Ahok Tidak Menista al-Quran

Hari ini pemeriksaan Ahok di Bareskrim dimulai. Para saksi ahli dari berbagai kalangan akan dipanggil untuk menentukan apakah Ahok harus dijadikan tersangka kasus penodaan agama. Mari menyatakan sikap.

Jika ditanya, dengan pernyataannya di Kepulauan Seribu itu apakah Ahok telah menista al-Quran, jawablah dengan hati yang penuh cinta: tidak. Dua dalil berikut cukup sebagai sandaran.

Satu, tidak mungkin seseorang yang sedang mencalonkan diri untuk pemilu akan dengan sengaja—sekali lagi, dengan sengaja—menghina simbol sakral dari agama yang dipeluk mayoritas para calon pemilihnya, kecuali yang bersangkutan diam-diam berniat ingin kalah atau ingin dipidana. Unsur kesengajaan ini perlu digarisbawahi, karena ia menentukan penjatuhan status tindak pidana.

Dua, sebagaimana sudah pada tahu, ada kata “pakai” dalam pernyataan asli Ahok. “Makan pakai tangan” jelas berbeda dari “makan tangan”. Penjelasan tentang ini tak perlu berpanjang-panjang sebab sesungguhnya ia tak memerlukan pengetahuan kebahasaan yang canggih.

Dengan dua hujjah ini saja telah terang benderang, seterang mentari di cerahnya siang hari, bahwa Ahok tidak menista al-Quran.

Yang dia “nista” (dan ini berlaku jika dan hanya jika menyatakan “berbohong” bisa disebut “menista”) adalah “orang”. Kata “orang” di sini berarti secara literal: ya, “orang”. Inilah kata yang eksplisit dipakai Ahok dalam pernyataan aslinya. (Kita nukil transkripnya: “jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu, gak bisa pilih saya, ya — dibohongin pake surat Al Maidah surat 51 macam-macam gitu lho. itu hak bapak ibu. ya. jadi kalo bapak ibu, perasaan, gak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gak papa.”)

Siapa “orang” yang dimaksud di situ? Ya, “orang”. Kata ini mengacu secara tidak tertentu (indefinite atau, istilah nahwunya, nakirah). Secara eksplisit, kalimat Ahok itu tidak memberi acuan secara khusus terhadap kata itu. Memberi rujukan spesifik terhadap kata “orang” di situ berarti telah menambahkan sesuatu yang tak diucapkan Ahok dalam pernyataan awalnya; telah mengubah kata yang sebelumnya nakirah menjadi ma’rifah.

Seperti MUI dalam “sikap keagamaan”-nya (dan bukan dalam bentuk fatwa sebagaimana lazimnya) yang menafsirkan bahwa kata “orang” di situ mengacu kepada “ulama”. MUI menyebut bahwa Ahok telah “menyatakan bohong terhadap ulama yang menyampaikan dalil surah al-Maidah ayat 51 tentang larangan menjadikan nonmuslim sebagai pemimpin” dan ini bagi MUI adalah “penghinaan terhadap ulama dan umat Islam.”

Klaim MUI ini telah menambahkan dua hal plus satu tafsiran yang tidak disebut eksplisit dalam pernyataan Ahok.

Satu, kata “orang” ditafsirkan-dispesifikkan menjadi “ulama”. Ketahuilah bahwa kalimat “dibohongi orang” berbeda maknanya dari “dibohongi ulama”. Dengan tanpa rujukan spesifik, kata “orang” bisa mengacu ke orang biasa yang bukan ulama. Sekali lagi, karena tak spesifik, melakukan spesifikasi adalah menambahkan hal yang tak disebut dalam pernyataan awalnya.

Dua, klaim MUI itu telah menafsirkan-menspesifikkan apa isi kebohongan yang diacu Ahok. Kalimat Ahok sendiri tak secara eksplisit menyatakan bahwa kebohongan yang dimaksudnya ialah tentang “larangan menjadikan nonmuslim sebagai pemimpin”. Simaklah transkrip Ahok itu: selain tidak ada kata “ulama”, bahkan tidak ada kata “pemimpin” di situ. Ahok juga hanya memakai kata kerja pasif, “dibohongin”, tanpa menyebut apa isi kebohongan yang dimaksud, setidaknya secara eksplisit.

Tiga, MUI telah menafsirkan bahwa “menyatakan bohong terhadap ulama” adalah “penghinaan terhadap ulama dan umat Islam.” Klaim ini bukan hanya telah menspesifikkan bahwa “orang” yang berbohong itu adalah “ulama” melainkan juga telah menggelembungkannya menjadi “penghinaan terhadap umat Islam”. Mari ingat lagi satu poin di awal tulisan ini: tidak mungkin seorang yang sedang mencalonkan diri akan dengan sengaja—sekali lagi, dengan sengaja—menghina mayoritas calon pemilihnya (dalam hal ini: “umat Islam”).

Tiga hal ini problematis. Untuk mengatasinya adalah dengan menentukan apa makna yang dirujuk dari kata “orang” dan apa isi kebohongan yang dimaksud Ahok dalam pernyataan Ahok itu. Cara mengatasinya setidaknya ada dua.

Satu, terutama untuk maksud kata “orang”, ialah dengan konfirmasi ke Ahok sendiri sebagai author dari ucapannya untuk mengetahui maksud aslinya. Juga apakah dalam benaknya saat itu ia mengacu ke ulama atau orang-orang lain dalam konteks yang lain (misalnya, seperti disebut Kapolri Tito Karnavian mengutip penasehat hukum Ahok: itu berkaitan dengan orang-orang yang menebar selebaran untuk menjegalnya dalam konteks pemilukada Belitung 2007).

Atau, dua, terutama untuk isi kebohongannya, ialah dengan melihat kalimat-kalimat lain dalam transkrip itu sebagai indikator (qarinah). Satu indikatornya ada di kalimat setelahnya: “jadi kalo bapak ibu, perasaan, gak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gak papa.”

Dengan berdasar pada kalimat ini, tafsir yang terdekat ialah bahwa isi kebohongan atau “pembodohan”-nya ialah kalau memilih Ahok akan masuk neraka, dan bukan “larangan menjadikan nonmuslim sebagai pemimpin”. Dua tafsir ini berbeda. Ahok tidak menafikan ada tafsir yang melarang nonmuslim sebagai pemimpin dan bahkan mempersilakan para pemilihnya kalau-kalau demi kenyamanan hatinya ingin mengadopsi tafsir itu—dengan indikator lagi dari kalimat “itu hak bapak ibu ya.” Ahok sadar ada tafsiran begitu, dan menyatakan bahwa mengadopsi tafsir semacam itu adalah “hak bapak ibu”, persisnya “bapak ibu” yang jadi audien dalam pidato di Kepulauan Seribu itu.

Tapi dengan tafsir bahwa “yang memilih Ahok akan masuk neraka”, implikasinya akan lain, karena untuk menentukan bahwa klaim semacam ini adalah kebohongan sesungguhnya bukan hal yang mudah.

Kebohongan, mari sepakati, ialah ketidaksesuaian antara pernyataan dan kenyataan. Cara menentukan sesuatu sebagai kebohongan ialah dengan memvalidasinya apakah ia sesuai dengan fakta. Dalam kasus pernyataan Ahok itu, fakta yang harus divalidasi ialah: apakah benar seorang Muslim akan masuk neraka karena memilih Ahok?

