tidak ada batasnya, dan pencarian, serta penggalian harus selalu kita lakukan.

    Sudut pandang untuk melihat homoseksualitas dari fikih-fikih klasik yang konservatif memang saya rasa tepat–menilik ketegasannya. Ini adalah bukti, secara universal bahwa Islam melihat dunia secara komtemplatif, tidak ada hal yang terhindar dari ajaran Islam–masalah yang paling dirahasiakanpun.

    Terima kasih atas tulisan ini.

    Suka

  14. Ardonny 26/02/2016 pukul 13:18 Reply

    Sedikit menambahkan saja bahwa ada juga dosa yg lebih besar dari zina yaitu RIBA. Di salah satu hadist disebutkan bahwa dosa RIBA adalah seperti berzina dgn Ibu Kandung dan dosa RIBA itu seperti melakukan 36x zina

    Suka

  15. bangzero 26/02/2016 pukul 15:54 Reply

    hubungan seks lelaki-lelaki dan perempuan-perempuan itu sama seperti zina lelaki-perempuan yaitu HARAM.

    sudah dikasih tau dalam Al-Quran, cuma manusianya yang ga bisa “membaca petunjuk” itu.
    cek
    06:143 dan 06:144

    Suka

  16. bangzero 26/02/2016 pukul 15:56 Reply

    gak ada fikihnya bukan berarti gak ada hukumnya. Al Quran sudah lengkap.
    Soal adanya lelaki yang tidak punya hasrat thd perempuan itu masalah yg beda.
    tapi soal hubungan seks sesama jenis itu sudah ada hukumnya.

    Suka

  17. ND 26/02/2016 pukul 18:29 Reply

    Saya suka sekali betapa humblenya tulisan ini. Saya muslim dan sejujurnya tidak mendukung LGBT, dalam hal ini saya tidak mendukung penyebarannya, apalagi saya pun bahkan masih tidak tahu apa yang saya akan lakukan jika keluarga saya yang merupakan LGBT, tapi sebagai manusia, tanpa perlu tahu agama bahkan, selalu tidak benar untuk membiarkan adanya kekerasan (dan dlm hal ini sekaligus memaksakan untuk satu pemikiran).

    Hargai mereka sebagai sesama manusia, dan.. pakai alasan menular untuk melegalkan kekerasan thdp perlawanan thdp LGBT? Itu mah berarti ya mentalnya aja gampang terombang-ambing.🙂

    Suka

  18. sas 26/02/2016 pukul 21:04 Reply

    ini website jil ya?
    Sangat gak jelas

    Suka

  19. Zulyantata 26/02/2016 pukul 21:09 Reply

    Ada pernyataan menarik “Aku berharap para saintis yang benar-benar saintis itu menulis secara argumentatif”. Dan yg saya baca dari biografi singkat anda di blog ini, anda kuliah di uin jurusan sastra dan bahasa arab, kok tiba2 jadi ahli fiqih?🙂 anda menuntut untuk ilmu science harus yg pakarnya untuk berkomentar, sedangkan untuk masalah agama siapa saja boleh bahkan yg hanya belajar bahasa arab dan sastra berhak membicarakan masalah fiqih, kalo cuma bisa bahasa arab, apakah semua orang di arab sana ahli fiqih?

    Suka

    • DB 27/02/2016 pukul 00:15 Reply

      Jelas harus ngerti bahasa Arab dulu, yang adalah ‘asal’ dari Al’qur-an, sebelum ngomong berdasarkan terjemahannya. Ingat, terjemahan itu menyesuaikan, tidak bisa 100% yakin. Untuk membaca, seseorang harus mengerti, dan mengerti bahasa Arab adalah langkah paling penting untuk mencari kebenaran.

      Seseorang yang belajar sastra Inggris akan lebih mengerti soal tulisan bahasa Inggris daripada sastra Indonesia yang membaca terjemahannya.

      Dan saya tidak melihat pernyataan dia mengaku sebagai ahli fiqih, ini namanya juga blog, curahan dari pemikiran. Kalau misalnya udah bawa-bawa ahli, masuk ke jurnal, yang jelas masih ada salahnya karena namanya juga manusia.

