Sadiq Khan

Kemenangan Sadiq Khan (45) dalam pemilu kota London pada 7 Mei lalu memberikan banyak pelajaran, tak terkecuali untuk kita di Indonesia.

Sadiq Khan, anak supir bus imigran asal Pakistan itu, adalah walikota muslim pertama London. Muslim minoritas yang kemudian menjadi walikota berpenduduk mayoritas non-muslim di Eropa sebenarnya bukan pertama kali ini. Sebelumnya sudah ada Ahmed Aboutaleb (54) yang jadi walikota Rotterdam, Belanda, sejak 2009. Namun London punya signifikansi lebih: London adalah kota yang, bersama New York, selalu bersaing menjadi kota terhebat sejagat dari berbagai aspeknya. Kemenangan Sadiq dengan demikian juga membawa pesan besar bagi dunia Islam.

Umat Islam di London ada tak lebih dari 13 persen. Masjid yang pertama berdiri di London adalah Masjid Fazl, didirikan pada 1926 oleh orang-orang Ahmadiyah. London, juga Inggris secara umum, adalah penganut nilai multikulturalisme, nilai yang cukup berbeda dari Prancis dengan sekularsime ala laicite-nya atau Amerika dengan sekularisme ala “toleransi kembar”. Karena itu ekspresi kultural menonjol di Inggris. Orang-orang imigran dari Asia, terutama dari Asia Selatan, banyak di Inggris dan bisa mengekspresikan budaya asalnya ke kota tempat klub bola Chelsea dan Arsenal itu.

Di antara manifestasi multikulturalisme itu ialah penghargaan terhadap hak-hak kaum homoseksual. Sadiq Khan, tak bisa ditutup-tutupi, termasuk pro pernikahan sejenis, sebuah keberpihakan yang membuatnya sempat dikafirkan oleh seorang ulama setempat dan bahkan mendapat ancaman pembunuhan. Ia sendiri sebelumnya adalah pengacara yang mengadovaksi isu-isu hak asasi manusia—Inggris ialah inisiator Konvensi Eropa untuk Hak Asasi Manusia. Bila direfleksikan ke diskursus keislaman di Indonesia, Sadiq Khan bisa dibilang ialah seorang muslim liberal, meskipun ia bukan “kanan” dalam lanskap perpolitikan Barat; ia berafiliasi ke Partai Buruh, persisnya dari sayap sosial demokrat (kiri-tengah).

Kita bisa membaca kemenangan Sadiq Khan ini, pertama, sebagai kemenangan kompetensi dan integritas di atas politik identitas. Rivalnya dari Partai Konservaatif, Zac Goldsmith, menyerangnya dengan memainkan identitasnya sebagai seorang muslim, juga dakwaan bahwa Sadiq Khan pernah berbagi panggung dengan terduga teroris. Sementara kampanye Zac Goldsmith meninggalkan kesan perpecahan (division), Sadiq Khan mengupayan persatuan (unity) bukan dengan menyerang lawan melainkan fokus pada isu-isu bersama yang sedang dihadapi warga London. Hasilnya: Goldsmith kalah, Khan menang. “Kemenangan persatuan atas perpecahan” diungkapkan Khan dalam pidato kemenangannya dan tagar #YesWeKhan (plesetan dari “yes we can”—slogan kampanye Barrack Obama dulu) ramai di media sosial.

Kita juga bisa membaca kemenangan itu, kedua, sebagai kemenangan harapan atas rasa takut. Dalam soal ini, kemenangan Sadiq Khan membawa simbol signifikan: dalam konteks ketika Islamofobia (juga xenofobia dan rasisme) masih berkembang di Eropa dan diskursus yang diulang-ulang oleh kaum elite konservatif di level nasional semakin menguatkan itu, kemenangan Khan di tingkat lokal membuktikan bahwa kapitalisasi rasa takut dan stigmatisasi tidak selalu berjalan baik. Yang terjadi: pemberian harapan dan ajakan untuk hidup bersama (“living together”) berhasil mengikat hati banyak warga London.

Pembacaan yang ketiga yang lebih relevan untuk konteks kita: kemenangan Sadiq Khan bisa dimungkinkan ketika para partisipan politik memiliki kesadaran kuat bahwa menyerang lawan politik berdasarkan identitas, apalagi identitas primordial, adalah noda bagi demokrasi. Cerita akan lain, misalnya, bila warga London gampang tertipu dengan politik identitas, apalagi bila umat Kristen di sana, misalnya, memakai ayat-ayat kitab suci untuk merongrong legitimasinya sebagai pemimpin di kota yang mayoritas non-Muslim.

Sadiq Khan sendiri bahkan tak mau bila identitas keislamannya menjadi alasan konstituennya memilihnya. Ia menegaskan ini seraya mengutip JF Kennedy (presiden Amerika ke-35) saat memperingatkan konstituen katoliknya bahwa ia tak ingin dipilih karena ia katolik, melainkan karena kompetensinya, integritasnya, dan apa yang ia perjuangkan. Sudah selayaknya demikianlah demokrasi yang sehat dan seorang demokrat bertindak.

Bisa dimaklumi ketika media kemudian memberikan penekanan kuat pada dirinya sebagai “the first Muslim mayor”—dalam logika media, kemenangan Sadiq Khan adalah “berita”. Namun pada akhirnya, tak terkecuali bagi umat Islam, fakta bahwa ia menjadi walikota muslim pertama bagi London semestinya belum bisa dipandang sebagai prestasi. Sebagai walikota dan pemimpin politis, kebijakan dan tindakannyalah yang mesti dinilai. Apalagi di London, kota kosmopolitan, kota yang, sebagaimana kota-kota besar dunia, menjadi melting pot berbagai bangsa dan budaya.

Hal yang terakhir ini menjadi pelajaran terpenting untuk kita di Indonesia. Bukan hanya tentang bagaimana demokrasi yang sehat berjalan, tapi juga, khususnya bagi umat Islam, tentang bagaimana melihat diri sendiri melalui lensa orang lain: Orang-orang seperti Sadiq Khan bisa dimungkinkan muncul di sistem politik itu, dan bukan di sistem di mana para partisipan politiknya kerap menjadikan agama sebagai alat untuk menjegal lawan politik. Pertanyaannya kemudian: bisakah muncul “Sadiq Khan” (terutama, meski tak harus, dalam rupa non-muslim) di Indonesia? Waktu akan menjawabnya.

— artikel ini telah dimuat Kedaulatan Rakyat, 11/05/2016

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s