Fakta apakah seseorang akan masuk neraka, kita tahu, tidak bisa divalidasi saat ini, tapi nanti, di Hari Akhir, dengan Hakim-nya—bagi seorang Muslim—adalah Gusti Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan kalimat lain, untuk memvalidasi kebenaran klaim itu, seseorang harus melakukan konfirmasi—dan karena itu harus punya akses valid—terhadap-Nya. Apakah Antum, ayyuhal-ikhwah, bisa? Saya, yang tak perlu dihina pun sudah hina nan penuh dosa ini, tidak bisa.

Di samping itu, untuk Antum, terutama yang bekerja di bahwa institusi yang dipimpin oleh seorang yang tidak beragama Islam, jawablah dalam hati Antum pertanyaan ini: ada orang datang dan bilang kepada Antum bahwa Antum harus keluar dari pekerjaan di institusi tersebut karena pemimpin Antum tak beragama Islam dan karena itu, kalau Antum tidak keluar, maka Antum akan masuk neraka; bisakah orang ini disebut (tidak) berbohong? Saya tidak mau percaya dengan orang seperti ini.

Lagi pula, dengan proses hukum yang berjalan untuk Ahok saat ini, dan aturan hukum yang akan dipakai ialah pasal 156a KUHP tentang penodaan agama, penjelasan tafsir-tafsir di atas hanya berlaku jika dan hanya jika menyatakan “dibohongin orang” adalah sama dengan “menista Islam”.

Kalau mengikuti cara berpikir ini, menyatakan orang berbohong, sementara siapa orang yang dimaksud dan apa isi kebohongannya masih multitafsir, adalah sama dengan menista Islam? Orang Islam atau ulama = Islam? Na’udzubillah dari “logika” semacam ini.

Jadi, sebagai kesimpulan: kalimat Ahok itu mengandung ambiguitas untuk dinyatakan menista agama. Ia kabur sebagai basis bukti. Kekaburan bukti, baik dalam hukum Islam maupun hukum positif, tidak seharusnya menjadi dasar pemidanaan seseorang. Dalam hukum pidana Islam, kekaburan itu ialah syubhat. Satu legal maxim (kaidah fikih) dalam Islam berbunyi, “tudra’ al-hudud bis-syubuhat (hukuman pidana harus ditangguhkan jika dasar buktinya kabur).” Ini sama dengan asas in dubio pro reo dalam hukum positif: “jika terjadi keragu-raguan apakah terdakwa salah atau tidak, maka sebaiknya diberikan hal yang menguntungkan bagi terdakwa, yaitu dibebaskan dari dakwaan.” Kaidah fikih juga berbunyi: “al-khatha’ fil-‘afwi khairun minal-khatha’ fil-‘uqubah” (kesalahan dalam memaafkan/membebaskan lebih baik daripada kesalahan dalam menghukum). Ini hal yang sama belaka dengan adagium dalam hukum positif: “lebih baik salah membebaskan daripada salah menghukum.”

Terakhir, pasal di KUHP tentang penodaan agama itu bukan hanya pasal 156a. Pasal 156, yang berada tepat di atas 156a KUHP itu merujuk kepada siapa saja yang “di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia.” Dari sebagian pemimpin sebagian kelompok Islam ada yang sebenarnya jatuh dalam kategori yang dimaksud pasal 156 itu, bahkan dengan kalimat yang lebih sharih nan eksplisit dibanding Ahok. Maka bagi mereka yang memperjuangkan “supremasi hukum”, sudah seharusnya bukan hanya mengusut Ahok, melainkan juga orang-orang tertentu dari sebagian kelompok Islam itu. Seharusnya begitu. Seharusnya.

P.S. Menanggapi beberapa keberatan terhadap analogi yang dibuat mengenai kata “dibohongin pakai”, lanjutkan baca tulisan singkat ini: Lagi, Tentang Kata “Pakai”

Tagged: , , , ,

80 thoughts on “Ahok Tidak Menista al-Quran

  1. Monce 07/11/2016 pukul 07:53 Reply

    Ya syaikh, kalau boleh berkomentar, rasa-rasanya berbeda antara “dibohongi” dengan “makan”. Yang satu kata kerja pasif, yang satu kata kerja aktif. Mungkin perlu dicari padanan yang sejenis. Sebenarnya kalau kita memotong konteks: dipukuli rotan vs dipukuli pakai rotan terlihat artinya sama, tapi kalau dikembalikan ke konteks, baru terlihat berbeda.

    Suka

    • Azis Anwar 07/11/2016 pukul 08:04 Reply

      “Dimakan pakai tangan” beda dari “dimakan tangan”

      Suka

    • Kura koplak 07/11/2016 pukul 13:37 Reply

      Dipukuli rotan berarti rotan itu hidup dan bisa melakukan tindakan memukuli donk…. Beda jelas dg dipukuli pakai rotan, rotan hanya sbg alat memukuli.

      Begitu kura2

      Suka

    • Hendra 12/11/2016 pukul 09:14 Reply

      dipukuli rotan dan dipukuli pake rotan jelas berbeda. dipukuli rotan artinya yg melakukan pemukulan adalah rotan. dipukuli pake rotan artinya ada orang atau sesuatu yg memakai rotan untuk memukul.

      Suka

  2. LADAHITAM (@LiukliukRona) 07/11/2016 pukul 08:51 Reply

    beda pak monce dipukuli rotan sama dipukuli pakai rotan beda yg melakukannya kan harus ada ,yg make adalah oknumnya pengguna

    Suka

    • rifki 07/11/2016 pukul 10:06 Reply

      Tulisannya gak Apple to Apple..
      Penulis menunjukkan kedangkalannya dalam menyikapi..

      Kalau kata pembela Ahok.. Bernama nusron Purnama..
      Yg bisa menafsirkan perkataan nya ya Ahok sendiri..
      Silahkan tanya Ahok, apa klarifikasi nanti..

      Terakhir..
      Jika anda muslim anda termasuk golongan munafik dengan tulisan demikian..
      Kalau anda nasrani,, anda juga salah karena di kitab anda tidak boleh menghina agama lain..

      Pola pikir yg rusak,, akan di ketahui dari cari perlindungan subjek yg salah..

      Disukai oleh 1 orang

      • Azis Anwar 07/11/2016 pukul 10:35

        salam🙂

        Suka

      • keshabrot 07/11/2016 pukul 11:10

        Beri argumen dong, jgn bisanya bilang kamu munafik, kafir, sesat kalau ga sepaham

        Suka

      • Nasrullah 07/11/2016 pukul 15:33

        Mengomentari penulisnya dangkal tapi tidak bisa menunjukkan mana yang tampak dangkal, baca dengan pikiran jangan dengan hawa nafsu

        Suka

      • ombakhitam 07/11/2016 pukul 21:42

        Dr analisa ap yg anda gunakan untuk mengatakan tulisan ini dangkal.
        Jgn cm bisa bilang, cb kemukakan bgmna analisa anda?
        Apakah anda pkr bahasa atau pakar tafsir Quran jd bisa mngatakan tulisan diatas dangkal?

