Jogja, Macet

Jogja makin macet. Orang-orang sudah sering mengeluhkannya dalam dua-tiga tahun terakhir. Penyebabnya banyak, dan untuk mengetahuinya tak memerlukan pemikiran rumit.

Jalanan Jogja sempit-sempit dan tak bisa lagi diperluas. Banyak pertigaan dan perempatan, dan sedikit-sedikit akan terjumpa lampu lalu lintas. Ditambah orang-orang kini suka memakai mobil, bahkan untuk perjalanan dekat dalam kota. Satu mobil, kita tahu, bisa memakan ruang jalan yang bisa dipakai untuk sekitar tiga-empat motor. Transportasi publik juga terhitung minim, dan rasa-rasanya kian berkurang karena orang-orang lebih suka memakai kendaraan pribadi. Jangan lupakan pula parkiran-parkiran liar di pinggir jalan.

Akumulasi dari hal-hal ini membuat jalanan Jogja, yang sudah tak sedap dipandang karena bejibunnya “sampah visual” itu, kerap macet dan tampak makin semrawut. Tak perlulah dinyatakan ihwal ketidakramahannya bagi para pejalan kaki dan pengguna sepeda. Kota yang maju, juga yang berbudaya, ditandakan dengan kenyamanannya bagi para pejalan kaki dan pengguna sepeda.

Orang sering menyebut Jogja sebagai “kota budaya”. Terhadap julukan ini, hal-hal yang segera terlintas di benak terasosiasi pada kraton, bangunan-bangunan lawas, batik, adat istiadat seremonial, tari-tari tradisional, dan hal-hal lain yang secara umum berasal dari masa lalu yang diwarisi dan kadang disebut “cagar budaya”. Ini tidak salah, tapi budaya bukan hanya soal romantisme akan hal yang lampau. Budaya mencakup hasil cipta, karsa, dan cara berperilaku manusia, baik dulu maupun kini, termasuk tata kota, juga perilaku di jalanan.

Maka “kota budaya” juga diukur, antara lain, dari ketertiban di jalanan. Dalam pendapat hamba yang hina ini, tata kota dan perilaku di jalanan boleh dianggap lebih mencerminkan budaya suatu wilayah ketimbang hal-hal dari masa lalu itu. Tidak setiap hari orang melihat bangunan klasik, menyelenggarakan seremoni tradisional, atau memakai batik. Tetapi tiap hari orang-orang melewati jalanan. Di samping itu, hal pertama yang memberi kesan terhadap orang luar yang datang ke suatu kota adalah kondisi jalanan dan transportasinya, sebelum segala hal lain menyangkut objek wisata. Kondisi jalanan adalah bagian esensial yang mendefinisikan seberapa baik dan berbudaya suatu kota.

Perihal kondisi jalanan ini, maaf, Jogja tidaklah istimewa. Jogja kian menjadi sama dengan kota-kota besar lain di Jawa. Kecuali bila ada tindakan-tindakan yang terstruktur, sistemik, dan masif dari mereka yang di pundaknya terpikul tanggung jawab untuk membenahi tata kota. Sepertinya masih ada waktu: Jogja belum semacet Jakarta. Bagaimana kebijakan konkretnya, hamba tak punya bekal ilmu untuk itu. Tapi di Jogja, kota pelajar ini, ada banyak orang pintar, juga orang-orang yang berlatar studi perencanaan kota (urban planning). Masa ya ndak bisa bikin Jogja jadi kota yang bersih, tertib, dan ayu sesuai slogan “hamemayu hayuning bawana” itu?

Tagged: , , ,

One thought on “Jogja, Macet

  1. Rio (@R10R) 31/08/2016 pukul 07:32 Reply

    Saya baru balik liburan dari Yogyakarta setelah sebelumnya “pulang ke kotamu” ini tahun 2010 dan saya setuju banget dengan pendapat kamu: Yogya macet dan penuh sampah visual. Papan reklame, billboard, dan petunjuk nama tempat menguasai sudut, pertigaan, perempatan bahkan sepanjang jalanan dengan centang perenang dan dipasang sampai menjorok ke badan jalan. Sakit mata saya lihat semua itu. Mending kalo bayar pajak dan uangnya beneran digunakan untuk pembangunan infrastruktur, bukan ditilep. Kendaraan bermotor pribadi, terutama sepeda motor, menguasai jalanan dan pengemudinya banyak yang nggak mengerti atau nggak mengindahkan aturan lantas, seperti berbelok tapi memakan jalur orang yang bikin orang harus menunggu dia lewat. Bus TransYogya merupakan upaya yang bagus tapi jumlahnya masih sangat kurang. Ruang pejalan kaki sudah ada tapi jauh dari memadai.

    Ayo Yogya, jangan jadi Jakarta. Kalo udah parah ngebenerinnya susah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s