      Suka

      • Zulyantata 27/02/2016 pukul 07:20

        Kan sudah sudah saya bilang, di arab sana orangnya ngerti bahasa arab semua bahkan saya yakin lebih pinter dari yg punya blog ini, lalu apakah orang2 di arab sana ngerti fiqih semua? Ini blog sedang membicarakan fiqih yg seolah2 dia telah melakukan research ilmiah terhadap beberapa permasalahan agama, lha untuk urusan ilmu dunia dia menuntut yg “bener2” ahli, lalu untuk urusan agama? Siapa saja boleh berkomentar?

        Suka

  20. Insan Tuhan 26/02/2016 pukul 21:50 Reply

    Assalamu’alaikum. Mohon Ijin beropini dan bercerita boleh?
    Bismillahhirrohmaanirrohiiim.
    Terimakasih untuk ilmunya, saya mendapat pencerahan.🙂 terkait menjadi LGBT adalah akibat salah pergaulan saya juga tdk tahu, saya akan menceritakan apa yg saya rasakan sejak kecil.🙂
    Saya seorang Gay, jujur demi Allah sebelum saya kenal dunia gay sejak msh kecil umur 7 tahun saya cenderung menyukai bentuk tubuh dan wajah lelaki dewasa, sejak SD saya bergaul dengan laki-laki sebaya namun saya lebih menyukai tubuh dan perawakan lelaki dewasa, waktu kecil pernah saya mencium pipi lelaki dewasa (karyawan paman saya) karena menyukai wajahnya yang tampan, didikan org tua juga biasa saja, memperbolehkan main dengan siapa saja asalkan tidak nakal. Ayah sering membelikanku mobil2an dan action figure super hero yg banyak dan saya menyukai itu, saya sering bermain baik dgn teman perempuan maupun laki-laki.
    Saat SMP pun masih sama, tertarik dengan laki-laki tampan, sebenarnya banyak sekali perempuan naksir saya saat itu, tp entah kenapa perasaannya beda aja dengan perasaan saya kepada laki-laki.
    Puncaknya adalah kelas 1 SMA, gejolak ini semakin besar, saya resah karena saya sadar saya berbeda. Saat itu saya mencari tahu kenapa dgn saya, dan saat itu juga saya tahu bahwa ternyata org seperti saya adalah gay, saya juga tahu saat itu bahwa gay itu dosa menurut pandangan org pada umumnya. Tapi kenapa Saya lebih nyaman seperti ini? Saya mulai berkenalan dgn org yg sama2 gay saat kelas 1 SMA smester 2. Saat itu saya senang karena saya tdk sendirian. Lama2 saya jadi tahu dunia gay seperti apa, saya tetap merasa nyaman karena mereka lbh mengerti saya. Saat brtmu prtamakali dgn rekan2 gay bnyk yg blg kalau gerik2 saya tdk seperti seorang gay. Saya bersahabat dengan 3 gay yg seumuran dan masih bertahan sampai skrg, malah bertambah menjadi 8 teman. Dan Alhamdulillah mereka semua baik sekali, 1 beragama kristen yg paling solid dgn saya, kami saling menghormati, meski tahu sama2 gay demi Allah kami bahkan tdk pernah berpelukan sekalipun. Kadang teman saya yg kristen itu kalau ramadhan ikutan puasa, kami juga saling mengingatkan untuk ibadah. Saya senang memiliki teman berharga seperti dia. Saat kuliah saya pernah berpacaran dengan wanita yang saya “pikir” (bukan rasa) saya suka. Saat itu juga saya berniat ingin menjadi “normal”. Namun jujur selama hampir 1 thn pacaran, saya tdk merasakan kebahagiaan sejati namun malah merasa bersalah tdk bisa mencintai dia karena perasaan saya trhdp laki2 tdk dapat diubah, padahal perempuan itu baik, sholeha dan anggun.
    Dulu saya sering menangis dalam shalat karena saya ingin “normal”, usaha sudah saya lakukan dan berdoa tdk henti2nya namun tetap tdk berubah. Saya ikut itikaf 1 bulan 1x selama 3hari di mesjid2 di kota saya namun tetap tdk merubah orientasi seksual saya.
    Tapi untuk skrg, dgn saya menerima diri apa adanya, saya bahagia meski tdk secara gamblang saya blg pada org2 kalau saya gay. Alhamdulillah selama hidup saya tdk pernah mabuk, mencuri atau merugikan org lain. Namun utk dosa pribadi pasti bnyk🙂 tapi saya senantiasa memohon ampunan dari Allah dan meminta teguran jika saya bersalah.
    Saya sangat sedih dan sakit hati saat tadi siang mendengar khutbah jum’at khotib mengatakan “LGBT Adalah bencana dunia dan virus paling berbahaya yang harus dijauhi dan disembuhkan” saya ingin menangis tatkala mendengar perkataan itu mengingat bukan cuma saya yg LGBT, dan saya pun tdk ingin menjadi hal yang ditolak masyarakat. Namun bagaimanapun saya ingin menjadi diri sendiri dan tetap taat kepada Allah, biar Allah saja yg menghukum saya, tp bagi saya Allah terlalu baik pada saya.
    Sekian. Semoga cerita saya dapat sedikit mengubah pandangan buruk kelompok anti LGBT.
    Semoga kita semua senantiasa diberi Rahmat oleh Allah SWT. Amin.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Suka