        Suka

      • prof.x 08/11/2016 pukul 00:02

        @rifki apakah ketua rt rw, lurah, camat, bupati, walikota, gubernur, dprd & segala macam perangkatnya di daerah anda sdh semua sama agamanya dgn anda ? kl belum kenapa anda tdk ribut smp demo ? … bila anda bekerja pd orang, apakah anda sdh periksa supervisor, manager, atasan, direktur & pemilik perusahaan sdh semua sama agamanya dgn anda ? kl belum kenapa anda tdk ribut smp demo ? … andaikan anda sdh menyampaikan pendapat tp pimpinan yg tdk seagama tsb tdk digeser jg, apakah anda sdh keluar dr tempat tsb krn tdk mau di berada di bawah kepemimpinan org yg tdk seagama ? … bila utk hal2 di tingkatan lebih bawah blm anda permasalahkan, kenapa tiba2 di tingkat pilkada anda jd ribut ? mau di tingkat apa pun yg namanya pimpinan ya pimpinan … ketidak konsisten an dlm menjalankan ( yg menurut anda ) perintah agama malah menunjukkan arti munafik yg sesungguhnya.

        Suka

      • mustofa 08/11/2016 pukul 14:06

        Ikut &;stuju….

        Suka

  3. oliviaarmasi 07/11/2016 pukul 10:48 Reply

    Mencerahkan…. salam

    Suka

  4. AlFauzan 07/11/2016 pukul 10:49 Reply

    Saya cuma pengen ngetawain orang yang ngomong penulis ini munafik,sekian 😂😂

    Disukai oleh 1 orang

    • Rusmin siagian 07/11/2016 pukul 11:47 Reply

      Pemimpin dan atasan tu berbeda.Klw kami bekerja dgn atasan non muslim.kami hanya berada di lingkungan pekerjaan.diluar itu tidak.apa yg kami lakukan tu ada keuntungan tuk perusahaan.dan perusahaan memberi gaji dr keuntungan yg telah kami beri pd perusahaan.ini tak lebih dr memberi dan menerima.

      Suka

      • Azis Anwar 07/11/2016 pukul 12:02

        kalau camat, bupati, dan menteri?

        Suka

      • AlFauzan 08/11/2016 pukul 16:20

        Ya memang tidak apple to apple. Silakan saja, ini hanya masalah pilihan tidak perlu dibesar2kan apalagi sampai terjadi perpecahan. Kalau suka ya dipilih, tidak suka ya tidak usah dipilih, gampang kok.. yang jelas semua warga negara sama kedududukannya didalam hukum

        Suka

      • AlFauzan 08/11/2016 pukul 19:59

        Setuju dg statement anda, silakan pilih pemimpin daerah sesuai dengan selera tanpa harus menghakimi karena setiap orang mempunyai hak yang sama. Damai Indonesia, keutuhan NKRI diatas segalanya.

        Suka

  5. reza 07/11/2016 pukul 12:31 Reply

    Buat yg maen nunafik2 aja. Mentri ada yg nasrani kok kalian gak protest ( jonan ESDM ) lebih central lgi urusannya Legislatif ada yg nasrani ( ruhut Sitompul ) kok gak protest. Coba jawab. Itu lbh penting lg urusannya DRI pada gubernur

    Suka

    • mustofa 08/11/2016 pukul 14:13 Reply

      Mereka gak melewati batas om kalo ahok jelas nerobos lampu merah sok2 an bawa2 al quran. Kalo yg mentri yg dpr sama2 sprti itu pasti kena masalah hukum juga.

      Suka

  6. Noor 07/11/2016 pukul 13:40 Reply

    Pemimpin Islam itu bukan gubernur, tapi ulama-ulama yang terpilih diantara kalian yg menuntun umatnya dalam keadilan.

    Pemimpin Islam juga bukan bos kita, tapi para ulama yg mengajarkan kebaikan dan ketaatan kepada Alloh SWT dan Nabiyulloh Muhammad Rasulullah SAW.

    Semoga umat Islam di Indonesia tidak seperti umat Islam di timur tengah yang hancur karena hal seperti ini

    Disukai oleh 1 orang

  7. jangkongblog 07/11/2016 pukul 13:48 Reply

    Padahal kalau mau mikir secara jernih pakai logika, kuncinya di bagian ini “Satu, tidak mungkin seseorang yang sedang mencalonkan diri untuk pemilu akan dengan sengaja—sekali lagi, dengan sengaja—menghina simbol sakral dari agama yang dipeluk mayoritas para calon pemilihnya, kecuali yang bersangkutan diam-diam berniat ingin kalah atau ingin dipidana.” Nggak usah di jelasin panjang lebar…
    Ya tapi tau sendiri sebagian orang kita itu logikanya seperti apa. Lha wong dukun pengganda uang aja banyak yg percaya kok.
    Heheuheuheuuuuu…

    Suka

  8. Alveindamar 07/11/2016 pukul 13:56 Reply

    Tulisan yang ditunggu-tunggu

    Disukai oleh 1 orang

  9. Nana Podungge 07/11/2016 pukul 14:15 Reply

    meninggalkan jejak🙂

    Suka

  10. kanziajzii28 07/11/2016 pukul 14:18 Reply

    Dibohongi pake Al-maidah 51 sama dibohongi Al-Maidah 51 ape bedanya?
    Konteksnya sama-sama menyatakan penistaan terhadap agama lain.
    Kalau Ahok gak ngerti agama Islam, jangan ngomongin tentang agama Islam.
    #jadikantersangka

    Suka

    • Yonathan Jene 07/11/2016 pukul 14:45 Reply

      Emm jelas beda lah pak, kalo di bohongi pake al-maidah 51 konteks nya jadi, yg orang melakukan pembohongan dgn ayatnya.. kalo dibohongi al-maidah 51 isi ayatnya yg bohong.. #respect.. koreksi yaa kalo salah..

      Suka

    • pijarwirastani 07/11/2016 pukul 16:40 Reply

      Berarti kalo “ditipu pake perempuan” sama “ditipu perempuan” sama dong artinya?

      Suka

    • ombakhitam 07/11/2016 pukul 21:46 Reply

      Beda

      Suka

  11. StingRay 07/11/2016 pukul 14:22 Reply

    SUPER SEKALI PAK. Sy doakan berkat dan karunia dilimpahkan Tuhanku kepadamu. JOSSS

    Suka

  12. dcandras 07/11/2016 pukul 14:25 Reply

    Tulisan yang bagus & mencerahkan. Semoga semua kembali menjadi baik-baik saja. amin

    Suka

  13. Sipemerhati Bunga (@MsiSubhan) 07/11/2016 pukul 14:52 Reply

    Simak kalimat ini…buniyani dikejar pake kuda,
    Buniyani dikejar kuda…
    Makna yg pertama buniyani dikejar oleh penunggang kuda, makna yg kedua adlah buniyani dikejar kuda…jika sakalnya msh sehat jelas memahami perbedaan dua kalimat trsbt

    Disukai oleh 1 orang

    • hamba allah 07/11/2016 pukul 15:40 Reply

      Konteksnya beda, jika ingin menggunakan analogi maka gunakan juga kata “dibohongi” dalam contoh analogi anda.

