Jilbab dan Cantik

“Kamu makin cantik deh kalau pakai jilbab.”

Ini kalimat yang—dalam konteks tertentu, dengan memperhatikan siapa yang mengucapkan, kepada siapa ia disampaikan, dan lebih penting lagi wacana yang sedang dominan atau narasi-narasi yang sedang berkontestasi—tak boleh dimaknai secara literal.

Dalam konteks ketika:

1) kalimat itu diucapkan di zaman ini ketika jilbab jadi penanda penting tingkat religiositas (yang punya implikasi politik identitas yang jauh berbeda dibanding sebelum tahun 1980)—apalagi ditambah faktor norma dalam budaya yang bersangkutan bahwa tugas lelaki adalah melancarkan agresi sedang perempuan cukup menunggu serangan;
2) kalimat itu diucapkan oleh orang yang punya imajinasi tentang seks dan keseksian yang binal, juga tak jarang memperlakukan perempuan sebagai ‘objek’, tapi untuk urusan cari istri ia tetaplah mendambakan perempuan salehah dan penurut yang ditandai dengan, antara lain, memakai jilbab;
3) kalimat itu diucapkan kepada perempuan yang sebelumnya memang sudah cantik (dengan parameter kecantikan berupa putih, mulus, berbadan sintal, dlsb), lebih-lebih setelah ‘berhijrah’ memakai jilbab ada perubahan karakter dari yang sebelumnya ‘liar’ jadi lembut;

maka kalimat itu mengandung nuansa menundukkan: perempuan yang diberi ucapan itu jadi tambah cantik karena ia tampak lebih jinak. Apalagi bila si pengucap itu adalah tipe orang yang tak menyukai perempuan pemberontak, ditambah dengan asumsi bahwa si perempuan adalah barang mewah dengan kecantikan jasmaniah yang menjadi atributnya sehingga tak setiap lelaki akan mudah mendapatkannya. Dalam ungkapan yang lebih blak-blakan: dalam konteks yang mengandung tiga variabel tadi, kalimat itu bisa dicurigai sebagi hasrat menguasai yang bersembunyi di balik simbol agama. Anda bisa pula membacanya sebagai perendahan makna jilbab: hal yang pada mulanya dimaksudkan sebagai manifestasi spiritual (jilbab) justru jadi instrumen pengukur hal material (kecantikan jasmani). Maka kepada para perempuan, bila mendapat kalimat macam itu, lihat-lihatlah siapa pengucapnya, dan berhati-hatilah: bisa jadi itu kalimat manis tapi berbisa.

Hal yang sama, dengan konteks yang sama, sebenarnya juga bisa berlaku untuk hubungan sebaliknya (diucapkan perempuan kepada lelaki), dengan kata cantik dan parameternya diganti dengan tampan dan parameternya, serta jilbab diganti dengan simbol religius lainnya. Misalnya: “Kamu makin cakep deh kalau sehabis Jumatan.” Atau, “Kamu makin tampan deh kalau pakai peci/sarung.” Hanya saja yang terakhir ini agaknya jauh lebih jarang terucap, karena, selain faktor relasi lelaki-perempuan yang timpang, asosiasi politik identitas yang tersemat pada peci/sarung untuk saat ini belum sekuat yang tersemat pada jilbab. Iya, kan?

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s