Lagi, Tentang Kata “Pakai”

Tulisan ini adalah lanjutan tulisan sebelumnya, Ahok Tidak Menista al-Quran

***

Hingga saat ini, setidaknya dari yang sudah saya temui, ada dua bentuk keberatan dari kalangan yang bersikukuh bahwa Ahok tetaplah menista al-Quran sekalipun ada kata “pakai” dalam pernyataanya.

Pertama, analogi yang dipakai seharusnya sama-sama dengan kalimat pasif. Dalam postingan di atas, misalnya, analoginya adalah “makan pakai tangan” dan “makan tangan”.

Keberatan ini mudah dipatahkan. Yah, tinggal diganti saja dengan kata kerja pasif: “dimakan pakai tangan” dan “dimakan tangan”. Gampang, to? Maknanya sama saja. Karena titik tengkarnya bukan pada kata kerjanya aktif atau pasif, tapi pada siapa subjeknya antara dengan “pakai” dan tanpa “pakai”. Mau dibuat aktif (“makan pakai tangan”) atau pasif (“dimakan pakai tangan”), selama ada kata pakai di situ, maka kata setelah pakai tetap berfungsi sebagai alat, bukan subjeknya.

Kedua, bahwa meski sudah ada kata “pakai”, kalimat itu tetap berarti bahwa al-Quran menjadi alat pembohongan, dan ini menghina al-Quran. Yang problematis dalam keberatan ini ialah: dari statemen “al-Quran menjadi alat untuk berbohong” tiba-tiba meloncat pada kesimpulan “menghina al-Quran”.

Mari tidak menutup mata: ada orang-orang yang dengan al-Quran telah menjadikannya alat untuk membenarkan kebencian, kekerasan, bahkan pembunuhan terhadap orang lain yang dianggapnya menyimpang, sesat, kafir, dan semacamnya. Tapi kita juga fair: ada orang-orang yang dengan al-Quran telah menjadikannya sebagai alat yang menginspirasinya untuk menebar keadilan dan cinta.

Sebagai alat, ia netral saja. Yang menggunakan alat itulah, yang menjadikan baik atau buruk.

Analoginya: pisau bisa menjadi alat untuk membunuh, tapi juga bisa menjadi alat untuk memasak. Media sosial bisa menjadi alat untuk menyebar dusta dan fitnah, tapi juga bisa menjadi alat untuk melakukan advokasi atas nama keadilan dan perdamaian. Yang membuat pisau dan media sosial ini bernilai baik atau buruk tergantung pada penggunanya. Alat tidak bisa bergerak independen; ia bergerak dengan digerakkan penggunanya.

Analogi ini tidak bisa diterima karena pisau dan media sosial bukan sebuah teks seperti al-Quran? Baik, kita ambil analogi yang lebih dekat. Misalnya, hadis.

Orang bisa memakai hadis yang menyatakan bahwa perempuan itu nilai akal dan agamanya setengah untuk merendahkan perempuan. Tapi orang juga bisa memakai hadis yang menyebut ibu tiga kali berbanding ayah yang cuma sekali sebagai dalil untuk menghormati perempuan karena perempuan adalah dari “kaum ibumu”.

Atau, langsung saja analoginya dengan ayat al-Quran. Orang bisa menjadikan al-Quran sebagai alat untuk membenarkan potong tangan untuk pencuri, cambuk 100 kali untuk pezina, atau—seperti ayat “hirabah” yang disebut oleh Wasekjen MUI di sebuah acara TV—agar para penista Islam “dibunuh, disalib, dipotong tangan-kakinya, atau diusir.” Tapi orang juga bisa menjadikan al-Quran sebagai alat untuk meyakinkan umat Islam bahwa, meski ada ayat-ayat tersebut, syariah tidak boleh lepas dari porosnya, yaitu keadilan (al-‘adl atau al-qisth).

Al-Quran juga bisa dipakai untuk meyakinkan umat Islam bahwa, meski ada perintah yang secara sekilas tampak memerintahkan untuk berhukum dengan hukum Islam (yang lalu ditafsirkan secara formal bahwa negara harus juga negara Islam), al-Quran juga memerintahkan untuk menepati janji; bahwa kita bersepakat, negara ini didirikan untuk “semua buat semua”, bersendikan “bhinneka tunggal ika”, dengan konstitusi yang berasaskan prinsip kesetaraan warga negara tanpa memandang agamanya.