      Suka

      • keshabrot 07/11/2016 pukul 19:25

        Dibohongi “pakai” Uang (Berarti ada oknum/orang yg suka berbuat bohong dengan menggunakan UANG)

        Dibohongi Uang (UANG melakukan kebohongan)

        kira2 sama ga bro? Kalau ga paham juga, kayaknya perlu belajar bahasa indonesia lagi deh!!!

        Disukai oleh 1 orang

      • ombakhitam 07/11/2016 pukul 22:53

        Tetap aj sama intinya disini perubahan makna/arti dgn ada atau tdknya kata ‘pakai’ dlm kalimatnya. Jd gk slh menggunakan contoh dgn kata lain selain ‘dibohongin’.

        Suka

    • mustofa 08/11/2016 pukul 14:23 Reply

      analoginya tidak seperti itu salah kaprah itu. Ayat itu terdiri dari kalimat bahkan beberapa kalimat. Terus dalam islam menyampaikan al quran itu dapat pahala walaupun satu ayat.
      jadi dengan kata “PAKAI” atau tidak ahok udah jelas menyebutkan itu bohong / membohongi.

      Suka

      • ombakhitam 08/11/2016 pukul 16:19

        Ahok gk nyebut isi ayat itu, dia gk kutip isinya. Jd fokus itu pd kalimat ahok, bkn konten/isi kalimat dlm surat Al Maidah 51.

        Suka

  14. ABud 07/11/2016 pukul 14:54 Reply

    Hukuman bagi Penghina al-Qur’an di Masa Rasulullah SAW…

    Adalah di zaman Rasulullah saw ada seorang munafik bernama Abi
    Sarah yang ditugaskan untuk menulis wahyu. Abi Sarah berbalik
    menjadi murtad dan kafir, kemudian mengumumkan kemurtadannya
    terhadap Islam dan berbalik pada kelompok orang-orang kafir Quraisy
    di kota Makkah.

    Manakala Abi Sarah ditanya oleh para kafir musyrikin terhadap
    pengalamannya pernah diminta untuk menuliskan wahyu, dengan
    bangganya Abi Sarah mengatakan bahwa ternyata Nabi Muhammad
    itu dapat aku “bodohi”. Ketika dia mengimlakan kepadaku ayat [ﻋﺰﻳﺰ
    ﺣﻜﻴﻢ ] “Aziizun Hakim” aku justru menuliskan [ ﻋﻠﻴﻢ ﺣﻜﻴﻢ ] “Alimun
    Hakim” dan Muhammad mempercayainya begitu saja.

    Tentu saja lelucon Abi Sarah yang bermaksud menghinakan al-Qur’an
    sekaligus mencemooh nabi Muhammad Saw disambut gelak tawa
    kepuasaan pembenci Islam. Mereka seakan menganggap bahwa
    Rasulullah gampang dibodohi dan dibohongi hanya oleh seorang
    bernama Abi Sarah.

    Berita kebohongan yang disampaikan oleh Abi Sarah pun telah sampai
    ke telinga Rasulullah dan para sahabat. Apa yang terjadi kemudian?

    Apakah berita itu dianggap kabar angin saja? Ternyata tidak!

    Penghinaan dan penistaan terhadap kalamullah sekaligus Rasulullah
    Saw memiliki hukum tersendiri di dalam Islam.

    Beberapa tahun kemudian, ketika kekuatan umat Islam telah
    bertambah semakin kuat dan banyak hingga menyebar ke beberapa
    jazirah di negara Arab, ekspansi selanjutnya adalah menaklukkan kota
    Makkah yang lebih dikenal dengan istilah Fath Makkah.

    Ketika umat Islam telah berhasil menguasai kota Makkah, kaum kafir
    Quraisy menyerah tanpa syarat. Mereka tunduk atas segala ketentuan
    serta balasan terhadap permusuhan mereka terhadap kaum muslimin
    puluhan tahun yang lalu.
    Rasulullah Saw memaafkan segala bentuk kekerasan, kekejaman
    serta permusuhan kafir Quraisy Makkah. Namun, ada satu hal yang
    tidak terlupakan. Ingatan kaum muslimin terhadap penghinaan serta
    penistaan Islam yang pernah dilakukan seorang munafik bernama Abi
    Sarah tidak serta merta hilang begitu saja. Apa tindakan balasan atas
    penghinaan Abi Sarah terhadap al-Qur’an?

    Rasulullah saw dengan tegasnya memerintahkan para pasukan elit
    untuk mencari Abi Sarah serta beberapa orang yang melakukan
    penistaan yang sama, seperti Abdullah bin Hilal bin Khatal dan Miqyas
    bin Shubabah. Rasulullah saw menginstruksikan ketiga orang ini untuk
    dieksekusi mati sekalipun mereka bergantung di sisi Ka’bah.

    Dalam hal menyikapi para penebar fitnah penistaan agama, Islam tidak
    main-main. Para ulama sepakat bahwa hukuman bagi penghina al-
    Qur’an, maupun penghina Rasulullah Saw adalah hukuman eksekusi
    mati. Bahkan banyak para ulama yang menulis khusus kitab-kitab
    yang berkenaan dengan sanksi hukum bagi penghina al-Qur’an dan
    penghina Rasulullah Saw.

    Diantara kitab yang terkenal adalah karangan Imam as-Subki [683-756
    H] yang berjudul “As-Syaif al-Maslul ‘Ala Man Sabb ar-Rasul” [Pedang
    yang Terhunus atas Pencela Rasul] dan selanjutnya lebih dari 350
    tahun berikutnya seorang ahli muhadits Imam Muhammad Hasyim bin
    Abdul Gafhur [1104-11743 H] juga menulis sebuah kitab yang
    berjudul “as-Saif al-Jali ‘ala Man Sabb an-Nabi “ [Pedang yang Berkilat
    Atas Penghina Nabi].

    Sikap Para Ulama Terhadap Penghina al-Qur’an

    Para Ulama sepakat bahwa memuliakan dan mensucikan al-Quran
    adalah wajib. Karenanya, siapa saja kaum Muslim yang menghina al-
    Quran, berarti telah melakukan dosa besar, bahkan telah dinyatakan
    murtad dari Islam.

    Imam an-Nawawi, dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalah al-Qur’an,
    menyatakan: “Para ulama telah sepakat tentang kewajiban menjaga
    mushaf al-Quran dan memuliakan-nya. Para ulama Mazhab Syafii
    berkata, “Jika ada seorang Muslim melemparkan al-Quran ke tempat
    kotor maka dihukumi kafir (murtad).”

    Di antara penyebab kekufuran (murtad) bagi seorang Muslim adalah
    mencaci-maki dan menghinakan perkara yang diagungkan dalam
    agama, mencaci-maki Rasulullah saw, mencaci-maki malaikat serta
    menistakan mushaf al-Quran dan melemparkannya ke tempat yang
    kotor. Semua itu termasuk penyebab kekufuran (murtad).

    Al-Qadhi Iyadh pernah berkata, “Ketahuilah bahwa siapa saja yang
    meremehkan al-Quran, mushafnya atau bagian dari al-Quran, atau
    mencaci-maki al-Quran dan mushafnya, ia telah kafir (murtad)
    menurut ahli Ilmu.” (Asy-Syifa, II/1101).