    • Anonim 06/03/2016 pukul 23:40 Reply

      Subhanallah, semoga Allah selalu bersamamu, Insan Tuhan. I don’t see people as labels, I simply see them as human, dan Islam lah yang mengajarkan seperti itu: memanusiakan manusia. I am rooting for you! Semangaaaatttt

      Suka

  21. Yuda menggala 26/02/2016 pukul 23:02 Reply

    “Apa yang telah aku larang untukmu maka jauhilah. Dan apa yang kuperintahkan kepadamu, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuanmu”

    “Sesungguhnya umat sebelum kalian binasa karena mereka banyak tanya, dan sering menyelisihi para Nabi mereka”

    (HR. Muslim)

    Suka

    • evabudieftila@gmail.com 29/02/2016 pukul 17:35 Reply

      Setujuu

      Suka

  22. Aang 27/02/2016 pukul 03:37 Reply

    Dr sexualitas pun islam melarang lgbt ,, apalagi orientasi sexual nya ,, terlebih perbuatan dan tindakannya … semuanya di larang … setuju jika lgbt di haramkan karna memang Allah mengecam masyarakat yg berbuat seperti kaum nabi luth … kecam lgbt dan haramkan lgbt nya … lalu terapi lah kaum lgbt nya ,, beri bantuan kpd mereka tuk merubah sifat tingkah dan perbuatan lgbt nya

    Suka

  23. Nasrullah 27/02/2016 pukul 08:02 Reply

    1. Islam mengizinkan pemuasan seksual, tapi hanya satu pintu, yaitu pernikahan
    2. Selain melalui pernikahan, maka haram hukumnya
    3. Mau berhubungan seks? Nikah aja… Halal koq…
    4. Rukun nikah ada 5 : (1) mempelai pria (2) mempelai wanita (3) wali (4) saksi (5) ijab qobul.
    5. Satu saja tidak ada, nikah tidak sah, yg artinya hubungan seksual haram dilakukan
    6. Udah gitu aja. Simple koq Islam itu, ga muter muter sangking mau halalkan yg haram…

    Disukai oleh 1 orang

  24. AMJ Haqi 27/02/2016 pukul 12:42 Reply

    Gausah di teliti, Nabi udah bilang itu haram, Allah udah mengazab kaum Sodom.

    Cukuplah kalau dikasih tau sama Allah kita sami’naa wa atoo’naa.

    Suka

  25. Hamba Ilahi 27/02/2016 pukul 13:32 Reply

    Saya punya rekan yg LGBT, dan dia mengaku gak bisa lepas dari tindakan ingin melakukan hubungan sex sesama jenis. Setiap kali bertemu dengan laki2 yg sesuai dengan tipe nya, pikirannya melayang jauh & membayangkan apabila bisa tidur dgn dia. Dia sadar bahwa apa yg dia alami itu salah. Maka dari itu, dia sendiri menghimbau bahwa LGBT harus dibinasakan peredarannya sampai habis.

