AADC: Impresi dan Kata Ganti

Melihat berbagai tulisan yang mereview AADC 2 (2016), tampaknya banyak yang berpendapat bahwa film yang disutradarai Riri Riza ini tak seimpresif AADC 1 (2002) garapan Rudi Soedjarwo. Bukan berarti AADC 2 tak bagus sama sekali. Secara umum, AADC 2 bagus untuk ukuran rata-rata perfilman Indonesia. Hanya saja, karena ia merupakan sekuel, publik akan cenderung membandingkan AADC 2 dengan AADC 1. Dengan kata lain, AADC 2 dinilai tak sememuaskan harapan karena dilihat dari film yang dibandingkan dengannya.

Ini aspek penting yang selalu menjadi tantangan utama bagi para penggarap sekuel. Saat memulai menonton yang pertama, penonton berada dalam kondisi tanpa ekspektasi. Ini punya imbas pada minimnya potensi publik untuk kecewa. Sedang untuk sekuelnya, publik sudah punya kesan mendalam, juga tahu betul kuatnya karakter dan jalan cerita yang terbangun di edisi pertama. Publik yang menonton AADC 2 tak lagi berada dalam kondisi—meminjam istilah ilmu balaghah (retorika Arab)—“khaliyud-dzihni”, kosong pikiran. Sebelum menonton AADC 2, publik telah membawa segenap ekspektasi yang tentu akan paralel dengan besarnya potensi kecewa jika ternyata filmnya tak semenggairahkan yang pertama.

Ada tiga hal yang menyebabkan film AADC 2 tak menyisakan kesan semendalam AADC 1, sekurang-kurangnya dalam pandangan subyektif saya.

Satu, AADC 2 tak mengandung banyak adegan atau dialog yang nendang, sebegitu nendangnya sehingga adegan dan dialog itu akan tersimpan kuat di memori penonton. Bandingkan dengan AADC 1, dengan beberapa dialognya yang masih diingat bahkan hingga satu dekade lebih setelah film itu dirilis. Orang-orang ingat betul akan Cinta yang bilang, “Cowok yang namanya Rangga adalah cowok yang… yang sombong banget, sengak, belagu banget… orangnya tu sok bintang tau gak lo… kalau gua bilang tu ya, orangnya dah mati rasa, sok cuek, udah kayak sastrawan besaar gitu…” Atau, “Basi! Madingnya udah siap terbit!” Atau, “Lha sekarang kalo lo gak punya temen sekali itu salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue?” Atau, “Kalo gue bilang tu ya, lo tu bener-bener sakit jiwa!” (Yang terakhir ini kerap dipakai Andre Taulani di OVJ saat mode on jadi anak ‘gaol’.)

Juga jangan lupa dengan beberapa larik dalam puisinya: “kulari ke hutan kemudian menyanyiku… bosan aku dengan penat, dan enyah saja kau pekat…. atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?” (Tak sedikit, termasuk saya sendiri, yang tak paham maksud puisi ini apa [atau itu memang jenis puisi yang memang dibiarkan ‘gelap’ maknanya]; tapi ndak tahu kenapa terasa enak, membuat benak berdesir, dan terdengar musikal.)

Dua, AADC 1 sebegitu berpengaruhnya sehingga ia jadi pembentuk tren film/sinetron percintaan ala remaja yang datang setelahnya. Imbasnya bukan hanya dalam film, tapi juga dalam derajat tertentu efek kultural dalam kehidupan remaja. Gara-gara AADC 1, cowok-cowok pada suka niru gaya Rangga yang sok cool, sok galak, dan sok misterius seraya mengharap ada yang semacam Cinta yang akan mengejarnya (padahal ya nggak ada, karena gagal memiripkan diri dengan Rangga), juga mendadak jadi apresiatif pada puisi (padahal nggak paham-paham amat dalam menilai puisi yang bagus itu seperti apa). Yang cewek juga sama: marahan, lalu pergi; begitu udah jalan agak jauh, lalu menengok ke belakang demi mengirimkan kode bahwa dirinya ingin dikejar (ini berkat ajaran si penjaga toko buku loakan di Kwitang itu).

Alur hubungan yang pasang surut di AADC 1, dengan Rangga-Cinta berantem, lalu baikan, berantem lagi, lalu baikan lagi, berantem lagi, lalu baikan lagi, digambarkan dengan begitu mulus, lengkap dengan segala paradoks perasaan yang terjadi dalam diri Cinta: marah, tapi di dalam benak tetap tersimpan rasa tak ingin kehilangan. Konflik berkali-kali yang mengiringi perubahan perasaan dari benci menjadi “benci” (benar-benar cinta) itulah yang menjadi jantung AADC 1, yang lalu menjadi tren dalam film/sinetron percintaan setelahnya. Dalam aspek ini, AADC 2 tak menyisakan bekas semendalam AADC 1.