    Dalam kitab Asna al-Mathalib dinyatakan, mazhab Syafii telah
    menegaskan bahwa orang yang sengaja menghina, baik secara verbal,
    lisan maupun dalam hati, kitab suci al-Quran atau hadis Nabi saw.
    dengan melempar mushaf atau kitab hadis di tempat kotor, maka
    dihukumi murtad.

    Dalam kitab Al-Fatawa al-Hindiyyah, mazhab Hanafi menyatakan,
    bahwa jika seseorang menginjakkan kakinya ke mushaf, dengan
    maksud menghinanya, maka dinyatakan murtad (kafir).
    Dalam Hasyiyah al-‘Adawi, mazhab Maliki menyatakan, meletakkan
    mushaf di tanah dengan tujuan menghina al-Quran dinyatakan murtad.

    Dalam kitab Al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah dinyatakan, ulama telah
    sepakat bahwa siapa saja yang menghina al-Quran, mushaf, satu
    bagian dari mushaf, atau mengingkari satu huruf darinya, atau
    mendustakan satu saja hukum atau informasi yang dinyatakannya,
    atau meragukan isinya, atau berusaha melecehkannya dengan
    tindakan tertentu, seperti melemparkannya di tempat-tempat kotor,
    maka dinyatakan kafir (murtad).

    Inilah hukum syariah yang disepakati oleh para fukaha dari berbagai
    mazhab, bahwa hukum menghina al-Quran jelas-jelas haram, apapun
    bentuknya, baik dengan membakar, merobek, melemparkan ke toilet
    maupun menafikan isi dan kebenaran ayat dan suratnya.

    Jika pelakunya Muslim, maka dengan tindakannya itu dia dinyatakan
    kafir (murtad). Jika dia non-Muslim, dan menjadi Ahli Dzimmah, maka
    dia dianggap menodai dzimmah- nya, dan bisa dijatuhi sanksi yang
    keras oleh negara.

    Jika dia non-Muslim dan bukan Ahli Dzimmah, tetapi Mu’ahad, maka
    tindakannya bisa merusakmu’ahadah-nya, dan negara bisa mengambil
    tindakan tegas kepadanya dan negaranya. Jika dia non-Muslim Ahli
    Harb, maka tindakannya itu bisa menjadi alasan bagi negara untuk
    memaklumkan perang terhadapnya dan negaranya.

    Karena itu, sanksinya pun berat. Orang Muslim yang menghina al-
    Quran akan dibunuh, karena telah dinyatakan murtad. Jika dia non-
    Muslim Ahli Dzimmah, maka dia harus dikenai ta’zir yang sangat
    berat, bisa dicabut dzimmah-nya, hingga sanksi hukuman mati.
    Bagi non-Muslim non-Ahli Dzimmah, maka negara wajib membuat
    perhitungan dengan negaranya, bahkan bisa dijadikan alasan Khalifah
    untuk memerangi negaranya, dengan alasan menjaga kehormatan dan
    kepentingan Islam dan kaum Muslim.

    Disebabkan negara kita menganut paham demokrasi yang berasas
    pada ketentuan hukum perundangan-undangan, maka sikap terbaik
    kita juga harus berdasarkan ketentuan perundangan yang berlaku di
    Indonesia sesuai dengan pasalUU No. 1/PNPS/1965 tentang
    Pencegahan
    Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama (“UU 1/
    PNPS/1965”). Pasal 1 UU 1/PNPS/1965 menyatakan:
    “Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan,
    menganjurkan dan mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan
    penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau
    melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-
    kegiatan keagamaan dari pokok-pokok ajaran agama itu.”

    Memang kita tidak seharusnya menunjukkan sikap emosional atau
    kekerasan. Bentuk kemarahan terhadap para penista agama atau
    penghina al-Qur’an dapat kita tunjukkan dari sikap anti-pati untuk tidak
    memilih pemimpin yang melakukan penistaan terhadap Islam. Dan
    ormas Islam harus mengambil sikap tegas melaporkan keberatan
    tersebut pada pihak yang berwajib sesuai dengan ketentuan
    perundangan yang berlaku.
    Semoga bermanfaat…

    Sumber:
    https://plus.google.com/…/fiEAFJiJi94

    Disukai oleh 1 orang

  15. Wahyulian 07/11/2016 pukul 15:35 Reply

    Karena negara ini demokratis, begitu katanya. Harusnya apapun pendapat org harus dihargai. Munafik atau tidaknya harusnya bukan menjadi urusan org lain. Karena menghakimi dlm bentuk apapun adalah salah. Negara ini dibangun azasnya Pancasila dan seperti yg disebutkan didalamnya Keadilan Sosial Bagi seluruh rakyat Indonesia. Ya, harus adil. Bukan mengadili. Berlaku jg utk penulis dan yg berkomentar. Hargai apapun pendapatnya. Karena semua punya otak dan cara pikir masing2. Entah saya setuju atau tidak. Ada benar dan salahnya. Yg jelas tulisan ini harusnya bisa mmbuka pikiran kita. Agar menerima sgla macam masukan, menyaring yg perlu dan tidak utk diterapkan. Hidup ini indah. Kadang memusingkan. Maka, jgn tambah lagi pusing yg lain

    Suka

  16. Hamba Allah 07/11/2016 pukul 15:37 Reply

    Sekedar ingin berbagi pendapat.
    Dua hal di dalam tulisan diatas yg menjadi dasar Ahok tidak menista Quran adalah 1.Ketidaksengajaan 2. Karena tidak ada kata “pakai”.
    Menurut pendapat saya :1. Orang yg tidak sengaja tetap bisa dihukum contoh: supir bis yg tidak sengaja menabrak orang lain sampai mati. 2.Inti dari ucapan Ahok bukan ada kata “pakai” atau tidak tapi ada di kata “dibohongi”, sehingga arah dari ucapan ahok tsb adalah negatif.

    Suka

    • ombakhitam 07/11/2016 pukul 21:57 Reply

      Beda konteks antara analogi yg anda sampaikan.
      1. Sopir bus yang menabrak org lain tanpa sengaja, jauh berbeda dgn kasus Ahok dlm hukum.
      2. Konsep “negatif” yg anda sampaikan disini juga mempunyai arti yg luas bisa jadi itu bukan ‘menisata’. Dlm bahasa apapun di dunia untuk analisa ttp harus memakai kalimat utuh.

      Suka

  17. Didik 07/11/2016 pukul 16:39 Reply

    Tapi tetap saya nggak akan pilih dia (Ahok)

    Suka

  18. apulianovic 07/11/2016 pukul 17:45 Reply

    Makan lauk…atau makan pakai lauk….makan nasai …atau makan pakai nasi….intinya kata terucap karena ada niat dalam hati….