    Intinya, bagi mereka yg udah terlanjur menderita penyimpangan orientasi sexual (apapun itu, termasuk LGBT) mari kita sembuhkan mereka. Dan selamatkan generasi selanjutnya agar tidak terjadi hal serupa. Karena bagaimana pun, agama Islam tidak pernah mengajarkan penganutnya untuk menjadi homoseksual. Kenapa? Karena mudhorotnya buaaaanyak sekali, seperti: pikiran yg selalu mengarah pada sexualitas, rentan terhadap HIV/AIDS, dsb.

    Maka dari itu, mari kita selamatkan anak cucu kita! Jangan sampai menjadi kaum yg dilaknat Allah SWT.

    Suka

  26. tarafkhaira 28/02/2016 pukul 03:59 Reply

    Saudaraku Azis Anwar Fachrudin (penulis blog ini), saya hanya mengingatkan bahwa tulisan Anda dibagikan oleh akun twitter @jokoanwar yg memiliki hampir SATU JUTA follower. Akun @jokoanwar ini mengancam akan menuntut Tifatul melakukan hate speech karena memposting hadis tentang LGBT.

    Maka jika satu orang saja dari follower akun tsb menjadikan tulisan Anda ini sebagai pegangannya untuk melanjutkan perilaku LGBT, maka Anda akan terus menanggung dosa pelaku LGBT ini.

    Apakah hal itu yg ingin Anda bawa saat dihisab nanti???

    Suka

    • Anonymous 02/04/2016 pukul 04:30 Reply

      Saudaraku, Tarafkhaira. Jika Anda mendukung apa yang diutarakan Tifatul dan tidak menganggapnya sebagai hate speech, lantas orang-orang menjadikan tulisan Tifatul tersebut (semoga Anda tidak) sebagai pegangan untuk seenaknya menghabisi dan membunuh LGBT yang masih taat menyembah Tuhannya, tidak melakukan sesuatu yang membahayakan, berperilaku baik, dan tidak merugikan siapa pun, apakah Anda siap saat dihisab nanti karena telah membunuh orang?🙂

      Suka

      • tarafkhaira 29/11/2016 pukul 17:44

        Siap.. saya Yaqin Allah gak marah sama saya. Anda siap?

        Suka

  27. batu cat eye 28/02/2016 pukul 17:42 Reply

    liwath di dalam Al Qur’an di sertai dengan penjelasan “lelaki yang mendatangi lelaki” .. fitrah manusia dapat dilihat dari awalnya .. Adam A.S dan Siti Hawa A.S ..

    Fiqih Banci dalam Islam itu adalah orang yang secara fisik memiliki 2 alat kelamin. Itu baru Banci namanya.. sedangkan Transgender ini 1 alamat kelamin yang dirubah ke kelamin lainnya..

    Sedangkan (dis)orientasi ke sesama jenis .. itu hanyalah pilihan .. dalam hidup kita memang ada 2 pilihan .. Taat atau Kualat .. Baik atau Buruk .. makanya kita di uji .. baik LGBT atau non LGBT semua di uji .. di uji dengan dirinya sendiri dan pembisik2 nya ..

    Kalau ada yang bilang LGBT adalah fitrah .. ini pertanyaannya : Ada gak orang baru lahir langsung gay / lesbian / transgender / biseksual ?

    Fitrah awal manusia adalah sudah sempurna .. (baca surat At Tin)

    Suka

    • Hary 05/03/2016 pukul 17:15 Reply

      Kalau ada yang bilang LGBT adalah fitrah .. ini pertanyaannya : Ada gak orang baru lahir langsung gay / lesbian / transgender / biseksual ?

      Ada mbak! Banyak! Hampir semua malah..

