Maaf, Aporia, Perasaan Itu

Bagaimana Derrida mengajukan—atau mungkin juga mendekonstruksi—makna yang ‘tepat’ atas kata “maaf” itu sesungguhnya bisa berlaku untuk pengalaman akan perasaan-perasaan subtil lain. Terutama mengenai logika aporia.

Seperti terperikan dalam tulisannya, On Forgiveness, yang, sebagaimana kebiasaaan tulisan-tulisan Derrida, mengandung banyak koma dan kalimat yang beranak-pinak itu, maaf mengalami ditingsi, antara yang bersyarat dan yang tidak. Maaf yang bersyarat, bagi Derrida, bukanlah sebenar-benar maaf. Ia sejatinya adalah transaksi, timbal-balik ekonomis, yang dengan satu dan lain cara punya daya tawar politis tertentu, lebih-lebih jika ia mengharuskan adegan-adegan penyesalan (“scenes of repentance”).

Maaf itu menjadi bersyarat karena ia diberikan hanya jika yang tersalah melakukan permintaan maaf (apology, excuse), pengakuan (confession), penyesalan (repentance), dan/atau penebusan (penance, redemption). Di samping penjelasan Derrida bahwa maaf seperti ini telah terrembesi pengaruh agama Abrahamik (yakni dari konsep pengampunan dan pertobatan), maaf-bersyarat mengandaikan adanya hubungan hierarkis antara si korban yang punya otoritas untuk memaafkan dan si kriminal yang harus menundukkan diri di hadapan kuasa korban. Ini tentu tak niscaya berarti bahwa Derrida menolak rekonsiliasi antara si kriminal dan korban. Hanya, bagi Derrida, maaf-bersyarat itu bukan maaf yang murni; itu maaf yang, karena satu pihak tak berdaulat, terjadi dalam relasi yang tak setara. Agaknya lebih tepat disebut, minimalnya, “menuntut pengakuan kesalahan” atau, maksimalnya, “menuntut keadilan”, baik dalam maknanya yang retributif maupun restoratif.

Maaf yang murni, dalam Derrida, adalah maaf yang diberikan—atau lebih tepatnya, terberi—secara tak bersyarat, unconditional, tanpa kalkulasi dan tukar-menukar. Ini maaf yang hadir mengatasi normalitas aksi-reaksi dalam sejarah: Umumnya orang yang terzalimi akan membalas, atau menuntut keadilan, atau setidaknya menuntut pengakuan kesalahan; namun jika yang terzalimi itu, tanpa meminta dan diminta, begitu saja memaafkan, ini adalah kejutan terhadap normalitas itu. Di sini maaf merengkuh asosiasi maknanya yang tak-bisa-dipisahkan (indissociable), yaitu memberi (for-give, par-donner), bukan meminta atau menuntut. Hal yang kurang lebih sama pernah pula dikatakan Hannah Arendt, yang terkenal dengan rumusan idenya “the Banality of Evil” itu, konsep yang diangkat dari reportasenya tentang Adolf Eichmann, letkolnya Hitler yang bertanggungjawab atas eksterminasi sebagian besar dari 6 juta Yahudi. “Memaafkan,” kata Arendt dalam The Human Condition, “adalah satu-satunya reaksi yang bukan re-aksi, melainkan aksi yang baru dan tak terduga” sehingga ia hadir sebagai interupsi terhadap “otomatisme yang tak berkesudahan.”

Maaf yang murni, dalam Derrida, juga maaf yang menyisakan paradoks: Orang sebenarnya tak benar-benar sedang memaafkan ketika yang ia maafkan adalah hal-hal yang dengan mudah termaafkan atau ‘bisa-dimaafkan’. Ironisnya, yang meronta-ronta ingin dimaafkan justru adalah hal-hal yang-tak-termaafkan, yakni ketika suatu kejahatan sudah terlalu kejam, too monstrous, untuk ‘sekadar’ dimaafkan. Tapi justru saat berhadapan dengan kejahatan yang terlalu kejam untuk—dan karena itu tak bisa—dimaafkan itulah, maaf, kalau benar ia tak mustahil terjadi, menjadi murni. Di sinilah aporia: “Maaf,” kata Derrida, “memaafkan hanya yang-tak-termaafkan” (forgiveness forgives only the unforgivable). Maaf di sini telah ditarik hingga ke batasnya yang mustahil, namun justru karena kemustahilannya itulah ketakmustahilan menjadi potensial untuk diaktualkan sehingga ia mampu untuk mungkin. Maaf bekerja dalam proses tarik-ulur dalam garis batas yang kritis antara yang mustahil dan yang mungkin itu.