    Suka

  19. sucahyono 07/11/2016 pukul 18:47 Reply

    Yang menjandikan orang di sebut ulama kyiai habib ustad itu siapakah?
    Mereka adalah ulama habib kyiai dan ustad juga yang jadikan seseorang dosen ya dosen juga
    Parameter ulama kyiai ustad dan habib ya sikap dan perilaku Rasulullaah
    Apakah parameter tersebut sudah terpenuhikah? Jangan sampai di luar itu kita menerima mentah2 apapun yang di katakan apapun yang di bilang fatwa dsb. Manusia di bekali akal pikiran karena untuk memperbaiki hidup bukan merusak hidup

    Suka

  20. Cep 07/11/2016 pukul 20:01 Reply

    Di bohongi pakai almaidah 51 n di bohongi almaidah 51 hakekatnya sama nistakan agama. Pendapat saya

    Suka

    • ombakhitam 07/11/2016 pukul 21:35 Reply

      Beda

      Suka

    • mustofa 08/11/2016 pukul 09:11 Reply

      Setuju…
      kalo kita ibaratkan ke benda atau mahluk artinya berbeda. Akan tetapi al maidah 51 itu adalah kalimat yg sudah terdiri S+P+O+K. Kalo non muslim gak bakal ngerti.

      Suka

      • ombakhitam 08/11/2016 pukul 16:46

        Mmg benar isi/konten surat Al Maidah 51, sdh terdiri dr SPOK. Tetapi ahok tdk pernah mengutip isi/konten surat Al Maidah 51 ini.
        Jadi yg fokus di telaah adalah kalimat yang diucapkan ahok saja bkn isi surat Al Maidah 51.

        Suka

      • mustofa 08/11/2016 pukul 17:07

        Justru itu yang jadi inti masalah. Makanya saya katakan kalo analogi anda ke benda tidak bakalan masuk. Intinya sprti ini ” dalam islam menyampaikan firman2 alloh itu dapat pahala meskipun satu ayat. Dan itu bisa disampaikan sama anak kecil kek orang jompo ulama , pemulung, miskin , kaya tetap dapat pahala.
        kalo di sana ada tujuan tertentu itu rahasia alloh yg maha tahu, tapi dengan menyampaikan ayat itu entah itu elit politik , pemulung, ulama atau siapapun adalah (tanpa/dg “pakai”) kebohongan atau di bohongi tetap artinya.
        Jika anda muslim pasti ngerti.

        Suka

      • ombakhitam 08/11/2016 pukul 22:16

        Terlalu jauh dr konteks, klo kita bicara tentang pahala. Iya ak tahu menyapaikan satu ayat firman Allah adalah pahala untuk kita.

        Ok klo mmg menurut anda analogi itu blm tepat, sekarang bs gk anda kasih contoh analogi yg tepat?
        Yg bukan benda atau mahluk sehingga kata ‘pakai’ tdk merubah makna klo dibuang.

        Suka

      • mustofa 09/11/2016 pukul 00:03

        Baiklah lebih jelasnya begini:
        Secara bahasa yg dikatakan ahok adalah kalimat pasif, dg kata di “DIBOHONGI” dlm struktur kalimat menjadi (predikat), sedangkan subjek secara langsung dalam kalimat ini tidak ada atau hilang, maka jika mengacu pada kalimat sblumnya yakni “JANGAN PERCAYA ORANG” yg jadi (subjek)nya si”ORANG” yg dalam kalimat ahok minta jangan di percaya. sedang bagian “PAKAI SURAT AL MAIDAH AYAT 51” adalah keterangan alat. Jadi dalam struktur kalimataktif “ORANG MEMBOHONGI ANDA MEMAKAI SURAT AL MAIDAH AYAT 51″
        fakta bahasa membuktikan al maidah ayat 51 adalah alat untuk berbohong.
        dan tanpa sadar para pembela ahok kata”PAKAI” di gunakan untuk mengelak justru lebih fatal melukai hati muslim di dunia.
        dalam kontek “AL MAIDAH ayat 51” kalam ini di “PAKAI” oleh seluruh “ORANG” islam di dunia. Mau sukunya apa mau bangsanya apa mau bahsanya sperti apa orang islam memAKAInya. Mau yg di cetak jaman penjajahan, jaman para wali atau jaman sekarng AL MAIDAH AYAT 51 itu ya itu, AL QUR’AN itu gak akan pernah ada edisi lama atau edisi baru.
        jadi sperti itu lh smoga abang bisa mengerti.

        Suka

      • ombakhitam 08/11/2016 pukul 22:32

        “Dibohongin pakai teori evolusi”
        “Dibohongin teori evolusi”

        dari kalimat di atas dpt ditarik kesimpulan:
        Yang pertama ada oknum yang menggunakan teori evolusi untuk kebohongan, yang kedua teori evolusinya yang bohong. Ini tetap berubah dlm makna/arti.
        Teori evolusi juga mengandung kalimat SPOK yg jelas “Spesies yang ada di jaman sekarang adalah hasil evolusi spesies purba”.

        Suka

      • ombakhitam 09/11/2016 pukul 10:28

        Ok saya faham. Kesimpulan anda sama dengan penulis artikel ini bahwa ad org yang menggunakan ayat tersebut untuk berbohong. “Orang membohongi anda memakai surat Al Maidah ayat 51” (ini kalimat pasif). “Anda dibohongi org pakai surat Al-Maidah ayat 51” (aktif).
        Kesimpulan lain juga bisa diambil dr konteks di atas bahwa ayat tersebut benar hanya orang yang menggunakannya yang salah berati tidak ada unsur penghinaan terhadap ayat tersebut.
        Ini berbeda dengan konteks “orang dibohongin surat Al Maidah ayat 51” (pasif). “Jangan mau anda dibohongin surat Al Maidah ayat 51” (aktif). ini kesimpulannya ayat itu salah dan merupakan penghinaan telak.
        Kesimpulan ada kesimpulan umum dan kesimpulan spesifik. kesimpulan umum mngkan anda mengatakan bahwa kedua kalimat itu sama makna, tetapi dlm kesimpulan spesifik kalimat tersebut mempunyai makna yg berbeda. Itulah kenapa untuk memutuskan apa kalimat tersebut mengandung unsur penghinaan harus dikaji secara spesifik oleh ahli bahasa, ahli tafsir Quran & Hadist, dll. Agar kesimpulan yg diperoleh benar2 akurat.

        Suka

  21. Faza 07/11/2016 pukul 20:51 Reply

    Makan pakai sendok, makan sendok

    Suka

    • ombakhitam 07/11/2016 pukul 22:20 Reply

      Hahahaha…. yg pertama org yg kedua mesin daur ulang …..

      Suka

  22. ombakhitam 07/11/2016 pukul 21:34 Reply

    Analisa yg baik, mf bkn untuk membela ahok tp lebih untuk kesatuan NKRI.
    Sy sgt sependapat dgn penulis bahwa jgn serta merta lgs buat pernyataan tanpa analisa yg akurat krn ini lebih ke masalah bahasa dan konteks kalimat (mski dr segi tafsir Quran ttp di telaah). Bkn hanya terpaku pd kata ‘bohong dan neraka’ aja tetapi hrus simak konteks secara utuh.

    Tunjukan kita bangsa yang cerdas punya akal pikiran dan bukan tipe bangsa yg bisa di colok hidungnya lalu ngikut aja tanpa berfikir.

    Jangan pernah mau untuk “dibodohi!”.

    Salam NKRI!