      Suka

  28. Dipa Nugraha 28/02/2016 pukul 19:25 Reply

    Diilhamkan pada mereka jalan fujur dan jalan takwa.
    Sudah sahkah misalnya engkau berargumen bahwa apa yang menurut skriptur salah tapi kamu turuti nafsumu?
    Laki-laki:
    1. Laki-laki yang berkelamin ganda
    2. Laki-laki terlalu lembut
    3. Laki-laki yang normal
    4. Laki-laki yang punya kecenderungan biseksual
    5. Laki-laki yang punya kecenderungan menyukai laki-laki lain
    6. Laki-laki yang memperturutkan nafsu mendatangi laki-laki lain
    7. Mereka yang kerasukan jin baik masih kecil maupun ketika dewasa atau mereka yang dalam perjalanan hidupnya mengalami tekanan batin akan identitas dirinya sehingga refleksi dirinya akan preferensi seksual dan gender mengalami kekacauan.
    Laki-laki berkelamin ganda, biar nanti diputuskan ahli bagaimanakah baiknya.
    Laki-laki yang terlalu lembut bukan berarti ia menyukai laki-laki lain. Ia hanya terlalu lembut saja namun selera terhadap lawan jenis normal.
    Laki-laki normal.
    Laki-laki yang punya kecenderungan biseksual, ia menahan diri dari mendatangi laki-laki lain. Ia hanya begituan kepada istrinya (perempuan).
    Laki-laki yang punya kecenderungan menyukai laki-laki lain. Apakah ia menahan dirinya dari mendatangi laki-laki lain ataukah ia menuruti hasratnya? Belum tentu ia menuruti hasratnya untuk mendatangi laki-laki lain. Jika ia menahan diri, bukankah ia tidak berpraktik liwath?
    Laki-laki yang memperturutkan hawa nafsunya mendatangi laki-laki lain. Entah karena ia punya kecenderungan biseksual, entah karena ia punya kecenderungan SSA, atau pada beberapa kasus karena “gaya hidup,” “kebutuhan untuk terlihat dominan,” “trauma sodomi,” “efek terpapar film porno yang menormalkan segala hal yang tak normal.”
    Kerasukan jin. Bagian ini masuk pada “percaya pada yang gaib.” Tekanan batin, bisa terjadi pada siapa saja. Kadang karena ekspektasi orang tua akan anak yang berbeda jenis kelamin kadang bisa karena hal lain.
    Yang perlu dicermati dalam isu ini:
    1. Ada upaya campur aduk mengenai “by nature” yang “by design” sangat sah untuk diperturutkan tanpa peduli pada skriptur. Kata kunci “by nature” lantas digunakan sebagai justifikasi bolehnya.
    Kalau semua yang “by nature” dituruti, fa alhamaha fujuroha wa taqwaha, lalu di manakah letak ketakwaan ketika skriptur diabaikan?
    2. Liwath (mendatangi laki-laki lain, benar2 main anggar) berbeda dengan “punya kecenderungan itu” namun ia menahan diri. Di dalam kampanye “by nature” oleh sekuleris liberalis atau apapun nama dagangnya, kecenderungan homoseksual dicampuradukkan dengan liwath. Bahkan ini diekor oleh juru dakwah, sehingga ada kekacauan dan memang justru itu yang membuat kita tidak karuan melihatnya. Ketika seseorang yang kecenderungannya SSA begitu kuat namun ia menahan diri, ia bukanlah pelaku liwath.
    Di dalam term liberalis sekularis atau apapun merk dagangnya, kecenderungan ini dimasukkan di dalam satu terma dengan “pelaku liwath” yaitu: homoseksualitas.
    3. Perkara empat orang saksi di dalam penghukuman liwath. Banyak penyuara liberalis sekularis atau apapun merk dagangnya namun mengkoprolkan dalil skriptur, menggunakan takaran “empat orang saksi” sebagai “berarti susah dipenuhi” berarti “tidak mungkin dihukum” berarti “memang tidak ada hukuman.”
    Ini sesuatu yang simplistik dan koprol-koprolan. Ada bagian lain yang membuat seseorang bisa dipertimbangkan pada hukuman yaitu: pengakuan.
    Bukankah kita ingat ada kisah seseorang yang mengaku berzina kepada Rasul saw. sehingga ia meminta dihukum sehingga hukum terberikan?
    Bagaimana jika “liwath” dinormalkan dan laki-laki yang menuruti hawa nafsunya mendatangi laki-laki lain merasa bahwa orientasi dan diturutkan dalam perilaku seksual seperti itu adalah normal dan kemudian merasa “baik-baik saja” untuk memberikan “pengakuan berulang-ulang”?
    Atau bahkan selanjutnya mempertontonkan kedekatan itu kepada khalayak secara terang-terangan sehingga bisa lebih dari empat orang?
    Apakah ketika “dunia internasional” yang tak peduli skriptur atau “negara-negara pemberimu dolar” atau “negara-negara yang secara duniawi maju” berkata A, selalu tanpa berpikir, berkontemplasi, berhikmah, dan sebelumnya melihat skriptur, kamu sudah selalu ikut-ikutan berkata A?
    Jadi siapakah Tuan-mu?
    Demikian.