Tiga, dan ini yang mengganggu khusunya bagi saya, AADC 2 kurang peka dengan makna konotatif dari kata ganti orang (pronomina). Perhatikanlah di AADC 1, ada pola percakapan yang konsisten: ketika sedang marahan, Cinta akan memanggil Rangga dengan “lo”; begitu dalam kondisi baikan, panggilan berubah menjadi “kamu”. Ada semacam—meminjam istilah balaghah lagi—“iltifat” di sini, yakni perubahan kata ganti karena mempertimbangkan efek retorisnya. Dalam AADC 1, karakter Cinta jelas peka akan hal ini. Adapun Rangga, ia konsisten dengan “saya-kamu”, tapi bukan berarti ia tidak mengerti. Ini tampak terlihat dalam percakapan di depan ruang mading geng Cinta setelah Rangga mendapatkan kembali buku “Aku”-nya Sjuman Djaya itu. Cinta bilang, “Hey, kamu tuh kalo lagi kebingungan lebih nyenengin ya. Kamu bingung aja terus.” Lalu timpal Rangga, “Kamu? Iya kamu, biasanya kan ngomongnya loe-gue.”

Bandingkan dengan AADC 2, di mana di hampir semua—atau kayaknya bukan hampir, tapi memang semua—percakapan Cinta-Rangga selalu memakai kata ganti “saya-kamu”. Di dalam dialog yang agaknya paling diingat dari AADC 2, yakni ketika Cinta bilang, “Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu… jahat!”, penggunaan kata “saya” di sini menurut saya ndak enak. Lebih enak kalau diganti dengan “aku”. Untuk konteks percakapan anak muda yang akrab dan setara saat ini, pasangan yang pas untuk “kamu” adalah “aku”. Dalam pandangan saya, kata ganti “saya” itu pasnya untuk percakapan dengan lawan bicara yang belum akrab, atau dalam acara formal, atau untuk relasi yang tak setara—sehingga pasangan yang pas untuk “saya” adalah “Anda”, sekurang-kurangnya dalam makna konotatif yang mutakhir berkembang. “Aku” punya nuansa keakraban dan kesetaraan antara orang pertama dan lawan bicara, sedang “saya” (yang asalnya “sahaya”; dan ini berlaku pula untuk kata-kata lain di bahasa lokal seperti “kula”, “abdi”, “ambo”, “hamba”) memiliki konotasi orang pertama menempatkan dirinya, sedikit atau banyak, lebih rendah dari lawan bicara.

Ihwal pemilihan kata ganti dengan memperhatikan siapa lawan bicara ini memang persoalan yang memiliki sensitivitas kultural tersendiri, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di banyak negara lain di belahan Timur, juga di beberapa negara di Barat (di bahasa Prancis misalnya, jika lawan bicaranya adalah orang yang lebih tua, yang dihormati atau orang baru yang belum akrab, kata ganti yang dipakai adalah kata ganti orang kedua jamak [vous], bukan orang kedua tunggal [tu]). Beda dari bahasa Arab misalnya (dengan “ana” dan “anta”), atau di Inggris (“I” dan “you”), kata ganti dalam bahasa-bahasa di Indonesia menunjukkan adanya semacam strata, sampai-sampai ada banyak pilihan kata untuk kata ganti orang yang sama. Di bahasa Jawa saja, ada banyak kata untuk orang kedua: “kowe”, “sira”, “koen”, “awakmu”, “sampeyan”, “panjenengan”, dll. Setidaknya bagi orang dari latar belakang kultural Jawa, penggunaan kata ganti ini sensitif sekali, sampai-sampai ketika bicara dengan orang yang lebih tua atau dihormati, kadang bingung saat mau pakai “Anda”: karena kata ini rasanya terlalu resmi dan berjarak, maka sebagai gantinya tetap pakai “njenengan”. Efek kultural ini juga agaknya merembes ke dalam bahasa Indonesia. Anda tak bisa memanggil orangtua atau orang lain yang dihormati dengan “kamu”, apalagi “lo”. Dari sisi sebaliknya, rasanya ‘wagu’ kalau kata “kamu, iya kamu” diganti dengan “Anda, iya Anda” atau “Njenengan, iya Njenengan.” Begitu.

Tagged: , , , ,

One thought on “AADC: Impresi dan Kata Ganti

  1. dian nafi 06/09/2016 pukul 09:39 Reply

    alamaaaak keren banget ulasannya. khas anak pesantren. balaghoh🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s