Sabar

Logika aporia barangkali berlaku untuk sebagian besar–kalau bukan malah semua–modus perasaan atau tindakan batin. Dalam postingan sebelum ini, saya mencontohkan maaf, keihklasan, rendah hati, dan cinta. Ada contoh lain lagi, yaitu kesabaran. Sering terdengar orang berkata bahwa sabar ada batasnya. Ini pernyataan yang mengandaikan bahwa ada garis yang membatasi antara sesuatu yang-bisa-disabari (“sabar-able”) dan yang-tak-bisa-disabari (“un-sabar-able”). [Note: Bersabar tidak selalu bermakna pasif (sabar dari…); ia bisa juga aktif, yakni sabar untuk melakukan sesuatu.]

 
Paradoksnya: orang tak bisa lagi dikatakan sabar ketika yang ia sabari adalah sesuatu yang sanggup ia ‘sabari’. Saat orang bilang bahwa sesuatu hal sudah tak sanggup ia sabari berarti, ya, dia tak sabar akan hal itu, dan dengan demikian dia tak bisa dikatakan sabar. Dia bisa dikatakan sabar ketika yang semula tak-bisa-disabari bisa ‘disabari’, tapi begitu ia berada tepat pada momen ia sadar bahwa ia ‘sabar’ akan hal itu, ia segera tak lagi bisa disebut sabar sebab sudah tak ada lagi proses kesabaran. Kesabaran selalu ditentukan dari hal-hal yang-tak-bisa-disabari, bukan hal yang-bisa-disabari. Sabar yang ‘murni’ ialah kesabaran yang diupayakan hingga sanggup merengkuh yang tak-bisa-disabari. Maka yang ada dalam kesabaran bukanlah batas, melainkan proses terus menerus untuk menjangkau yang-tak-bisa-disabari. Bisa juga dikatakan, kalaulah ada batas, maka kesabaran berarti dorongan terus menerus untuk melampaui batas itu; didorong hingga batas itu terus melebar tak berhingga. Di sinilah aporia: dengan meminjam formula kalimat dalam ungkapan Derrida tentang maaf (“forgiveness forgives only the unforgivable”), maka bisa dikatakan bahwa “sabar adalah sabar akan hal yang un-sabar-able.” Ringkasnya, seperti yang konon pernah dikatakan Gus Dur: “Sabar itu gak ada batasnya; kalau ada batasnya berarti gak sabar.”
 
Ini tampak kontradiktif memang, tapi begitulah watak aporia: kondisi ketika logika mengalami kebuntuan (impasse), karena konklusinya mengandung paradoks tapi uraian proposisi yang membangun premis-premisnya benar. Tidak ada ‘jalan keluar’ dari kebuntuan ini, kecuali dengan sikap apofatis: menegasi secara konstan ‘batas’ kesabaran, dan kemudian diam, sebab ketika diungkapkan dan dikonseptualisasi dia akan menciptakan batas. Kata-kata dan konsep-konsep secara inheren punya fungsi mengikat, mendefinisikan, dan membatasi makna, dan membuatnya menjadi gagasan untuk dipikirkan secara sadar. Sementara kesabaran, juga perasan-perasaan aporistik lainnya, adalah untuk dialami-dihayati, berada dalam proses perasaan itu menenggelamkan orang yang merasakannya.
 
Itu! *dengan gaya Mario Teguh*

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s