    Suka

  23. Ricky 07/11/2016 pukul 21:44 Reply

    saya cuma mau menambahkan,

    “jangan percaya” yang diucapkan Ahok maksudnya bukan “jangan percaya kepada orang yang pakai ayat”,
    “jangan percaya” yang diucapkan Ahok maksudnya adalah “jangan percaya kepada orang yang mengatakan nanti kalo Ahok ngga kepilih, pasti program (budi daya ikan) nya bubar”

    kalau soal ayat, silahkan percaya, itu maksud Ahok

    Disukai oleh 1 orang

  24. Suga 07/11/2016 pukul 22:00 Reply

    Hihihi jadi ingat lagi pelajaran waktu sekolah dasar bagaimana membuat kalimat yg baik dan benar.
    Masih ingat S + P + O + K ???
    Sy coba cuplik kalimat “dibohongin pake surat Al Maidah…..”.
    S = Bapak ibu (yg diajak bicara)
    P = dibohongi
    O = tidak eksplisit ada di kalimat ini (kalo melihat kalimat sebelumnya menunjukkan kata ‘orang’.
    K = Surat Al Maidah…….
    Kenapa ‘surat al maidah’ menjadi K(keterangan) bukan O(objek)??
    Kenapa O(objek) nya adalah ‘orang’ bukan ‘surat al maidah’??
    Jawabannya adalah krn ada kata “pake”

    Jelas kalimat ini sangat berbeda arti kalo tanpa kata “pake”. Maka yg jd O(objek) adalah Surat Al Maidah.

    Semoga bisa menambahkan pemahaman tentang bahasa, bukan malah bingung.
    Kalo malah bingung bisa mengulang ke Sekolah Dasar. Hihihi

    Mari berfikiran positif thd segala hal di dunia.
    Krn kalo sudah berfikir negatif atau ada unsur like and disslike. Mau dikata ada orang kasih kopi, pasti akan timbul pikiran curiga kopi campur sianida. Hidup tak akan tenang. Salut buat penulis.

    Disukai oleh 1 orang

  25. hidup 08/11/2016 pukul 00:46 Reply

    dan ingatlah saya juga akan tegaskan … bahwa manusia juga tempatnya khilaf .. walau ahok tak berniat sperti komentar saudara.. tapi ke khilafan ahok ini fatal.. jika dia berniat merangkul pemilih KENAPA SAMPAI BERKATA DEMIKIAN DAN BAWA BAWA AYAT ALQUR’AN SEMENTARA DIA SENDIRI KRISTEN …. OTOMATIS JELAS TUJUANNYA BUKAN SEKEDAR KALIMAT BIASA PASTI ADA MAKSUD TERTENTU…

    Suka

    • ombakhitam 08/11/2016 pukul 10:45 Reply

      Sy setuju dengan anda mmg ini satu kehilafan yg fatal dan sangat disayangkan.
      Tp menurut saya ini mmg langkah ahok untuk menyadarkan pemilih bahwa ada org2 yg memanfaatkan ayat2 dlm Al Quran untuk sarana kampanye dengan tujuan menjatuhkan lawan politiknya.
      Harus jujur kita akui ini mmg sering terjadi dan bukan hanya saat ini.
      Dan menurut pendapat sy, bahwa mmg ahok mempunyai sedikit pengetahuan tentang surah Al Maidah 51 yang memiliki tafsir bebeda dari ‘terjemahannya’ dlm bahasa Indonesia untuk kata ‘awliya’. Karena kata ‘pimpinan’ di sini meskipun dlm bahasa Indonesia juga memiliki makna luas bkn sekedar pimpinan daerah, negara. karena ulama, imam, termasuk suami juga ‘pimpinan’ jadi yg paling tepat adalah mengembalikan pada konteks awal ayat tersebut.

      Suka

      • ombakhitam 08/11/2016 pukul 11:31

        Demokrasi Indonesia sdh mengimplikasikan kata ‘pimpinan’ ini dgn benar. Pemerintah mempunyai wakil (pimpinan) dlm pemutusan perkara yg berhubungan dengan keagamaan dr masing2 agama itu sendiri.
        Ada pengadilan agama, ada KUA, dll dan setiap yg berhub dgn agama. Ini konsep ‘pimpinan’ itu.

        Contoh juga di negara Yordania, presiden dr non muslim, tp untuk yg muslim mereka punya ‘pimpinan’ di pemerintah.

        Inilah konsep ‘pimpinan’ yg berhubungan lgs dgn agama.

        Suka

  26. muhammad zar'an anwar 08/11/2016 pukul 10:49 Reply

    mohon dijawab siapa “orang” yang dimaksud sebagai subjek “pembohong”, dalam kalimat ahok yang bicara “dibohongin pake surat Al Maidah surat 51 ”

    seperti halnya anda bisa menafsirkan niat ahok seperti yang anda tulis pada paragraf kedua tulisan sampeyan ini, saya kutip ya :

    “Satu, tidak mungkin seseorang yang sedang mencalonkan diri untuk pemilu akan dengan sengaja—sekali lagi, dengan sengaja—menghina simbol sakral dari agama yang dipeluk mayoritas para calon pemilihnya, kecuali yang bersangkutan diam-diam berniat ingin kalah atau ingin dipidana. Unsur kesengajaan ini perlu digarisbawahi, karena ia menentukan penjatuhan status tindak pidana.”

    1. Untuk tulisan anda pada paragraf kedua diatas…. selain kesengajaan, unsur kelalaian bisa membawa seseorang untuk di pidana….

    2, Arah “subyek” itu jelas telah mengarah kepada orang-orang tertentu (kalangan agamawan islam… ) dan menjadi gamblang KALO AHOK JUJUR…. siapa yang dia tuju….

    2. Bagaimana mungkin seseorang bisa berbohong dengan menggunakan “Al-Qur’an” yang bagi saya itu adalah rujukan utama untuk mencari kebenaran. saya yakin juga bagi anda mas azis anwar fachrudin (cahaya kebanggaan agama yang mulia) kecuali dia mengubah ato membelokkan tafsir Al-Qur’an itu…..

    monggo, kasih contoh gimana cara berbohong pake Al-Qur’an ?

    Disukai oleh 1 orang

  27. Aji 08/11/2016 pukul 12:11 Reply

    saya bukan membela ahok juga bukan mengidolakan dia
    cuma saya berfikir secara cerdas seandainya benar ahok menista agama mayoritas muslim secara sengaja berarti sama-halnya dia bunuh diri untuk kalah menjadi kandidat calon gubernur berikutnya.

    saya sering memperhatikan bahwa dia ini orangya lurus, tegas, jujur dan apa adanya.
    dia sedang giat-giatnya memberantas korupsi di Jakarta.

    Disukai oleh 1 orang

  28. Mas Ngguh 08/11/2016 pukul 15:53 Reply

    @Muhammad Zafr’an Anwar, contohnya ada beberapa. Yang paling fenomenal adalah jaman PKI dulu di Orde Lama. Mereka mengolok-olok orang Islam yang sholat karena menurut mereka, bukankah dibilang bahwa “celakalah orang yang sholat?” dalam al Qur’an? Itu ayat surah al Ma’un, bukan?

    Suka

  29. Mas Ngguh 08/11/2016 pukul 15:56 Reply

    Dan….ada juga yang bilang ulama menipu pakai alQur’an lho…
    https://m.youtube.com/watch?v=CdKtG9eA51A Dia ngomong ada ulama nipu pake ayat nipu pake hadis….

