Liberal Arts

Di Indonesia, kata “liberal” (bersama dengan “Syiah” dan “komunis”) sudah jadi kata kotor untuk melabeli orang atau kelompok, sampai-sampai banyak orang kini cenderung menghindarinya. Namun kata “liberal” dalam bidang pendidikan (tinggi) di Barat—sebenarnya juga di banyak universitas di Asia kini—punya konotasi positif. Ini ditandai dengan banyaknya institusi pendidikan bernama “college/faculty of liberal arts”. Kata “liberal” di sini tentu saja tak bermakna sama dengan liberalisme sebagai sebuah ideologi politik. “Liberal arts” (Latin: artes liberales), sebagaimana kata Simbah Wikipedia, merujuk pada ilmu-ilmu fondasional yang menjadi bekal dasar bagi seorang yang merdeka sebelum berkiprah dalam kehidupan sipil di masyarakat.

Sejarahnya bermula dari zaman Yunani kuno hingga era Abad Pertengahan. Diajarkan dengan gaya pengajaran klasik, ilmu-ilmu fondasional itu mencakup apa yang disebut dengan trivium, yakni gramatika, retorika, dan logika—yang pada perkembangnya ditambah dengan apa yang disebut dengan quadrivium, yakni geometri, aritmatika, astronomi, dan musik. (Satu hal menarik: ilmu-ilmu yang dalam istilah kita sering disebut “eksakta” ini dalam kategorisasi keilmuan klasik diistilahi dengan “arts”.) Saya membayangkan, dalam pendidikan klasik, ilmu-ilmu fondasional ini adalah keterampilan wajib yang dimiliki oleh setiap pelajar sebelum ia beranjak ke bidang-bidang ilmu spesifik pilihannya.

Di Amerika, ada satu Muslim college—dan untuk sementara ini masih menjadi satu-satunya Muslim college di Amerika yang sudah terakreditasi— bernama “Zaytuna College” yang menyatakan dirinya, sebagaimana disebut di laman resminya, sebagai “a Muslim liberal arts education.” Tapi jangan dikira bahwa college ini membawa misi untuk menyebarkan ideologi “Islam liberal” sebagaimana kata ini dipahami di Indonesia. Tampak dari kurikulumnya, college ini memberikan penekanan khusus pada ilmu-ilmu dasar keislaman, terutama gramatika bahasa Arab dan ilmu-ilmu instrumental (“ilm al-alat”) lain . Pendirinya ialah Syaikh Hamza Yusuf, salah satu tokoh Muslim berpengaruh Amerika, murid dari Syaikh Abdullah bin Bayyah (ulama besar mazhab Maliki masa kini, asal Mauritania). Kalau diperbolehkan saya memberikan penilaian, Syaikh Hamzah Yusuf ini tipe ulama yang sangat tradisionalis; amat lihai menukil rujukan-rujukan dari kitab-kitab klasik. Sejauh yang sudah saya ikuti dari kuliah-kuliahnya di Youtube dan beberapa tulisannya, pandangan-pandangan keislaman Syaikh Hamza Yusuf tak jauh beda dengan pandangan keislaman yang dianut NU—kecuali dalam soal merokok.

Di pesantren-pesantren tradisional, yang mewarisi pola pendidikan klasik, “liberal arts” sesungguhnya ada dan diajarkan, meski tentu tak memakai nama itu. Ini ditandai dengan dipelajarinya ilmu-ilmu dasar seperti nahwu-sharf (gramatika), balaghah (retorika), dan manthiq (logika) sebagai bagian kurikulum wajib—meski di beberapa pesantren, yang terakhir (manthiq) tak dipelajari seintens dua yang pertama. Ini adalah ilmu-ilmu fondasional yang menjadi prasyarat untuk masuk ke bidang-bidang ilmu selanjutnya seperti teologi, tafsir, hadis, fikih, dll. Ini pula yang membedakan pola pengajaran ilmu-ilmu keislaman ala pesantren dari pengajaran Islam di tempat “nganu” di mana ilmu-ilmu fondasional-instrumental bisa ditunda, atau malah tak dipelajari, dan langsung meloncat ke tafsir-hadis-fikih—itu pun kadang langsung ke ayat-ayat perang, hadis-hadis yang keras, dan fikih bab jihad.

Di pesantren-pesantren tradisional, ilmu-ilmu fondasional ini dipelajari dengan sangat giat dan lama, menggunakan kitab-kitab dari yang ringkas untuk pemula hingga yang berjilid-jilid dan sangat detil, bahkan dihafal dalam bentuk syair-syair (nazhm). Khusus di Indonesia, Anda tak akan menemui pengajaran gramatika bahasa asing seintens (dan semurah!) di pesantren-pesantren. Boleh dikata, pesantren, sebagai salah satu institusi pendidikan tertua di Nusantara, sebenarnya adalah promotor “liberal arts”. Hehehe.

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s