Jadi, sekali lagi, sebagai alat, ia netral: tidak bernilai baik atau buruk. Yang menggunakan alat itu yang menjadikannya baik atau buruk. Al-Quran menjadi “alat kebaikan” karena “pemakainya” menggunakannya untuk menebar kebaikan. Al-Quran menjadi “alat keburukan” karena “pemakainya” menggunakannya untuk menebar keburukan.

Yang seperti ini belum memahamkan? Baiklah saya nukilkan terakhir pernyataan terkenal, yang terekam antara lain dalam Tarikh at-Thabari, dari Ali ibn Abi Thalib terhadap orang Khawarij yang mengafirkan khalifah keempat itu sebab tidak mau berhukum dengan al-Quran. Beliau, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad shallallahu ‘alayh wa sallam itu, berkata:

“Hadza al-Quran innama huwa khatthun masthurun bayna daffatayn; la yanthiq wainnama yatakallamu bihi ar-rijal”

Artinya: “Al-Quran ini hanyalah tulisan yang terbubuhkan di antara dua sampul; ia tidak bicara; orang (penafsirnyalah) yang berbicara atas namanya.”

Perhatikanlah kalimat itu, Ali ibn Abi Thalib memberikan atribusi terhadap al-Quran sebagai “hanya tulisan” dan “tidak bicara”. Pernyataan itu, sesuai dengan pandangan di atas, menjadikan al-Quran sebagai alat, yang nilai baik atau buruk tergantung pada “penafsir yang berbicara atas namanya.”

Begitulah. Analogi-analogi di atas semoga cukup. Kalau tidak cukup, maka tiada yang bisa kita lakukan kecuali tawakkal saja. Barangkali untuk bisa memahamkan yang bersangkutan sudah berada di luar batas kemampuan kita

Tagged: , ,

7 thoughts on “Lagi, Tentang Kata “Pakai”

  1. Inge 07/11/2016 pukul 18:26 Reply

    Kasihan Ahock ,sedih melihat nya

    Suka

  2. danisandiegohills 07/11/2016 pukul 19:27 Reply

    Mencerahkan sekali tulisannya. Trm kasih teman..

    Disukai oleh 1 orang

  3. ombakhitam 08/11/2016 pukul 00:06 Reply

    Sebenarnya inti dr pemahaman yg harus kita tekankan adalah “makna/arti” dr kalimat tersebut dengan ada atau tdknya kata “pakai”.
    Jadi tdk ada masalah meski dlm contoh yg digunakan itu kata kerja pasif atau aktif atau bukan kata “dibohongin”.
    Juga yg harus difahami adalah menggunakan kalimat secara utuh bkn hanya kata “dibohongin” atau “neraka” saja untuk membenarkan kalimat itu suatu yg negatif.

    Oleh karena itu alangkah baiknya kalau semua ditelaah dengan baik terlebih dahulu.

    Disukai oleh 1 orang

  4. mustofa 08/11/2016 pukul 13:33 Reply

    Jika mas azis benar muslim pasti tau:
    1.menyampaikan ayat suci al quran bagi muslimbwalaupun satu ayat itu dapat pahala. Apakah mereka pembohong ?
    2.kalo pake analogi jangan ke benda atau kata kerja. Coba deh kalo bener muslim nih langsung aja al maidah ayat 51 tersebut ganti dengan terjemahan ayat tersebut .insya alloh ngerti…
    3. Yg pasti ahok jelas2 menerobos lampu mereh dia bukan muslim. Bukan juga dia berbicara di hadapan orang2 yg beda agama sama dia. Tapi kalo di hadapan umat yg seluruhnya satu agama sama dia, saya yakin dia akan dapat tepuktangan bukan nya masalah hukum seperti ini.

    Suka

  5. Mas Ngguh 08/11/2016 pukul 16:07 Reply

    @Mustofa, Habib Riziqe juga bilang koq, ada yang berbohong pakai alQur’an, pakai hadist. Anda mau menghukumi dia juga? https://m.youtube.com/watch?v=CdKtG9eA51A Dia ngomong ada ulama nipu pake ayat nipu pake hadis….

    Suka

  6. muslim taat 17/11/2016 pukul 18:20 Reply

    menggandakan uang oleh yang sedang ramai belakang ini, pelaku kenggunakan kedok statusnya. artinya menggunakan status pribadinya dipakai untuk menipu orang

    Suka

  7. Ryan 26/11/2016 pukul 11:14 Reply

    Simple question dari tulisan di atas, makan tangan = dimakan tangan ???

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s