    Suka

    • mustofa 08/11/2016 pukul 17:48 Reply

      Mas ngguh… saya yakin mas bukan muslim.celakalah orang yg solat. (Terusin dong) yg solatnya sperti apa…
      sama halnya yg di maksud menipu dg al quran dan hadis contoh: seorang kiai atau ulama mengutip ayat al quran “dirikan solat dan tunaikan zakat” tapi dia tidak melaksankan solat juga zakat. Itu bisa jg disebut menipu dg al quran dan hadits. Intinya kalo ingin paham islam belajar dulu islam itu apa…. saya juga yakin mas pun gak ngerti apa yg di sebut al hadits…

      Suka

      • ombakhitam 08/11/2016 pukul 22:55

        Maaf contoh yg anda sebutkan itu lebih tepatnya ‘munafik’, untuk kata ‘menipu’ sinonim dgn ‘membodohi’.

        Suka

  30. Ahoy 08/11/2016 pukul 20:03 Reply

    Ribet amat Kata intinya “Dibohongin” gk perlu pnjelasan PAKAI sendok PAKAI piring.. ntar PAKAI kuali ama kompor sekalian Masak day..wkwkwk

    Suka

  31. dlarr man 09/11/2016 pukul 02:55 Reply

    klw boleh komen lebih berat dong klw ada kata pakai

    Suka

    • mustofa 09/11/2016 pukul 07:52 Reply

      Iya lah dengan menggunakan “PAKAI” berati menyebut stiap muslim. Karna stiap muslim lah yg menggunakan AL QUR’AN. Jadi dobel perkaranya ,kalo tanpa “PAKAI” mungkin bisa di alihkan pada pentafsiran.
      satu2nya jalan adalah ahok bilang ini ke tidak sengajaan/spontanitas tapi sayang itu dalam pidato , mana mungkin lagi cagub pidatonya tidak di konsep dulu.

      Suka

      • ombakhitam 09/11/2016 pukul 10:38

        Saya lihat kesimpulan anda terlalu skeptis.
        Bisa jelasin lebih spesifik gk bagaimana kata “pakai” itu menyebut setiap muslim. tetap pke konteks kalimat lah klo mau mengambil kesimpulan.

        Suka

      • mustofa 09/11/2016 pukul 16:13

        Itu sudah sangat2 spespik “yang pakai al quran itu orang islam, stiap orang islam pakai al quran. Stiap al quran ada surat al maidah, surat al maidah ada di stiap al quran.

        Itu udah sangat jelas . Tidak mungkin gagal faham .

        Suka

  32. Abu janda 10/11/2016 pukul 22:45 Reply

    Tulisannya bagus. Trus skrng yg jadi pertanyaan, bagaimana “counter” sikap keagamaan MUI yg telah menjadi rujukan aksi demo 411?

    Suka

  33. hasanah 12/11/2016 pukul 09:29 Reply

    Gua siiihhh lebihh piliihh para ulamaa dan para habaib sbagai pewaris para nabi…jelaaaassss

    Rela mati demii alQuran dan agama Allah

    Suka

  34. Arjuna Wiwaha 13/11/2016 pukul 18:25 Reply

    Rizieq bilang ada ulama yg nipu pakai Quran dan Hadist Nabi, berarti memang ada kan penipu modus agama gitu? Bukan agamanya yg salah tapi modus pelaku utk mendapatkan keuntungan diri sendiri atau kelompoknya. Keuntungan itu bisa berupa kekuasaan, uang, dll. Pelajari sejarah juga pasti ketemu org-org macam ini. Ahok tidak salah.

    Suka

  35. sujarwo 16/11/2016 pukul 00:52 Reply

    setuju

    Suka

  36. muslim taat 17/11/2016 pukul 18:15 Reply

    pejabat yang disumpah dibawah kitab suci, lalu korupsi, apakah tidak termasuk menistakan agama, malah bisa bisa jg termasuk menistakan tuhannya juga.

    Suka

  37. Fitrah 18/11/2016 pukul 15:46 Reply

    tiba-tiba seluruh rakyat negeri ini menjadi ahli bahasa..menjadi ahli tafsir..menjadi ahli kitab..tp sisi baiknya setiap orang khususnya muslim jadi tau kalo didalam Al-Quran ada surat yg bernama Al-Maidah.
    hanya masalah UCAPAN seseorang yg di”politisasi” berakibat jutaan orang meresponsnya dengan kalap dan mengabaikan akal sehat.
    Padahal setiap hari selalu terjadi penistaan agama dan Al-Quran,bahkan melakukannya bukan cuma sekedar dengan ucapan,tapi dengan kesadaran perbuatan,,apakah kita tidak pernah berfikir?????
    saya akan beri sedikit contoh.:

    bukankah kita mengaku muslim (bagi yg beragama Islam)?
    bukankah muslim memiliki kitab suci yg bernama Al-Qur’an?
    bukankah Al_Qur’an itu berisi firman2 Allah SwT,yg kita yakini secara mutlak kebenarannya?
    bukankah Al-Qur’an itu berisi perintah2 Allah sekaligus juga berisi larangan2 Allah?

    jika mengaku muslim,mari kita tanya kedalam hati kita masing2,
    perintah Allah yg mana yg ada didalam Al-Quran yg tidak kita kerjakan? ADAKAH?
    larangan Allah yg mana yg ada didalam Al-Quran yg tidak kita tinggalkan? ADAKAH?

    jika jawabannya “ADA” !!!!
    bukankah kita sudah mengingkari kebenaran Al-Quran?
    bukankah kita sudah berbuat nista terhadap firman Allah yg maha benar itu?
    karena kita sudah mengabaikan sesuatu yg kita yakini dan imani ke-maha benaran-nya.

    setiap kita selalu pernah melakukan kesalahan,baik besar maupun kecil.karena sudah menjadi fitrahnya manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan.

    akan lebih baik jika kita memperbanyak istighfar agar negeri ini terhindar dari segala bencana,dan mendoakan pemimpin kita menjadi pemimpin yg amanah agar kita semua terlepas dari adzab Allah.
    dan yg tak kalah pentingnya,,jangan pernah merasa diri paling benar!!!

    …semoga Allah tidak memasukkan diriku kedalam golongan orang-orang yg berbuat dzolim.

    Suka

  38. dewantosinurat 21/11/2016 pukul 07:22 Reply

    Pada dasarnya maksud Ahok jangan mau di politisasi pakai agama

    Suka

  39. Siapa kita 05/12/2016 pukul 15:23 Reply

    Sungguh menyedih kan… Yang di perjuangkan ‘ketidak adilan’ lebih menyedihkan yg tidak tau di ajak ‘ikut’..
    Ada ‘orang’ yang tau bahwa diri nya akan menjadi salah dimata ‘orang – orang’ karena yang demikian itu tidak lah demikian, tidak berani mengatakan kalau ternyata ‘tidak demikian’ karena ‘orang’ itu tau bakal salah di mata ‘orang – orang’ akan berakibat akan merusak ‘Reputasi’ nya sebagai ‘orang’..
    Hanya dunia? Pertanggung jawaban ‘orang’ akan sangat berat kelak di kehidupan setelah kematian dimana yang ‘hasil’ yang di bawa yang ‘ikut’ akan di terima ‘orang’..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s