    Suka

  29. melati 29/02/2016 pukul 09:57 Reply

    Astaqfirullah,smoga Allah mengampuni kita semua,
    Islam dan Iman dua hal yg tidak bisa dipisah,kepandaian tanpa iman hemnm

    Suka

  30. evabudieftila@gmail.com 29/02/2016 pukul 17:32 Reply

    Ini nih salah satu contoh perbuatan kaum bani israil dulu… yg dicela didalam Al-Quran.. mempertanyakan, mendebatkan, menyelisihi hal yang telah jelas dalam Al-Quran… ajhirnya banyak menyesatkan..

    Suka

  31. Donny 02/03/2016 pukul 11:16 Reply

    Terima kasih banyak atas tulisan yang sangat mencerahkan ini.

    Mau sharing sebuah tinjauan atas peristiwa Sodom dan Gomora yang tertulis di alkitab yg saya baca (Kitab Kejadian) sbb :

    m.kompasiana.com/topanripan/sodom-sodomi-dan-homoseksualitas_550192c58133119c19fa84e6

    Suka

  32. G. Susanto 05/03/2016 pukul 22:26 Reply

    Hai para komentator, Masalah moral dan akhlak, gak usah ngajari kami, biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu. Moral bukan sekedar urusan seputar slengki, lihat juga moral moral lain yg banyak dilanggar kaum agamis yg justru lebih merugikan kehidupan rahmatan lil alamin. Korupsi, penipu, pelanggar lalu lintas, pelaku kekerasan dll. Banyak kaum sok agamis bagai melihat semut diseberang laut kelihatan tapi gajah dipelupuk mata tak nampak. Jgn merasa paling benar sendiri, kebenaran dunia ini sebatas penafsiran subyektif penguasa, karena yg berkuasa adalah hetero, maka kebenaran dunia adalah versi tafsir hetero. Kebenaran mutlak hanya milik Tuhan. Tuhan yg akan menimbang dosa dan amal baik kita secara menyeluruh komprehensif dari segala sisi secara adil tak ada yg terlewatkan. Bukan hanya seputar slengki saja yg ditimbang. Banyak perilaku hetero yg melanggar mulai korupsi, prmbunuhan, kekerasan dll gak pernah dihujat sekencang hujatan thd lgbt, padahal merekalah yg benar benar relistis perusak kehidupan rahmatan lil alamin. Makanya bagi kalian para hetero, urus saja moralmu akhlakmu, jgn ngajari kami sebelum moralmu sendiri lebih baik.

    Suka

  33. Fullanah 08/03/2016 pukul 09:54 Reply

    kalian juga boleh ngajari kami kalo kami salah, kalian punya hak untuk itu. dan kami juga punya hak untuk ngajari bila ada letak kesalahan. Saling ngingetin. karena gak ada manusia sempurna maka selain instropeksi seharusnya ada juga penyadaran, kalo sadar baru anda bisa introspeksi diri anda sendiri, kami juga akan introspeksi. tp yang ada hanyalah saling menyalahkan. tak ada yang mau menerima saran sebagai masukan, dan menganggap saran sebagai jugde.

    Suka

  34. Sang Pencari Kebahagiaan 03/04/2016 pukul 19:36 Reply

    Kesalahan fatal penulis ialah menstigma fiqih dengan istilah klasik-konservatif, dengan demikian disarankan agar tidak mencatut nash atau apapun yang berkaitan dengan “warisan klasik”. Mengapa demikian? karena sejak awal, standarnya adalah “kemodernan”.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s