Aporia semacam itu sesungguhnya juga ada dalam hal-hal lain; ia berlaku pula dalam penghayatan perasaan-perasaan lain. Misalnya, keikhlasan—dan makna etimologis ikhlas, dari muasalnya dalam bahasa Arab yang berakar kata “kha-la-sha”, antara lain adalah “murni”. Dengan menjadikan “maaf murni”-nya Derrida sebagai analog: Ikhlas ialah mengikhlaskan hal yang-tak-bisa-diikhlaskan. Orang yang mengikhlaskan suatu hal yang-bisa-diikhlaskan adalah orang yang merasa bahwa yang dia ikhlaskan itu bisa diikhlaskan dan karena itu ‘terikhlaskan’. Dalam ungkapan lain, ini adalah ikhlas yang bersyarat, yakni bila hal yang diikhlaskan itu adalah yang-bisa-diikhlaskan. Ikhlas yang murni, atau ‘pemurnian’ yang sebenar-benar murni, adalah ikhlas yang terjadi tanpa alasan, hingga tahap yang bersangkutan, si ‘mukhlish’, tak merasa bahwa dirinya sedang ikhlas; ia melampaui pertanyaan apakah yang dia ikhlaskan itu adalah hal yang-bisa-diikhlaskan atau tak-bisa-diikhlaskan.

Aporia yang sama juga berlaku dalam perasaan rendah hati (tawadhu). Tentang ini, ungkapan terkenal dalam tasawuf dari Ibn Atha’illah  (1259-1310) asal Alexandria itu harus dinukil: “Sesiapa yang menetapkan ketawadhuan pada dirinya sesungguhnya ia sedang takabbur” (Man atsbata linafsihi tawadhu’an fahuwa al-mutakabbiru haqqan). Di sini tampak kandungan paradoksnya: Kerendahhatian yang sejati ialah saat orang tak merasa bahwa dirinya sedang rendah hati. Begitu orang merasa rendah hati, ia sedang meninggikan dirinya. Kerendahhatian yang murni ialah yang dipertanyakan  kepada diri sendiri terus-menerus, “dinegasi”, dan didorong untuk melampaui garis batas antara merasa dan tak merasa.

Barangkali aporia juga terjadi dalam perasaan cinta. Saat mencintai yang-bisa-dicintai, seseorang tak sedang benar-benar mencintai: ia mencintai karena yang ia cintai bisa-dicintai (lovable). Ini sebenarnya cinta dengan “karena”, cinta dengan alasan dan dengan demikian tidak independen, sebab ia kondisional, juga transaksional: cinta itu ada asal objek cintanya ialah dia yang-bisa-dicintai. Cinta bisa tanpa “karena” sepanjang ia dipertanyakan oleh diri sendiri, diragukan secara konstan, dinegasi terus-menerus, didorong hingga merengkuh yang-tak-bisa-dicintai. Adanya yang-bisa-atau-tak-bisa-dicintai ialah karena cinta dilakukan dengan sadar dan intensional; dan karenanya ‘cinta’ itu bisa dijelaskan dalam konsep dan diungkap dalam kata-kata. Pecinta adalah subjek yang diandaikan ada terpisah dari entitas bernama “cinta” yang kemudian diperlakukannya sebagai objek, sebagai ‘benda’ yang bisa dibahas layaknya gagasan. Cinta akan murni dan tanpa “karena” ketika terjadi inversi antara posisi si pecinta dan cinta, yakni saat pecinta dengan pasif tenggelam-terhanyut—dan bukan jatuh, apalagi menjatuhkan diri—dalam pusaran cinta. Di posisi ini pecinta berbalik menjadi objek yang digerakkan cinta dan dia, sang pecinta itu, tidak menyadarinya. Jadi bukan si pecinta yang menyengaja menumbuhkan cinta, tapi cinta yang menggerakkan si pecinta; cinta menelan si pecinta.

Dalam aporia ini, ungkapan-ungkapan cinta sejatinya ialah reduksi, kalau bukan malah penodaan, terhadap kemurnian cinta-yang-menenggelamkan-dan-menghanyutkan-itu; cinta-yang-tanpa-kata-kata-itu; cinta yang seharusnya mengejawantah secara apofatis itu; cinta yang mewujud melampaui kesadaran itu; cinta yang maksimal hanya bisa digambarkan dalam ungkapan-ungkapan negatif “apa-yang-bukan-cinta”; cinta yang membuat si pecinta terus menerus ragu dan selalu bertanya kepada dirinya sendiri: inikah cinta?

Tagged: , , , ,

One thought on “Maaf, Aporia, Perasaan Itu

  1. Sabar | Azis Anwar Fachrudin 05/05/2016 pukul 19:11 Reply

    […] untuk sebagian besar–kalau bukan malah semua–modus perasaan atau tindakan batin. Dalam postingan sebelum ini, saya mencontohkan maaf, keihklasan, rendah hati, dan cinta. Ada contoh lain lagi, yaitu […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s